Halloween pacifier?
2003-12-03 · #Hiburan
HALOWEEN pacifier?
Terbukti, memelas, kecebur
"Kenapa kamu berhenti dari pekerjaan terakhirmu?"
"Boss saya menuduh saya mencuri uang perusahaan."
"Kenapa tidak kau suruh dia membuktikannya?"
"Sudah. Ternyata dia bisa."
MEMELAS
Seorang anak berlari menemui ibunya di dapur.
Anak : "Bu, minta uang."
Ibu : "Buat apa?"
Anak : "Itu, di depan rumah ada orang yang berteriak memelas."
Ibu : "Apa teriakannya?"
Anak : "Bakso, Bakso!"
TIDAK MELIHAT
"Apakah Saudara tidak melihat lampu merah?" tanya seorang polisi kepada seorang pengendara motor.
"Saya lihat, Pak."
"Lalu kenapa Saudara tidak berhenti?"
"Saya tidak melihat Bapak."
KECEBUR
Anak : "Bu, dari tadi si Ima nangis terus, nggak mau berhenti."
Ibu : "Ini Rp 500,-. Kasih ke dia buat jajan. Bilang, jangan nangis lagi."
Anak : "Percuma, Bu.. Dia nggak bakal mau diam."
Ibu : "Dasar anak nakal. Di mana sih dia sekarang?"
Anak : "Di dalam sumur."
KETAHUAN
Seorang anak yang mencuri mangga kepergok si empunya pohon.
Pemilik : "Hei, sedang apa kami di atas situ?"
Anak : "Anu, Pak. Cari layang-layang."
Pemilik : "Buat apa?"
Anak : (Tambah gugup) "Eh, buat bikin rujak, Pak."
Cinta tak selalu berwujud bunga
2003-11-09 · #Kliping #Renungan
Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen.
Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian. "Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan" Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?".
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."
Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan....
"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."
Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.
"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."
"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.".
"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu."
"Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami."
"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."
"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".
"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku."
"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu."
"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu, aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.
"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu."
"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu.
Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.".
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.
Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".
Isteriku tetap yang paling cantik
2003-10-16 · #Kliping #Renungan
Isteriku Tetap Yang Paling Cantik
eramuslim - Pukul 4.05, alert di hpku membangunkan. Ia ikut bangun. Padahal, aku tahu baru pukul 23.30 ia bisa tidur setelah berjibaku dengan kerjanya, kerja rumah tangga, urusan dua anakku, dan mengurusi aku sebagai suami. Belum lagi, pukul 01.15 terbangun untuk sebuah interupsi.
Ups, rupanya ia lupa menyetrika baju kantorku. Aku mandi, shalat lail dan shalat subuh. ia selesai pula menyelesaikan itu. Plus, satu stel pakaian kerjaku telah siap.
Aku siap berangkat. Ah, ada yang tertinggal rupanya. AKu lupa memandangi wajahnya pagi ini. "Nda, kamu cantik sekali hari ini," kataku memuji.
Ia tersenyum. "Bang tebak sudah berapa lama kita menikah?" Aku tergagap sebentar. Melongo. Lho, koq nanya itu. hatiku membatin. Aku berhenti sebentar dan menghitung sudah berapa lama kami bersama. Karena, perasaanku baru kemarin aku datang ke rumahnya bersama ust. Bambang untuk meminangnya."Lho, baru kemarin aku datang untuk meminta kamu jadi istriku dan aku nyatakan ‘aku terima nikahnya Herlinda Novita Rahayu binti Didi Sugardhi’ dengan mas kawin sebagaimana tersebut tunai." Kataku cuek sembari mengaduk kopi hangat rasa cinta dan perhatian darinya.
Ia tertawa. Wuih, manis sekali. Mungkin, bila kopi yang aku sruput tak perlu gula. Cukuplah pandangi wajahnya. "Kita sudah delapan tahun Bang." Katanya memberikan tas kerjaku.
"Aku berangkat yah, assalamualaikum," kataku bergeming dari kalimat terakhir yang ia ajukan.
Aku buru-buru. "Hati-hati yah dijalan." Sejatinya, aku ingin ngobrol terus. sayang, KRL tak bisa menunggu dan pukul 7.00 aku harus sudah stand by di ruang studio sebuah stasiun radio di Jakarta.
Aku di jalan bersama sejumlah perasaan. Ada sesuatu yang hilang. Mungkin benar kata Dewa, separuh nafasku hilang saat kau tidak bersamaku. kembali wajahnya menguntit seperti hantu. Hm, cantiknya istriku. Sayang, waktu tidak berpihak kepadaku untuk lebih lama menikmatinya.
Sekilas, menyelinap dedaunan kehidupan delapan tahun lalu. Ketika tarbiyah menyentuh dan menanamkan ke hati sebuah tekad untuk menyempurnakan Dien. Bahwa Allah akan memberikan pertolongan. Bahwa rezeki akan datang walau tak selembar pun kerja kugeluti saat itu. Bahwa tak masalah menerapkan prinsip 3K (Kuliah, Kerja, Kawin).
Sungguh, kala itu kupikir hanya wanita bodoh saja yang mau menerimaku, seorang jejaka tanpa harapan dan masa depan. Tanpa kerja dan orang tua mapan. Tanpa selembar modal ijazah sarjana yang saat itu sedang kukejar. Tanpa dukungan dari keluarga besar untuk menanggung biaya-biaya operasional.
Dan, ternyata benar. Kuliahnya dan kuliahku bernasib serupa. Berantakan. Waktuku habis tersita untuk mengais lembar demi lembar rezeki yang halal. Sementara ia harus merelakan kuliahnya di sebuah perguruan tinggi negeri untuk si Abang, anakku.
Kehidupan harus terus berjalan. Kutarik segepok udara untuk mengisi paru-paruku. Kurasakan syukur mendalam. Walau tanpa kerja dan orang tua mapan, ‘kapal’ku terus berlabuh. Bahkan, kini sudah mengarung lebih stabil dibanding dua dan tiga tahun pertama.
Ternyata, memang benar Allah akan menjamin rezeki seorang yang menikah. Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak terduga. Walaupun tetap semua janji itu muncul dengan sunatullah, kerja keras. Kerja keras itu terasa nikmat dengan doa dan dampingan seorang wanita yang rela dan ikhlas menjadi istriku.
Namun, aku tahu wajah cantik istri ku mungkin akan memudar dengan segala kesibukan, mempersiapkan makanan untuk si Abang dan Ade yang mau berangkat sekolah, mempersiapkan tugas-tugas untuk pekerjaanya, belum lagi mengurusi tetek bengek rumah tangga. Kelelahan seolah menggeser kecantikan dan kesegarannya. Untunglah, saat aku pulang, ia bisa mengembalikan semua keceriaan itu dengan seulas senyum yang menyelinap dibalik penat dan kelelahan.
Istriku cantik sekali pagi ini. Maafkan aku tak bisa menemanimu. Namun, doa dan ridhaku selalu bersamamu.
Sayangku,kumohon dekat di sini
temani jasadku yang belum mati
Aku melayang
(~Dewa)
Disadur dari eramuslim
The hills are alive with the sound of music
2003-09-26 · #Puisi & Lirik
The hills are alive with the sound of music
With songs they have sung for a thousand years
The hills fill my heart with the sound of music
My heart wants to sing every song it hears
My heart wants to beat like the wings of the birds
that rise from the lake to the trees
My heart wants to sigh like a chime that flies
from a church on a breeze
To laugh like a brook when it trips and falls over
stones on its way
To sing through the night like a lark who is learning to pray
I go to the hills when my heart is lonely
I know I will hear what I've heard before
My heart will be blessed with the sound of music
And I'll sing once more
One Voice
2003-09-25 · #Puisi & Lirik
Just One Voice,
Singing in the darkness,
All it takes is One Voice,
Singing so they hear what's on your mind,
And when you look around you'll find
There's more than One Voice,
Singing in the darkness,
Joining with your One Voice,
Each and every note another octave,
Hands are joined and fears unlocked,
If only One Voice would start it on its own,
We need just One Voice facing the unknown,
And that One Voice would never be alone,
It takes that One Voice.
Ba ba ba da da da da,
Ba ba ba ba ba ba da da da,
Ba ba ba ba ba,
It takes that One Voice.
Just One Voice
Singing in the darkness,
All it takes is One Voice,
Shout it out and let it ring.
Just One Voice,
It takes that One Voice,
And everyone will sing!
Somewhere over the rainbow
2003-09-24 · #Puisi & Lirik
Somewhere over the rainbow, way up high
In the land that I heard of once, once in a lullaby.
Somewhere over the rainbow, skies are blue
And the dreams that you dare to dream really do come true.
She doesn't have legs, but she can run
2003-09-18 · #Sains
Mirror mirror on the wall
2003-07-26 · #Catatan Pribadi
mirror mirror on the wall
who's the fairest one, of all?
you my princess.
you're the fairest one, of all!
The barber who believed that God doesn't exist
2003-06-24 · #Kliping #Renungan
A man went to a barber shop to have his hair and his beard cut as always.
He started to have a good conversation with the barber who attended him. They talked about so many things and various subjects. Suddenly, they touched the subject of God. The barber said: "Look man, I don't believe that God exists as you say so."
"Why do you say that?" - Asked the client.
