ivo@setyadi:~$ ivo.blogspot.com

# catatan teknis, sejak 2001

AnyLanguageModel 1.0, Library Swift untuk Inference Lintas Backend

Mattt bersama tim Hugging Face merilis AnyLanguageModel versi 1.0, sebuah library Swift yang berfungsi sebagai pengganti langsung untuk framework Foundation Models milik Apple. Cukup dengan mengubah satu baris impor, kita dapat beralih antara model sistem perangkat, runtime lokal seperti MLX dan llama.cpp, serta hosted API menggunakan kode sesi yang sama persis. Library ini juga menyertakan dukungan untuk guided generation, streaming tool calls, dan pengunduhan model melalui paket pendukung. Pustaka ini sangat layak dicoba jika Anda sedang mengembangkan aplikasi Swift dan ingin bereksperimen dengan local weights atau mengabstraksi berbagai inference backend tanpa menulis ulang logika sesi. Kekurangannya, pengelolaan memori untuk open-weight model pada perangkat keras pengguna masih cukup rumit, dan penggunaan wrapper pihak ketiga ini membuat layer inference terikat langsung dengan ekosistem Hugging Face. sumber: huggingface.co/anylanguagemodel-1-0 my other side: setyadi.com

Testimoni Hakim tentang Dunia Peradilan: Wani Piro?

2012-08-10 · #Indonesia #Kliping

http://news.detik.com/read/2012/08/09/182328/1987632/10/testimoni-hakim-tentang-dunia-peradilan-wani-piro%22 
-- 

Kamis, 09/08/2012 18:29 WIB

Testimoni Hakim tentang Dunia Peradilan: Wani Piro?

Andi Saputra - detikNews
Jakarta Harapan masyarakat terhadap lembaga peradilan sebagai benteng terakhir pencari keadilan belum sepenuhnya terpenuhi. Salah satunya karena faktor banyaknya mafia hukum. Hal ini diakui oleh hakim Pengadilan Agama Kota Baru, Kalimantan Selatan, Achmad Fauzi.

"Memang tidak semua penegak hukum (bermain), tapi tidak bisa dipungkiri itu memang masih ada," kata Fauzi saat berbincang dengan detikcom, Kamis (9/8/2012).

Kegundahan hati Fauzi dituangkan dalam sebuah buku berjudul 'Pergulatan Hukum di Negeri Wani Piro'. Meski sebagai hakim, dia tidak risih mengakui jika di institusinya masih ada jual beli perkara.

"Ini sebagai otokritik bagi lembaga peradilan sebab selama ini banyak yang risih dengan dirinya sendiri," papar Fauzi.

Buku terbitan Leutikaprio yang berpusat di Yogyakarta ini, memiliki tebal 145 halaman dan berisi kumpulan artikel Fauzi yang terserak di berbagai media massa. Kemudian dikumpulkan berdasarkan tema yang senada hingga akhirnya menghasilkan tiga pokok pembahasan.

Bab I buku tersebut menyoroti problem pemberantasan korupsi. Bab II menelaah ekspektasi publik terhadap integritas dan kualitas hakim yang membumbung tinggi. Bab III menyajikan berbagai problematika hukum keluarga dan aspek hukum lainnya. Termasuk skeptisisme pelaku ekonomi terhadap kapabilitas hakim agama dalam menangani sengketa ekonomi syariah.

Buku ini telah diluncurkan di internal lembaga peradilan agama dalam rangka memperingati 130 tahun hari jadi Pengadilan Agama beberapa waktu lalu.

"Saat bicara permasalahan perkara di pengadilan, maka orang akan berpikir, wani piro?" ujar Fauzi.
"Kosakata wani piro itu untuk menggambarkan takaran harga diri hukum juga autokritik terhadap penegak hukum supaya introspeksi sebelum dikoreksi oleh publik," tandas Fauzi.
'Wani Piro' atau yang berarti 'Berani Bayar Berapa' selama ini menjadi sindiran di kalangan penegak hukum. Belakangan juga menjadi tagline iklan rokok yang wira-wiri tayang di televisi.


(asp/nrl) 

$ cd ~/

$ cat comments/ (0)