"Well, it's so easy, you just have to go out in the street to realize that God does not exist. Oh, tell me, if God existed, would there be so many sick people? Would there be abandoned children? If God existed, there would be no suffering nor pain. I can't think of a God who permits all of these things."
The client stopped for a moment thinking but he didn't want to respond so as to prevent an argument.
The barber finished his job and the client went out of the shop. Just after he left the barber shop he saw a man in the street with a long hair and beard (it seems that it had been a long time since he had his cut and he looked so untidy).
Then the client again entered the barber shop and he said to the barber: "Know what? Barbers do not exist."
"How come they don't exist?"-asked the barber. "Well I am here and I am a barber."
"No!" - the client exclaimed. "They don't exist because if they did there would be no people with long hair and beard like that man who walks in the street."
"Ah, barbers do exist, what happens is that people do not come to me."
"Exactly!"- affirmed the client. "That's the point. God does exist, what happens is people don't go to Him and do not look for Him that's why there's so much pain and suffering in the world."
Light sabers from Park Sabers
2003-06-04 · #Hiburan
Exciting collectibles. Light Sabers. It even can be used for a real sword fight. Made from a durable material. Interested? visit Park Sabers.
SARS genetic code identified
2003-04-15 · #Kesehatan #Kliping #Sains
SARS Genetic Code Identified
By Laurie Garrett
STAFF WRITER
April 15, 2003
Two laboratories in the United States and Canada have figured out the complete genetic code of the virus suspected of causing the respiratory disorder SARS, a step essential to developing diagnostic tests and treatments.
The findings are remarkable because of their speed - by comparison, it took nearly three years to find the virus that causes AIDS and another two years to determine its full genetic sequence - and their almost letter-for-letter similarity. The CDC's genomic sequence is longer than the Canadians' by only 15 genetic letters, or nucleotides - a mere blip in the virus' total of 29,736 nucleotides. The makeup of a virus is expected to vary slightly by geographic region. But coupled with optimism that the finding can serve as a road map for developing diagnostic tests, drug development and a vaccine is the continuing mystery: The virus is completely different from any known animal or human pathogen, and public health authorities are unable to conjecture where or how it originated.
It has been presumed that the SARS virus mutated from one that infects animals. But both teams concluded that it bears no resemblance to any known human or animal virus, and actually constitutes its own subclass within the coronavirus family.
"We need to go to China [where the outbreak began] and really do the shoe-leather detective work to find out who were the first cases, where did they go, what did they do," and with what animals might they have been in contact, Dr. Julie Gerberding, director of the national Centers for Disease Control and Prevention said yesterday.
She characterized the decoding of the virus as "tremendously exciting," especially because it was accomplished in 31 days. "It's a scientific achievement that I don't think has ever been paralleled in human history."
The CDC's announcement came on the heels of the weekend's genetic sequencing announcement from the British Columbia Cancer Agency in Vancouver. Though researchers the world over are collaborating in efforts to control SARS - to date it has caused 3,169 cases, 144 of them fatal - there was a competitive breathlessness to the Canadian and CDC reports.
The determination of whether the virus actually causes SARS must await identification of an animal that can be infected with the virus. So far, researchers have not been able to infect and produce the disease in animals. Gerberding indicated yesterday that a lab in the Netherlands may soon have promising results in primates.
Labs in Hong Kong, Japan and Europe are working on their own genetic sequences of the virus, and those findings are expected to shed light on geographic differences, perhaps addressing the issue of "super-spreaders" - people who are so contagious that they seem to infect everybody with whom they come in contact. In Singapore, for example, 60 SARS cases are linked to two wards of Singapore General Hospital. Yesterday the Ministry of Health said the outbreak started with a 90-year-old Chinese woman who passed her infection on to her nursing home attendant. The elderly woman died; the attendant and two other family members are hospitalized. Nearly everyone on the two wards who came within a few feet of the elderly woman later developed the disease.
In Britain, authorities confirmed recently that a man who waited for his plane at Heathrow Airport in London apparently caught SARS from a stranger seated near him in the waiting area. The stranger had traveled from Hong Kong.
Copyright © 2003, Newsday, Inc.
7 Iraqis killed in checkpoint tragedy
7 Iraqis Killed In Checkpoint Tragedy
March 31, 2003
(CBS/AP)
"It was the most horrible thing I've ever seen, and I hope I never see it again."
Sgt. Mario Manzano
(CBS) U.S. troops killed at least seven Iraqi women and children at a checkpoint Monday when the Iraqis' van would not stop as ordered, U.S. Central Command said.
Two other civilians were wounded at a U.S. Army checkpoint on a highway near Najaf in southern Iraq, according to a Pentagon official and a Central Command statement. The military is investigating, the statement said.
The soldiers involved were from the 3rd Infantry Division, the same unit that lost four soldiers at a checkpoint near Najaf Saturday when an Iraqi soldier dressed as a civilian detonated a car bomb.
The seven dead and two wounded on Monday were among 13 women and children in a van that approached the checkpoint but did not stop, according to the Central Command statement.
It said soldiers motioned for the driver to stop but were ignored. The soldiers then fired warning shots, which also were ignored. They then shot into the vehicle's engine, but the van continued moving toward the checkpoint, according to the statement.
The Washington Post offered an account of the tragedy that suggested no warning shots were fired. The newspaper said Army Capt. Ronny Johnson urgently called for warning shots to be fired as the van approached the checkpoint, but that there was no apparent response from his troops.
Finally, Johnson ordered his troops to open fire on the vehicle, which proved to be packed with women and children.
The Post said that after viewing the carnage through binoculars, Johnson said to his platoon leader: "You just [expletive] killed a family because you didn't fire a warning shot soon enough!"
"It was the most horrible thing I've ever seen, and I hope I never see it again," Sgt. Mario Manzano, 26, an Army medic later told the Post. Manzano said one of the women sat in the van holding the mangled bodies of two of her children. "She didn't want to get out of the car," he told the newspaper.
Central Command said initial reports indicated the soldiers followed the rules of engagement to protect themselves. "In light of recent terrorist attacks by the Iraqi regime, the solders exercised considerable restraint to avoid the unnecessary loss of life," the statement said.
© MMIII, CBS Broadcasting Inc. All Rights Reserved. This material may not be published, broadcast, rewritten, or redistributed. The Associated Press contributed to this report.
The Indonesian War of Independence
2003-03-20 · #Indonesia #Kliping
The first skirmishes were directed against the Japanese troops that occupied Java in August 1945. The surrender terms imposed on Japan required that her troops in occupied areas maintain order until the arrival of Allied units. In September British forces arrived to disarm and replace the Japanese, and the task of holding the Indies went to them. They fought the first big battle of the war at Surabaya in November 1945, expelling the nationalists from that east Javan city. Incidentally, this was the last time that Indian soldiers served in combat under the British flag. There was some apprehension among the British that the Indians might refuse to fire on fellow Asians, since they also wanted independence from the West. The Indian soldiers, however, had seen enough attacks and excesses from the Indonesians to remain loyal to their commanders.
Gradually the Dutch returned to take back the islands they had owned for centuries. It didn't take long for them to realize that reconquering the archipelago would be no easy task, since the Indonesian nationalist army was much larger than their own; the current poverty of the war-ravaged Netherlands did not make it any easier. The Dutch did have some factors in their favor, though. Most of the Indonesians had little or no military experience; their morale and discipline were less than reliable. Often individual militants would commit atrocities that embarrassed Sukarno in his negotiations. The Indonesians also had a problem with infighting between the communist, socialist, moderate, and Islamic factions within their movement. Because of this, the Dutch concluded that they could win the war by keeping the natives divided.
The Dutch won the first battles they took part in, driving the nationalists out of key Javan cities like Batavia and Bandung. Sukarno was forced to move his headquarters to Yogyakarta, where it remained for the rest of the war. As the same time, however, the Dutch came under international pressure to negotiate some kind of peace agreement before the last British forces were withdrawn. The result was the Linggadjati Agreement, completed in November 1946 and signed the following March. It called for the creation of three states, known collectively as the United States of Indonesia. One of the states would be Java, Sumatra and Madura, ruled by Sukarno's republican government. Borneo would become the second state, while the rest of the islands would form a third, with the capital on Bali.(1) Dutch property rights would be protected, and Sukarno's forces would have the responsibility of keeping the peace in their territory. The three states would be loosely tied to the Netherlands in a commonwealth-type relationship, with the Dutch crown as the ultimate head of state over all of them. The Dutch claimed that the system was designed to give fair treatment to the peoples of the outer islands, since they would resent being part of a Javan-dominated state. There was some truth to this, but the real reason was to quarantine Sukarno's revolution, confining it to the three islands where it already existed and thereby keeping the less politically developed outer islands safe from infection. If the plan worked right, the Dutch would keep some power over the islands indefinitely.
The agreement only lasted for four months. When the Indonesians failed to control lawlessness in republican territory, the Dutch saw an excuse to intervene. In July 1947 the Dutch invaded, capturing two thirds of Java and the richest sections of Sumatra. But the campaign solved nothing. Indonesian units continued to roam throughout the countryside and never ceased partisan warfare. More important was the effect on the rest of the world. Batavia called the operation a "police action," but it was denounced abroad as colonialist aggression. The fledgling United Nations called for a cease-fire and more negotiations, and the two sides met on the U.S. destroyer Renville. In January 1948 they came up with a new agreement that was much like the first one, except that this time the areas conquered by the Dutch would get to vote on whether or not they wanted to join Sukarno's republic. Of course this agreement was no more viable than the Linggadjati one; from the beginning both sides prepared for more conflict. The Dutch placed friendly regimes in the areas they controlled, and blockaded what remained of the republic.
Pressure on the republic increased from the inside as well. In February 1948 22,000 Indonesian troops were moved from mostly Dutch-held western Java to republican central Java. A number of Moslem guerrillas, however, remained behind, united under the leadership of a local mystic, S. M. Kartosuwirjo. Feeling betrayed by the republic, Kartosuwirjo proclaimed himself imam or head of a new state called Darul Islam (from the Arabic dar al-Islam, meaning the land or world of Islam). In May he raised the banner of revolt against both the Dutch and the republic. Since the Dutch were the main enemy, the republicans had to ignore this Far Eastern ayatollah for the time being; the fundamentalists in the republican army were wishing him luck anyway. After independence Darul Islam became no different from a crime wave of banditry, extortion and terrorism on a grand scale. As a regional rebellion it survived until Kartosuwirjo was captured and executed in 1962.
In 1948 Sukarno looked for help from sympathetic foreign governments, and he found it, thanks to bad planning on the part of the communists. The Indonesian Communist Party (PKI) tried to gain control of the revolution by recruiting members of other parties, hungry victims of the Dutch blockade, and irregular soldiers to their cause. In September 1948 they launched a coup against Sukarno in the central Javan city of Madiun, and failed miserably. No peasant uprising was touched off; the military, which at first seemed to waver between Sukarno and the PKI, mostly sided with the republicans. In a matter of days, the Madiun rebels were driven into the mountains, to be captured or killed later.
The Madiun rebellion could not have come at a better time, from Sukarno's point of view. Before this time many foreigners feared that the Indonesian struggle for independence was coming under communist domination. Since the cold war was now fully underway, the Dutch played this up, claiming that in Indonesia the choice was not simply between Dutch and native rule, but also between democracy and communism. What happened at Madiun cleansed Sukarno of the red taint; by crushing the PKI he now became a legitimate moderate nationalist in the eyes of Westerners. After this foreign opinion, particularly that of the United States, tended to favor the republicans.
The third and last round of fighting in the war broke out in December 1948. Sensing that time was running out for them, the Dutch launched a lightning attack on Yogyakarta that captured the republican capital and most of its leaders, including Sukarno. By the end of the year all major republican towns were in Dutch hands. The only area still completely controlled by the nationalists was Acheh, in northwest Sumatra; the Dutch still remembered the Acheh War (see chapter 4), and felt it was wise to stay out of there. The whole campaign looked like an easy victory, but it turned out to be a political catastrophe. The Indonesian public gave next to no cooperation, the captive republican leaders refused to call on their forces to quit fighting, and guerrillas continued to harass Dutch units at every opportunity. World opinion was outraged by the Dutch action. The UN Security Council demanded an immediate cease-fire and the release of the republicans. Even more important was the pressure from the United States, which threatened to cut off all postwar economic aid to the Netherlands unless the Dutch negotiated in good faith with their subjects. The diplomatic blackmail succeeded. By July 1949 Yogyakarta was back in republican hands, and negotiations began in The Hague one month later. On December 27, 1949, independence came to the Republic of the United States of Indonesia (RUSI).
The agreement that ended nearly three and a half centuries of Dutch rule did have some concessions in it, though. The multi-state system favored by the Dutch was preserved, as well as several agreements that promoted Dutch-Indonesian cooperation. Two thirds of Indonesia's foreign trade remained under the control of Dutch businesses. The Netherlands got to keep the western half of New Guinea because the stone-age tribes living there were not hostile to foreign rule. But the agreement remained intact for only eight months. Sukarno was so popular all around that most of the smaller federal states dissolved themselves into the republic. The Christian, pro-Dutch island of Amboina tried to proclaim an independent South Moluccan state, which was crushed by Sukarno's troops. In August 1950 the entire government of the RUSI was declared unworkable, swept away, and replaced by a unitary regime, the Republic of Indonesia, with Batavia, now renamed Jakarta, as the capital. The Dutch-Indonesian unity under the Netherlands crown never became a reality. And the New Guinea question would be reactivated by Dutch-Indonesian quarreling a decade later.
FOOTNOTES
1. The third state was to be called Negara Indonesia Timur, or the "State of East Indonesia"; opponents of the plan joked that the initials N.I.T. really stood for Negara Ikut Tuan, or "the state that goes along with the master."
© Copyright 2000 Charles Kimball
Seeing double: Haider and Saddam's doubles
Now it seems Haider didn't meet Saddam after all. According to the Austrian news magazine Format, German forensic law professor Dieter Buhmann claims that Haider merely met one of Saddam's doubles. Buhmann says that he has done extensive research on video footage of Saddam Hussein, and his results have shown that there are at least three doubles of Saddam, surgically altered to look like him. Haider was apparently not important enough to be met by the real
But wait! Take another look at this picture. Maybe the person on the left isn't Jörg Haider at all. Maybe Haider felt that Saddam wasn't all that important and therefore sent one of his own doubles. Or maybe we'll soon hear a press release from the Freedom Party that Haider wasn't really in Iraq, in fact somebody else sent a Haider double to Iraq to discredit him. Haider double meets Saddam double. The possibilities are endless...
Berjuang untuk hidup
2003-02-28 · #Kliping #Renungan
Berjuang untuk Hidup
Waktu Mike lahir, ayahnya, Fonso, dipenjarakan karena mengedarkan obat. Ibu Mike, Cheryl, yang berusia lima belas tahun, keluar dari sekolah untuk menafkahi bayinya. "Tanpa kau, kehidupanku tak akan begini," begitu katanya pada Mike berkali-kali. Perasaan bersalah inilah yang membuat Mike tetap mendampinginya. selama tahun-tahun yang menyeramkan.
Fonso dibebaskan dari penjara saat Mike berusia empat tahun, tapi bukannya kearnanan yang dibawa veteran Vietnam setinggi 195 cm dengan berat 135 kg ini, melainkan rasa takut baru dalam kehidupan Mike. Fonso mengidap masalah psikologis yang parah, dan sikap disiplinnya mengkhawatirkan. Untuk kesalahan ringan, seperti menutup pintu terlalu keras, ia memaksa Mike melakukan pushup berjarn-jam. Kalau anak kecil itu tak tahan lagi, ayahnya memukulnya. Begitu fanatiknya pendirian Fonso mengenai pergi bersekolah, sehingga Cheryl harus menyembunyikan Mike di lemari kalau anak itu sakit.
Mungkin ada firasat buruk yang mendorong Fonso untuk bersikap keras pada anaknya dan mengajarinya supaya dapat mengandalkan diri sendiri jauh sebelum waktunya. Mike baru delapan tahun saat ayahnya dibunuh dalam perkelahian dengan seorang pengedar obat.
Dalam semalam, perlindungan dan nafkah yang disediakan Fonso lenyap. Artinya, Cheryl yang berusia dua puluh empat tahun harus kembali lagi ke jalanan, dan sekarang ia dibebani tiga anak: Mike; Raf, empat tahun; dan Amber, satu tahun. Hidup mereka sulit dan pahit, dan ada seorang anak lagi yang akan lahir.
Tak lama kemudian Cheryl membawa pulang Marcel, pecandu kokain yang menteror keluarga itu lebih parah daripada Fonso. Saat Mike dengan lugu menanyakan apa yang dilakukan Marcel terhadap upah Cheryl sebagai pekerja transit, Marcel mematahkan rahang anak itu sehingga harus diberi kawat untuk membetulkan letaknya.
Tak lama kemudian Marcel membuat Cheryl kecanduan kokain, dan keduanya akan tenggelam dalam pengaruh minuman keras. Mula-mula mereka mengunci anak-anak di lemari, tapi pada akhirnya hanya meninggalkan mereka sendirian, setiap kali selama berminggu-minggu. Cheryl meyakinkan Mike bahwa jika ada orang yang tahu apa yang terjadi, anak-anak akan terpisah dan dikirim ke rumah asuh. Mengingat pesan ayahnya yang galak agar ia menjadi "lelaki," anak berusia delapan tahun itu menjadi sangat memperhatikan perlunya menjaga keutuhan keluarganya, apa pun yang terjadi.
Agar tak ada orang yang curiga, Mike mulai membersihkan apartemennya sendiri, mencuci pakaian dengan tangan, memberi makan, mengganti popok, dan memandikan adik-adiknya. Ia menjadi pemulung di toko kelontong untuk mendapatkan sisir, botol, dan pakaian, apa pun yang mampu mereka beli, dan menyembunyikan ketidak-hadiran ibunya dengan berbagai dalih. Cheryl dan Marcel tidak ragu-ragu menjual semua barang keluarga untuk membeli kokain-bahkan uang untuk biaya sewa rumah dan makanan anak-anak pun mereka gunakan. Saat situasi keuangan menjadi sangat memprihatinkan, Mike diam-diam berhenti sekolah pada usia sembilan tahun untuk menafkahi keluarganya sendiri. la membersihkan halaman, mengangkut barang dari truk dan toko minuman, selalu bekerja sebelum subuh atau di malam hari supaya adik-adiknya tidak sendirian saat mereka bangun.
Dengan bertambah lama dan bertambah parahnya kecanduan minuman keras dan semakin seringnya Cheryl dan Marcel tidak ada, maka saat mereka ada, mereka semakin kasar. Sedemikian parah kecanduannya sehingga Cheryl meninggalkan Marcel saat obat milik Marcel habis. Cheryl kemudian berteman dengan orang yang punya lebih banyak obat. Marcel yang berang melampiaskan amarahnya di apartemen kumuh itu, menyiksa dan menteror anak-anak supaya mereka memberitahukan tempat penyembunyian uang atau tempat ibu mereka berada.
Suatu malam, Marcel memasukkan adik Mike yang berusia dua tahun ke dalam kantong plastik dan menutupnya erat-erat. Tanpa udara, mata balita itu melotot dan kulitnya membiru. "Di mana ibumu?" seru pecandu itu. Sambil menangis, Mike dan Raf cilik berusia lima tahun menyerang Marcel berulang-ulang, memukul punggungnya dengan kepalan yang kecil dan tidak berarti. Karena marahnya, Mike akhirnya mengigit leher Marcel, sambil berharap agar si penyiksa kejam itu. melepaskan kantong plastik itu dan ganti memukulnya. Rencananya berhasil Martel berputar dan melemparkan Mike ke jendela, membuatnya terluka kena kepingan kaca dan tangannya patah.
Orangtua Cheryl, Mabel dan Otis Bradley, sangat mencintai cucu-cucu mereka, tapi mereka bekerja sepanjang hari dan tinggal di tempat yang hanya bisa dicapai dengan berganti bus beberapa kali, dan hanya dapat menjenguk sekali-sekali. Karena merasakan bahwa keluarga itu dalam kesulitan, Mabel mengirim mainan, pakaian, dan popok, dan tak pernah menduga bahwa popok pun dijual oleh Cheryl untuk membeli obat. Meskipun Mabel selalu bisa dihubungi melalui telepon dan menyediakan cinta tanpa pamrih sehingga menjadi satu-satunya jangkar bagi Mike, Mike tidak berani menceritakan masalah yang dihadapinya. Ia takut neneknya yang lembut akan mendapat serangan jantung jika tahu keadaan sesungguhnya-atau lebih buruk, dikasari oleh Marcel
Keluarga ini terpaksa selalu berpindah-pindah, tidur di bioskop, di dalam mobil rongsokan, dan bahkan di tempat kejahatan. Mike mencuci pakaian mereka di toilet umurn dan memasak dengan piring pemanas berapi tunggal. Pada akhirnya, Cheryl dan Marcel selalu berhasil menemukan mereka.
Meskipun berpindah-pindah, Mike bersikeras agar adik-adiknya bersekolah, mendapat nilai baik, dan menjadi warga teladan. Bagi teman sekelas, guru, dan bahkan nenek mereka, anak-anak itu selalu tampak normal, dirawat dengan baik, dan bahagia. Tak ada yang menyangka bagaimana hidup mereka atau bahwa mereka dibesarkan oleh seorang anak. Entah bagaimana Mike bisa berhasil menganut niat baik dari ayahnya yang galak dan memadukannya dengan teladan kasih neneknya, sehingga dalam dirinya terbentuk sistem nilai yang unik. Ia sangat mencintai keluarganya, dan adik-adiknya mempercayai dirinya. "Kau tak harus berakhir di jalanan," katanya kepada mereka. "Lihat bagaimana Ibu? Jangan memakai obat!" Diam-diam ia takut kalau-kalau ibunya suatu hari menggelepar keracunan obat di depan mereka.
Selama beberapa tahun berikutnya, Cheryl sering dipenjara karena memiliki dan menjual narkotika dan melakukan kejahatan lain, dan kadang-kadang dipenjarakan hingga setahun. Di luar penjara, ia terus melahirkan anak-anak lagi, membuat situasi keuangan keluarga ini semakin kritis. Sekuat apa pun Mike mencoba, menjadi tak mungkin baginya merawat tiga bayi baru dan menafkahi keluarga dengan tujuh anak sekaligus. Pada suatu Natal, mereka hanya bisa berbagi sekaleng jagung dan sekotak makaroni dan keju. Satu-satunya mainan mereka selama tahun itu adalah satu boneka Happy Meal McDonald's untuk setiap anak. Untuk kado, Mike menyuruh anak-anak membungkus bonekanya dengan kertas koran dan bertukaran. Itu salah satu Natal yang mendingan.
Mike sekarang remaja muda yang hidup selalu dalam kecemasan, tapi tetap menolak terjerumus; dalam dunia pengedar obat dan kejahatan yang lebih mudah dijalani. Malahan secara tabah, ia berjalan di jalanan berbahaya di larut malam menjual kacang makademia yang diolah lagi yang, bagi pecandu yang setengah gila, tampak seperti "batu" kokain seharga tiga puluh dolar. la tahu ia mempertaruhkan nyawanya setiap kali mengadu nasib seperti itu, tapi ia merasa tak punya banyak pilihan. Dengan pertarungan geng dan perang obat setiap malam, peruntungannya tidak terlalu baik. Pada usia lima belas tahun, Mike sudah pernah tertembak delapan kali.
Lebih buruk lagi, persediaan tenaga dan harapannya sekarang semakin rendah. Sepanjang ingatannya, ia hidup dengan rasa takut setiap hari yang tak pernah habis: Bisakah kami makan hari ini? Apakah kami akan di jalanan malam ini? Apakah Marcel akan muncul besok?
Dan setelah pindah lebih dari empat puluh kali, tampaknya mereka sudah mencapai keadaan paling parah. "Rumah mereka sekarang adalah Hotel Frontier, tempat kotor di Skid Row, tempat mucikari dan pelacur memenuhi koridor dan penjualan obat terjadi di tangga. Anak-anak pernah melihat pembunuhan di lobi, dan Mike sekarang takut meninggalkan mereka sendiri untuk tidur. Selama beberapa malam mereka di sana, ia berjaga dengan pemukul bisbol untuk membunuh tikus yang masuk lewat celah pintu.
Karena kurang tidur dan tak pernah berhenti dilanda stres, Mike merasa hancur oleh tanggung jawab dalam hidupnya. Saat itu jam dua pagi. Adik-adiknya meringkuk di bawah sehelai selimut di lantai. Michelle, bayi terkecil, sedang menangis, tapi Mike tak punya makanan untuknya. Anak yang menanggung beban diam-diam selama sekian tahun itu tiba-tiba putus asa.
Dengan terhuyung-huyung melangkah ke jendela dengan putus asa, Mike berdiri di pinggir, mempersiapkan diri untuk melompat. Dalam hati ia meminta keluarganya untuk memaafkannya, ia memejamkan mata dan menghela napas panjang yang terakhir. Saat itu, seorang wanita di seberang jalan melihatnya dan mulai menjerit. Mike mundur dari pinggiran itu dan terjatuh di sudut, terisak. Sepanjang sisa malam itu, ia membuai bayi yang lapar itu dan berdoa meminta tolong.
Pertolongan datang beberapa hari kemudian di malam Thanksgiving 1993, tak lama sebelum ulang tahun Mike yang keenam. belas. Kelompok pertolongan yang ada di gereja mendirikan dapur kaki lima untuk memberi makan orang lapar, dan Mike membawa adik-adiknya ke sana untuk mendapatkan roti lapis gratis. Begitu terkesannya para relawan dengannya dan anak-anak yang sopan sehingga mereka mulai bertanya. Bendungan di dalam diri Mike akhirnya jebol dan kisahnya menyembur keluar.
Dalam beberapa hari, kelompok gereja bekerja untuk menemukan keluarga asuh permanen, tapi tak ada rumah asuh yang dapat mengambil ketujuh-tujuhnya. Muncul nasihat bahwa keluarga itu harus dipisahkan "untuk kebaikan mereka sendiri." Mike menolak dengan gigih, mengancam akan menghilang kembali ke dalam rimba bersama anak-anak. Satu-satunya orang yang dapat dipercayainya yang akan menjaga keutuhan keluarganya adalah neneknya. Dengan enggan ia akhirnya menceritakan kehidupan mereka selama delapan tahun terakhir itu.
Karena kaget dan ngeri, Mabel Bradley segera setuju mengambil anak-anak itu, tapi sistem kesejahteraan sosial Los Amgeles County tidak setuju. Mabel berusia enam puluh enam, sudah pensiun, sementara kakek mereka menderita diabetes. Mana mungkin suami-istri Bradley ini mampu mengurus tujuh anak? Tapi Mike lebih tahu. la menyembunyikan anak-anak dan menolak menegosiasikan alternatif apa pun kecuali tinggal bersama kakek-neneknya. Akhirnya, para pekerja sosial dan pengadilan setuju, dan Mabel dan Otis Bradley bergembira karena mendapat izin permanen yang legal untuk mengurus anak-anak itu. Entah bagaimana, tapi setiap anak bertahan hidup dengan baik. Memang seperti mukjizat-dan juga kekuatan dan cinta Mike yang tak terperikan-menjaga keutuhan mereka.
Sejak itu Mabel kembali bekerja dan bersedia bolak-balik lebih dari 150 km setiap hari, sementara Otis merawat anak-anak. Mike mengambil pekerjaan sebanyak mungkin untuk membantu mendukung keluarganya, tapi meskipun ia pandai, berkemauan dan jujur, hanya pekerjaan berupah minimum yang tersedia. Lebih dari siapa pun, ia menyadari arti pendidikan dan berusaha mendapatkan ijazahnya.
Impiannya adalah suatu hari memulai perusahaan kecil yang dapat sekaligus mempekerjakan dan membina anak jalanan seperti dirinya yang tak memiliki pendidikan dasar dan keterampilan untuk bertahan di dunia kerja normal, tapi yang tak mau terpaksa kembali ke kehidupan jalanan karena tak bisa mendapatkan pekerjaan.
Mike juga membaktikan dirinya merangkul anak-anak kumuh lainnya melalui musiknya. Sebagai penyanyi dan pengarang lagu yang berbakat, ia menulis musik rap inspirasional dengan pesan penuh harapannya yang unik. Setelah melihat begitu banyak anak mati dalam hidupnya yang masih muda, ia sangat ingin meraih mereka yang masih hidup. "Bertahan hidup memang tidak mudah, tapi itu bisa terjadi, dan kita harus menyampaikan pesan itu. jika seribu orang mendengarku. dan dua anak tidak tertembak, tidak menjual obat, dan. tidak mati, berarti kita berhasil."
Tapi sekarang hanya sedikit waktu yang dimilikinya untuk menyanyi, karena Mike dan keluarganya masih berjuang. Tapi Raf, Amber, dan Chloe kini mengikuti jejak Mike untuk ikut menyumbangkan tenaga di rumah. Mereka adalah tiga bayi jalanan tertua yang dibesarkan Mike--dan diajarkan hidup dengan keberanian dan harapan.
Mereka ingat dengan baik semua perkataan Mike, yang dibisikkan kepada mereka berulang-ulang di saat-saat sulit, selama mereka berpindah-pindah, saat setiap kali mereka harus meninggalkan segalanya: "Apa pun yang kaumiliki, bersyukurlah! Bahkan kau tak memiliki apa-apa, bersyukurlah karena kau masih hidup! Percayalah pada dirimu sendiri. Tak ada yang akan mencegahmu. Milikilah tujuan. Bertahanlah!"
Mike Powell akan memiliki perusahaan untuk anak jalanan kelak. Dan kelak pun akan ada waktu untuk mewujudkan sernua impiannya. Lagi pula, Mike kan baru sembilan belas tahun.
Paula McDonald
(chicken soup for the teenage soul II)
Hero of the Hood
When mike was born his father Fonso was in prison for drug dealing. Mike's 15-year-old mother Cheryl dropped out of school to support the baby. "With out you my life could have been different" she later told mike over and over. It was the guilty glue that would make mike stick with her through the coming years of horror.
Fonso was released from prison when mike was 4 but instead of security 6-foot 5, 300-pound Vietnam vet brought a new kind of fear into mike's life. Fonso had severe psychological problems and his discipline was harrowing. For minor infractions such as slamming a door he forced mike to do push-ups for hours. If the little boy collapsed his father would beat him. So fanatical was Fonso 's insistence on school attendance that Cheryl had to hide mike in a closet when he was sick.
Perhaps it was dark premonition that drove fonso to toughen up his young son and teach himself reliance far beyond his years. Mike was barley 8 when his father was murdered in a run-in with drug dealers.
Overnight the protection and income Fonso had provided were gone. It was back to the street for 24 year old Cheryl who now had 3 kids. Mike, Raf age 4 and amber 1 year. Life was bitterly hard and another baby on the way.
It wasn't long before Cheryl brought home Marcel a cocaine addict who terrorized the family even more than fonso had. When mike innocently questioned what Marcel had done with cherry's wages as a transit worker, Marcel broke the little boy's jaw so badly it had to be wired back in place.
Marcel soon got Cheryl hooked on cocaine and the two would disappear on drug binges at first leaving the children locked in a closet but eventually just leaving them alone for weeks at a time. Cheryl had convinced mike that if anyone found out what was happening the children would be separated and sent to foster homes. Remembering his father's fierce admonitions to "be a man" the eight-year-old became consumed by the need to keep his family together no matter what.
To make sure no one suspected anything mike began cleaning the apartment himself doing laundry by hand and keeping his sisters fed, diapered and immaculate. He scavenged junk shops for hair brushes, bottles and clothes whatever they could afford and covered up for his mothers absences with an endless litany of excuses. Cheryl and Marcel were soon burning through everything the family had in order to buy crack even money for rent and the children's food. When their money situations became desperate mike quietly quit elementary school at 9 to support the family himself. He cleaned yards, unload trucks and stocked liquor stores, always working before dawn or late at night so the smaller wouldn't be alone while awake.
As Cheryl and Marcel's drug binges and absences became longer and more frequent their brief returns became more violent. Sinking deeper into addiction Cheryl would simply would abandon Marcel when his drugs ran out and hook up with someone who was better supplied. A crazed Marcel would then rampage through the slum apartment torturing and terrorizing the children for information about where more money was hidden or where he could find their mother.
One night Marcel put mike's 2-year-old sister in a plastic bag and held it closed. Without air the toddler's eyes were bulging and she was turning blue. "Where's your mother? " the addict screamed, Sobbing mike and little 5 year old Raf threw themselves at Marcel again and again beating on his back with small ineffectual fists. In desperation mike finally sank his teeth into Marcel's neck praying the savage tormentor would drop the plastic bag and pick on him instead. It worked. Marcel wheeled and threw mike through the window cutting him with shattered glass and breaking his arm.
Cheryl's parent's Mabel and Otis Bradley loved their grandchildren deeply, but they worked long hours and lived a difficult multiple bus commute away and could see them only rarely. Sensing the family was struggling Mabel sent clothes and diapers never dreaming that Cheryl was selling the diapers, for drug money. Although Mabel's constant phone calls and unconditional love became Mike's only anchor of support he didn't dare tell her that anything was wrong. He feared his gentle Grandmother would have a heart attack if she learned the truth or worse a violent confrontation with Marcel.
The family was forced to move constantly sleeping in Movie Theater's, abandoned cars and even fresh crime scenes at times. Mike washed their clothes in public restrooms and cooked on a single burner hot plate. Eventually Cheryl and Marcel always caught up with them.
Despite the moves mike insisted the younger kids attend school, get good grades and be model citizens. To classmates, teachers and even their grandmother the children always seemed normal, well groomed and happy. No one could have imagined how they lived or that another child was raising them. Somehow Mike had managed to sort through the good intentions but brutal methods of his father and blend them with the loving example of his grandmother to form a unique value system. He loved his family deeply and in return the children loved, trusted and believed in him. "You don't have to end up on the street" he told them. " See what mom's like? Stay off drugs!" secretly he was terrified that his mother would one day O.D in front of them.
Over the next few years Cheryl was repeatedly for possession and sale of narcotics and other crimes and was sometimes gone for up to a year at a time. Out of jail she continued to have more children making the family's financial situation increasingly critical. Hard as mike tried it was becoming impossible for him to care for 3 new babies and support a family of 7 kids at the same time. One Christmas there was only a can of corn and a box of macaroni and cheese for all of them to share. Their only toys for the past year had a single McDonald's happy meal figure for each child. For presents mike had the children wrap the figurine in newspaper and exchange them. It was one of their best Christmases.
The younger teenager now lived in constant anxiety but still refused to fall into the easier world of drug dealing and crime. Instead he braved the dangerous streets late at night selling doctored macadamia nuts which to half-crazed addict looked like 30 dollars crack- cocaine "rocks". He knew he risked his life every time he took such chances but he felt he had few choices. In the nightly siege or gang and drug warfare the odds were against him though. By age 15 mike had been sot 8 times.
Worse his reserves of strength and hope were running dangerously low. For as long as he could remember he had live with relentless daily fears: will we be able to eat today? Will we all be on the street tonight? Will Marcel show up tomorrow?
And after more than 40 moves it seemed they had finally hit rock bottom. " Home" was now the frontier hotel a filthy dive on skid row where pimps and prostitutes stalked the halls and drug deals went down on the stairways. The kids had watched a murder in the lobby and mike was now afraid to leave them alone or to sleep. For the few nights they had been there he had stayed up with a baseball bat to kill rats as they crawled under the door.
Sleep deprived and over whelmed by stress mike felt crushed by the responsibilities of his life. It was 2 am. His brother and sisters were huddled under a single blanket on the floor. Michelle the youngest baby was crying but he had no food for her. The boy who had shouldered his secret burden for so many years suddenly lost hope.
Stumbling to the window in despair mike stood at the edge steeling himself to jump. Silently asking his family to forgive him he closed his eyes and took a last deep breath. Just then a woman across the street spotted him and began screaming. Mike reeled back from the edge and fell into a corner, sobbing. For the rest of the night he rocked the hungry baby and prayed for help.
It came a few days later on the eve of Thanksgiving 1993 shortly before mike's 16th birthday. A church outreach group had set up a sidewalk kitchen nearby to feed the hungry and mike took the children there for free sandwiches. So impressed were the volunteers with him and the polite youngsters that they began asking gentle questions. A dam deep inside mike finally broke and his story spilled out.
Within days the church group was at work trying to find the family permanent shelter but no single foster home could take all 7 children. Advised that the family would have to be separated for their own good" mike adamantly refused threatening to disappear back into the jungle with the kids. The only person he trusted to keep the family together was his grandmother. Reluctantly he finally told her of their life for the past 8 years.
Stunned and horrified Mabel Bradley immediately agreed to take the children but the Los Angeles county social welfare system balked Mabel was 66 retired and the children's grandfather was diabetic. How could the Bradley possibly cope with 7 youngsters? But mike knew better. He hid the children and refused to negotiatiate any alternative except his grandparents. Finally the social workers and courts agreed and an ecstatic Mabel and Otis Bradley were granted permanent custody of the children. Somehow every child had survived unscathed. Nothing short of miracles it seemed and Mike unfathomable strength and love- had kept them together.
Mabel has since returned to work and now willingly commutes more than 100 miles away, while Otis cares for the children. Mike works, as many jobs as he can to help support the family but smart willing and honest as he is only minimum wage jobs are available. More than anyone he realizes the value of an education and is working on his GED.
His dream is to someday start a small company that can simultaneously employ the counsel street kids like himself who are without the traditional education. And skills to make it in a normal work world but who don't want to be forced back to street life because they can't find work.
Mike also dedicated to reaching other inner city kids through his music. A talented singer and songwriter, he wrote inspirational rap with his own unique message of hope. Having seen so many kids die in his young life he wants desperately to reach those who might live. "Surviving is against the odds but it happens and we have to get that message out. If a thousand people hear me and 2 kids don't get shot, don't deal, don't die then we've done something."
There is little time to sing right now though for Mike and his family are still struggling themselves. But Raf, Amber and Chloe are now stepping proudly into Mikes' big shoes to do their part at home. They are the 3 oldest street babies he raised and taught to live with courage and hope.
The remember well all of Mike's words, whispered fiercely to them over and over during the bad times, during the many moves when each time they had to leave every thing behind: " whatever you have be grateful for it! Even if you've got nothing. Be grateful you're alive! Believe in yourself. Nobody is stopping you. Have a goal. "Survive!"
Mike Powell will have his company for street kids someday. And there will be time later for the rest of his dreams too. Mike is, after all only Nineteen.
Paula McDonald
(chicken soup for the teenage soul II)
Wawancara Arswendo Atmowiloto
2003-02-24 · #Indonesia #Kliping
Wawancara
Arswendo Atmowiloto: Gobloknya, Jaksa Terima Pakai Cek
[18/02/03]
Masih ingat kasus polling di tabloid Monitor yang mengakibatkan pemimpin redaksinya, Arswendo Atmowiloto, masuk bui? Pengalamannya melalui proses peradilan dan menjalani hukuman di penjara, membuat Wendo--begitu ia biasa dipanggil--mengetahui persis lika-liku proses peradilan maupun kehidupan di penjara. Termasuk, korupsi yang terjadi dalam setiap proses itu.
Karena itu, ketika berbicara dalam peluncuran buku "Menyingkap Mafia Peradilan" yang digelar ICW baru-baru ini, Wendo dengan santai menyatakan bahwa cara paling mudah untuk mengetahui pola korupsi di peradilan adalah dengan menjadi 'pesakitan'.
Meski telah keluar keluar dari penjara pada 1995 dan kembali menghasilkan berbagai karya, Wendo tentu belum lupa pengalamannya selama menjalani proses hukum itu. Sekarang, kegiatan Wendo segudang, mulai dari serial "Keluarga Cemara"--tontonan keluarga yang banyak mendapat pujian--menjadi pimpinan penerbitan majalah anak-anak, sampai memiliki rumah produksi Atmochademas Persada.
Karena itu, hukumonline merasa perlu mewawancarai pria kelahiran tahun 1948 ini dan memintanya bercerita mengenai pengalamannya itu. Karena, kelihatannya keadaan peradilan dan pemasyarakatan saat ini masih tidak jauh berbeda dengan keadaan pada saat itu. Berikut petikan wawancara hukumonline dengan Wendo:
Bisa diceritakan pengalaman Anda sebagai orang yang awam hukum tiba-tiba harus berhadapan dengan proses peradilan?
Saya kira semua orang akan sama. Dalam arti, orang itu tidak ada pengalaman ditahan dan tidak ada persiapan untuk ditahan. So, yang pertama terjadi pastilah shock. Kedua, ia tidak mengerti rule-nya yang sebenarnya. Hak dia apa, kewajiban ia apa. Hubungan ke mana, ia tidak mengerti. Yang dimengerti adalah yang formal-formal, oh perlu pengacara. Padahal, realitas empiris yang terjadi tidak seperti itu.
Bagimana awal mulanya dari setelah polling Monitor itu sampai menjalani proses peradilan?
Setelah polling pada awal Oktober, terjadi protes yang eksklalatif. Sehingga pada 22 Oktober 1990, kantor saya didemo, dirusak, dan sebagainya. Saat itu, saya di kantor dan harus membuka pameran lukisan di balai budaya. Tapi karena keadaannya sudah seperti itu, siang itu saya melarikan diri bersama teman-teman dalam mobil boks untuk mengirim koran untuk menghindari massa karena kantor saya belakangnya tidak ada jalan tembusnya.
Kemudian, saya yang berada di kantor teman mendengar ada pendemo yang ditangkap. Begonya saya, saya datang ke kantor polisi di Kramat Raya. Saya datang ke situ cuma diantar supir saya. Saya bertemu mereka yang ditangkap dan dengan sok gagah saya bilang, "mereka mestinya tidak usah ditangkap, mereka tidak salah-salah amat, tidak usah ditahan". Untuk keamanan, saya disuruh tinggal di situ. Di situ nggak bisa pulang, saya tanya status saya bagaimana. Lalu kejadian merebak ke arah itu (proses hukum-red).
Lima hari kemudian, saya resmi ditahan. Waktu lima hari itu status saya tidak jelas. Saya pastilah kontak-kontak orang-orang tertentu, termasuk Mensesneg Moerdiono, menjelaskan, kejadiannya begini. Tapi jawabannya, hanya tunggu saja dulu.
Sebagai tahanan, saya diperiksa. Di situ konflik-konflik muncul karena ketidaktahuan tadi. Saya cari pengacara, tidak ada yang berani. (Mohammad) Assegaf, siapa lagi, dikontak tidak berani. Mereka menolak karena kasusnya seperti itu.
Akhirnya, saya ke kantor pengacaranya Oemar Seno Adji. Beliau ini dulu yang merumuskan pasal itu. Pasal yang didakwakan pada saya adalah 156 KUHP. Tadinya, pasal itu cuma 156 lalu ada rinciannya 156a. Salah satu perumusnya adalah Oemar Senoadji, so ia menyatakan bersedia.
Saya hormat betul dengan kelompoknya Pak Oemar waktu itu. Waktu dengar-dengar di dalam bahwa kita bisa bertemu jaksa, saya bilang (pada pengacara) mau bertemu jaksa. Ia bilang kurang lebih, "Pokoknya saya nggak mau tau yang itu. Dia nggak mau jadi calo, bagus itu. Kalau berurusan, nggak usah dilaporin saya."
Mulai tahu bahwa bisa melakukan hal seperti itu?
Di dalam. Ketika pemeriksaan polisi sudah mulai. Polisinya mulai bertanya, "Mau bertemu dengan jaksanya nggak? Sudah ketahuan nih jaksanya si A". Saya tanya aturannya bagaimana. "Ketemu saja dulu, ngobrol aja di situ sendiri dulu". Dikasih ruangan lalu, kami ngobrol. Jaksanya bilang, "nanti kita bantu, pasalnya yang akan didakwakan begini".
Lalu Anda memberi uang pada jaksa?
Itu saat pemeriksaan. Status saya sudah dipindah dari polisi, dipindah ke Salemba. Di rutan kan sudah kenal dengan jaksanya, ketemu ngobrol-ngobrol, dibilang pasalnya segini. "Ini pasal maksimumnya lima tahun, saya akan nuntut sekitar tiga tahun". "Wah masih tinggi banget", saya bilang. "Biasanya hakim duapertiga dari situ, dua tahun," kata jaksanya. "Dua tahun itu nanti dapat remisi, dapat ini-itu".
Diminta menyetor berapa?
Tawar-menawar kami, saya nggak punya duit banyak. Akhirnya Rp75 juta. Untuk saya sih ya sudahlah, habis-habisan. Ia minta cash, saya nggak bisa cash, kecuali saya boleh keluar. Akhirnya lewat istri, pakai cek. Gobloknya, jaksa terima pakai cek. Padahal, katanya itu tidak lazim. Istri saya datang ke rumahnya ngasih cek, tapi itu dia terima.
Saya kemudian sudah agak tenang, hubungannya (dengan jaksa) juga baik. Jaksa menyuruh saya bikin surat pada hakim, akhirnya saya bikin surat, tolonglah. Nah di situ mafia, bahkan menurut saya sudah lebih dari mafia. Mereka sudah menyatakan, nanti jaksanya menuntut tiga tahun, hakim memutuskan dua tahun, dan dua tahun itu kamu nanti begitu Agustus dapat remisi dan lain-lain.
Tuntutannya apa benar tiga tahun?
Nggak, tuntutannya tetap lima tahun. Sehari saja, nggak kurang. Kan saya marah, saya cari jaksanya. Tapi ia juga baik kok, dia datang. Artinya, cukup ksatria juga. Saya tanya kenapa menuntut lima tahun, dia bilang, "saya hanya menjalankan tugas". Duitnya balik apa nggak, ya pasti nggak.
Bagaimana berhubungan dengan hakim Pengadilan Negeri?
Melalui jaksa, mereka yang ngatur. Mungkin juga nggak sampai...saya nggak tahu.
Jadi jaksa janjikan Rp75 juta itu untuk mengurangi tuntutan dan untuk vonis dua tahun?
Ya. Ia yang akan menghubungi hakimnya. Saya tanya sudah ketemu Pak Sarwono hakimnya. "Ya, sudah sering kok," kata dia.
Vonisnya?
Juga lima tahun, satu pun nggak ada pengurangan. Padahal, disebut berkelakuan baik, membantu persidangan, punya tanggungjawab keluarga, punya masa depan, tapi satu hari pun nggak kurang.
Kemudian banding. Banding, saya sudah mulai nggak percaya lagi. Sudah lebih lihai, nego sama panitera. Saya tahu lewat petugas di LP, kalau hubungi si ini, begini. Mereka sudah tahu petanya, kalau Jakarta Pusat, oh nanti pas sidangnya berkasnya nanti masuk ke majelis ini. Infonya dari petugas LP dan teman-teman di penjara. Si A lewat ini begini, si B lewat ini begini.
Panitera datang terang-terangan. Dia memberi nama, alamat, telpon untuk dihubungi. Tawar-menawar. Dia janji kan nanti berkas akan dibuat sedemikian rupa, sehingga hakim tingginya ini. Nanti hakim ini bisa diajak kompromi, bisa diajak ngomong. Ia akan menghubungi hakimnya juga. Ia bilang bisa kurang satu tahun, bayarnya Rp30 juta. Saya nggak mau kasih dulu. Nanti kalau ada putusannya, baru saya mau bayar. Tapi, dia nggak mau.
Akhirnya sepakat seminggu sebelum putusan keluar, duitnya baru dikasih semuanya. Saya bilang mau pakai cek, tanggalnya tanggal setelah putusan. Tapi dia bilang nggak bisa karena mesti cair dulu duitnya. Jaminannya apa saya tanya, "ya kita kenal baik, saya kenal Bapak, Bapak kenal saya", dan beberapa teman meyakinkan ia. Memang berhasil, tapi hanya enam bulan.
Ia tadinya menjanjikan hukumannya berkurang berapa?
Kami tawar menawar. Saya bilang satu tahun pun nggak apa-apa, tapi Rp30 juta, karena duit saya sudah terakhir. Ternyata, cuma enam bulan. Saya juga sempat tanya ke dia, lho kok cuma enam bulan. Dia bilang, "Wah berat Mas. Perkara Mas menarik perhatian". Itu alasan dia, mungkin benar.
Kasasi bagaimana?
Kasasi coba lagi, lebih pintar lagi. Tetap nggak saya keluarkan uangnya, masih tawar menawar. Kalau kasasi, itu jalurnya petugas penjara karena mereka punya banyak kenalan. Saya mengambil surat putusan PT saja perlu dana. Surat fotokopi saja nyuruh orang bayar, mengambil bayar. Dari petugas di sini, nanti bayar di sana, wis semuanya bayar.
Deal untuk kasasi bagaimana?
Orangnya bilang bisa dikurangi. Saya seminggu sebelum putusan akan dapat nomor-nomornya. Tapi, rupanya ini (pemeriksaan) berjalannya lama nggak kelar-kelar. Sementara saya ditahan makin lama makin berkurang, sampai saya hampir keluar baru ada deal lagi. Padahal, saya sudah istilahnya asimilasi. Kalau sudah menjalani separuh hukuman dan berkelakuan baik, saya bisa asimilasi. Asimilasi artinya pagi saya keluar, sore saya balik lagi.
Itu resmi?
Resmi. Tapi untuk mengurus asimilasi, itu butuh biaya besar. Setelah saya asimilasi, baru mereka menghubungi lagi. Tapi saya pikir, saya tinggal menjalani sekitar satu tahun setengah lagi. Ya sudah, tidak jadi.
Putusan kasasi apa?
Membenarkan putusan Pengadilan Tinggi. Tapi dalam bahasa hukumnya di situ, menilai sendiri kemudian memutuskan hukuman empat tahun enam bulan. Tapi itu istilahnya kalau di dalam penjara, velg. Velg itu tidak pakai dorongan, nggak pakai suapan atau apa.
Jadi korupsi dalam proses peradilan itu memang benar-benar terorganisir, tidak salah kalau dibilang mafia?
More than mafia. Mafia itu hanya klan sendiri. Ini klan orang lain, bisa ikutan kok... Dan itu tidak tertutup. Ada ruang khusus. Dan, celah-celah hukum memungkinkan itu. Misalnya, jaksa bertemu tersangka atau terdakwa. Kita dibawa ke kejaksaan, disuruh ngobrol, diperlihatkan pasalnya. Artinya, peluang itu ada.
Jadi, kesempatan jaksa bertemu terdakwa juga digunakan untuk tawar menawar?
Ya.
Di penjara, di mana tempat negosiasinya?
Di ruang besuk itu. Biasanya di tempat keamanan atau di mana, bukan yang besukan ramai-ramai. Tapi mojok, ngobrol.
Tapi itu terbuka, tidak sembunyi-sembunyi?
Nggak. Kami ngobrol di sini, sebelahnya mungkin lagi ketemu negosiasi juga. Kalau di ruang keamanannya itu, kami ngomong di sini, di sana juga ada yang lagi ngomong. Dan habis itu, kami kan juga komunikasi. Di dalam kan semua napinya komunikasi.
"Lu (kamu, Red) sama dia berapa, kasus lu penyelundupan sih enak. Judi juga enak. Paling tiga bulan di sini". Tarifnya sudah ada. Untuk judi dan penyelundupan, biasanya mereka orang-orang yang sekadar masuk ke situ. Kalau judi atau apa kan bukan pelakunya, tapi orang yang yah kalau ditangkap dia lah yang ditangkap.
Bukan bekingnya?
Wah bukan, bukan bandarnya, penyelundupan juga begitu.
Sesama napi sudah tahu tarif-tarifnya?
Iya, kita sudah diberi tahu, lu jangan lewat dia.
Wendo lalu menceritakan tentang Dicky Iskandar DiNata yang melakukan negosiasi melalui calo, antara lain melalui Ais Anantama Said, anak ketua MA saat itu, Ali Said. Ais sendiri membantah pernyataan Dicky.
Dicky saat itu sempat diperas sampai Rp3 miliar?
Ya. Karena, kasusnya dia memang kasus duit. Kasus penyelundupan, bank, judi yang gede. Pemalsuan kartu kredit itu termasuk 'kasus berdasi' istilahnya. Untuk kasus berdasi, melibatkan jumlah uang yang besar. Untuk di luar kasus berdasi, tarifnya lebih murah.
Tapi jangan lupa, itu yang kelas penodong segala juga ada. Sejak dari LP mau ke pengadilan, bisa negosiasi, mau duduk di sebelah supir atau di belakang, mau diborgol atau tidak.
Dalam seluruh proses dari pemeriksaan sampai di LP, selain untuk menyuap hakim dan jaksa, untuk survive sehari-hari juga ada penyuapan?
Ya. Tergantung kita punya duit berapa. Untuk asimilasi, untuk berobat.
Bisa dijelaskan mekanisme berobat ?
Bilang sakit saja, datang ke dokter, CS-an sama dokternya nanti dibilang sakitnya perlu berobat keluar. Nanti kita cari surat lagi dari keamanan, yang mengawal siapa. Tapi mereka sudah ada mekanismenya, tinggal menyerahkan duit aja ke dua atau tiga orang. Nggak usah ke semua, ada calonya.
Jadi kita tinggal bilang kalau mau keluar?
Nggak, kadang mereka yang menawarkan, sakit nggak nih? Mereka pesannya cuma satu, jangan sampai ketahuan wartawan.
Jadi dokternya juga bisa disuap?
Ya, sudah Cs. Kita keluar dikawal polisi, sipir dari penjara. Paketnya sudah ada.
Apa banyak yang memanfaatkan paket ini?
Banyak. Yah kelas saya waktu itu sekitar Rp300 sampai 400 ribu. Yang lebih tinggi ada. Kita sakit ke dokter, misalnya dibilang jantung. Di sana peralatan nggak ada, nanti lapor keamanan lapasnya, dicatat pakai buku gede, nanti harinya kita yang tentukan. Keluar pagi kadang dikawal polisi. Ada sipir dua orang diantar pakai kendaraan LP. Nanti keluar dari situ, sekitar 100 meter, kita turun, mobil kita sudah nunggu. Cuma sebelum jam lima, saat pergantian penjagaan, kita harus pulang.
Di penjara, kita bisa meminta berbagai fasilitas?
Iya. Itu diurus sebelum kita ke sana. Waktu saya belum tahu, di Polda, saya tidurnya di triplek. Waktu ke Salemba juga pertama saya belum bawa kasur, nggak ada tikar, nggak ada apa-apa. Tapi waktu pindah ke Cipinang, saya sudah tahu. Jadi kamarnya sudah disiapkan. Sudah dibersihkan, dicat. Sebelum saya datang, barang-barang sudah ada. Ada yang mengatur, di sana kamarnya nomor sekian, bloknya. Sesama napi biasanya juga sudah tahu siapa yang datang.
Fasilitasnya apa saja ?
Tergantung uang kita.
Kalau kita mau AC, bisa?
Ya bisa. Tapi peraturan tidak tertulis, semua barang yang sudah ada di situ, tidak bisa ditarik keluar, tidak boleh diambil lagi. Apa saja yang mau dibawa, selama bukan senjata, selama kita mampu dan bisa nego, bisa. Cewek saja bisa.
Kalau cewek bagaimana caranya?
Kita atur jam-jam tertentu. Tapi periodenya pendek. Kita masuk satu ruangan, misal ruang keamanan, administrasi. Kalau diketok tiga kali, rada nggak aman, jangan berisik. Di tempat itu bisa ada kasur, kulkas kecil.
Jadi kita bisa bawa kulkas, TV, AC?
Ya. Kalau nanti ada kontrol, kita sudah tahu hari ini, jam segini, nanti kita tutupin.
Wendo lalu bercerita ketika ia nonton Video Home Alone bersama Dicky, tapi tidak berani tertawa. Karena saat itu siang-siang dan jika mereka tertawa bisa ketahuan. Karena itu ketika ada adegan lucu, video dimatikan. Mereka keluar sel, ketawa-tawa dulu, lalu masuk lagi dan melanjutkan nonton.
Kenapa sembunyi-sembunyi kan sudah negosiasi waktu membawa barang-barang?
Ya sembunyi-sembunyi dong. Penjaganya kan 40 orang, yang kami sogok sedikit. Kalau kami ke dokter, semua bisa tahu. Paket itu berlaku untuk semua. Tapi kalau ini atau memasukkan cewek, nggak semuanya tahu.
Kalau ketahuan?
Dia minta uang atau barang disita, tapi yang ditakutkan bukan itu. Kami masuk letter F istilahnya. Itu artinya, kami tidak akan dapat remisi karena melanggar peraturan. Itu kami paling takut. Walau hanya 10 hari, seminggu, tapi itu berarti besar untuk kita. Biasanya yang nggak bisa bayar, yang kena letter F, di tempat abal-abal (istilah untuk napi yang tidak dapat fasilitas).
Pemindahan ke LP lain juga ada uangnya semua. Paling takut dipindah ke Cirebon karena permusuhan gengnya paling kuat. Tommy di Nusakambangan itu kan kompromi-kompromi tertentu. Dipikirnya dibuang di sana? Nggak, justru jauh dari pers. Dan begitu di sana, dia leluasa. Nggak usah pakai helikopter segala, wong di sini saja bisa. Tapi di sini kan pasti menyolok, misalnya tiap kali dia berobat.
Kalau tidak punya uang untuk semua proses itu, bagaimana?
Ya, berlaku seperti yang lainnya. Abal-abal itu. Baru diperiksa saja dibuka bajunya, disuruh jongkok, diperlakukan kayak begitu. Ketika di penjara tidak ada fasilitasnya, jam empat sudah masuk kamar, disel.
Antar tahanan ada geng-geng?
Ya, tapi mereka menurut saya jauh lebih sportif. Rule-nya lebih jelas. Ada geng Solo, Padang, Makassar.
Antar mereka apa ada intimidasi?
Nggak begitu. Intimidasi yang terjadi hanya kalau ada tahanan baru yang akan dijadikan cewek. Itu ada, tapi selebihnya nggak. Seperti Dicky, misalnya sudah ada napi sendiri yang akan mengawal dia. Sebelum datang, sudah disiapkan siapa yang akan jadi pelindung.
Yang di sana, yang ditakutkan di antara abal-abal adalah yang bunuh polisi, kursnya paling tinggi. Kasus yang paling buruk kalau memperkosa. Wah, itu abis. Bahkan di antara para napi, pemerkosa habis. Disodomi, dipaksa onani pakai rheumason sampai 7 kali. Apalagi, kalau yang main sama istri sesama napi. Menyiksa berhari-hari dengan cara paling sadis yang bisa dibayangkan.
Apa petugas diam saja?
Menutup mata. Memang rule-nya udah begitu. Sebelum dia (napi) datang saja, kami sudah tahu.
Apa penghubung dengan dunia luar?
Wah banyak banget. Apa saja bisa. Jaman saya belum ada HP saja bisa. Kami pakai telpon yang ada di situ, kita suruhan orang, yang besuk. Komunikasinya luar biasa. Yang di dalam ada yang dapat suplai dari bos-bos di luar, karena anak buahnya si ini. Besuk bukan hanya jam-jam tertentu. Ada lewat penjaganya atau lewat penjaga yang di menara. Pakai tali, makanan dibawa dari situ.
Dengan perantara petugas?
Semua kejadian itu selalu melibatkan petugas. Hampir tidak mungkin mereka murni sendiri. Dari makanan, buku porno
Bagaimana dengan obat-obatan, narkotika?
Obat leluasa di sana. Bisa petugas menjual, dari luar bisa, kita suruh petugas beli di luar bisa, beli di dalam bisa. Paling kalau nggak beli di dalam, kalau ketahuan ribut, kenapa nggak beli di dalam.
Di dalam ada yang jual?
Oh iya dong. Bandar-bandarnya top-top semua.
Bandar di dalam dapat pasokan barang dari mana?
Dari luar, dari pengunjung ke arah dia. Dan di dalam kan nggak bisa ditangkap lagi. Itu yang gede-gede. Yang miskin-miskin, pakai Napacin. Napacin dua ditelan langsung teler atau Paramex atau Spirtus campur kopi. Tapi yang paling banyak dan yang hampir semua menggunakan itu ganja dan AO, arak obat. Belinya dari penjaga.
Apa itu semua karena kesejahteraan petugas yang sangat minim?
Bukan minim, kurang banget. Saya beritahu ya, untuk tingkat kepala penjara saja-- kayak rutan Salemba--waktu saya di dalam resminya gajinya cuma empat ratus ribu, nggak sampai lima ratus ribu. Itu take home pay. Lulusan SMA yang kerja di situ kira-kira 18 sampai 20 tahun, baru jadi yang namanya kepala regu, bukan kepala keamanan lho.
Jadi ada satu periode tertentu. Sehari itu dibagi tiga regu, ia bosnya. Itu saja gajinya hanya dua ratus ribuan. Artinya, godaannya untuk itu terlalu besar. Mereka hidup di Jakarta. Mereka melek, yang dikawal tidur. Saya tidak membenarkan mekanisme ini, tapi inilah yang terjadi. Sehingga, sedemikian mudahlah seorang Edy Tanzil itu nggak kembali. Untuk seorang Edy Tanzil, Tommy, penyelundup, ini (menyuap) nggak ada artinya.
Semakin tinggi pangkat, uang suap semakin besar?
Iya. Dibanding temannya, karena ia koordinator--misalnya istri mau datang--kita cuma ngomong sama kepala regu. Wakilnya sudah, mereka bagi sendiri.
Kepala penjara?
Sudah ada sendiri. Dealnya lain. Kepala penjara, kepala keamanan, deal-nya lain. Sejak sebelum masuk sudah deal.
Apa yang seharusnya dilakukan untuk memperbaiki kondisi ini?
Yang bisa dilakukan orang dari luar, misalnya membuat panduan yang menjelaskan posisi mereka, hak-hak mereka. Perkara itu didapat atau nggak, itu soal lain. Kedua, bagaimana mengaktifkan, memberi kesempatan organisasi-organisasi di luar untuk membantu penjara.
Sekarang yang bergerak hanya dari kelompok agama. Mengajar mengaji, berdoa, natalan. Seharusnya, organisasi sosial banyak yang bisa begitu. (Wendo menunjukkan tumpukan lukisan yang menurutnya dibuat oleh napi) Saya ajarin mereka melukis sampai sekarang. Karena sangat berarti untuk kepercayaan diri, supaya kepercayaan diri mereka ada lagi ketika keluar.
Bagaimana dengan pembenahan sistem di dalam?
Nggak. Peraturan sudah ada semua, tinggal dijalankan dengan bener. Sudah komplet aturannya. Yang perlu adalah menjalankan mekanisme dinamis dari sistem.
(Nay)
Nasehat diri
2003-02-18 · #Puisi & Lirik #Renungan
NASEHAT DIRI
Suka duka perih sedih - jalani
hina mulia senang susah - jalani
jangan hitung buntung dan untung
seperti dulu kerja di restoran
menggunung tinggi cucian
menumpuk kas-kas minuman soft-drink
jangan takut - jalani dan lakukan
jangan marah jangan berwajah segi delapan
biar pelan tapi terus jalan
diam-diam dia sudah rapi.
Jadi orang jangan setengah-setengah
jadi orang harus tuntas dan utuh
dorong tarik gerobak tua
mendaki dan menurun
pastikan agar sampai ke tujuan,-
Holland, 17 febr 03
Sobron Aidit
Renungan Tagore
2003-02-13 · #Puisi & Lirik #Renungan
Renungan Tagore
Jangan biarkan aku berdoa agar terlindung dari bahaya;
melainkan biarlah aku menghadapinya dengan tak gentar.
Jangan biarkan aku memohon agar kepedihan dihilangkan;
melainkan biarlah aku diberi semangat untuk menaklukannya.
Jangan biarkan aku mencari sekutu dalam pertempuran hidup;
melainkan biarlah aku mencari kekuatanku sendiri.
Jangan biarkan aku mengharapkan agar diselamatkan;
melainkan biarlah aku mengharapkan kesabaran untuk memenangkan kemerdekaanku.
Buatlah aku agar jangan jadi pengecut;
yang mengharapkan belas kasihMu hanya dalam keberhasilanku.
Tapi biarlah aku mencari genggaman tanganMU di dalam kegagalanku.
------------------------
Let me not pray to be sheltered from dangers,
but to be fearless in facing them.
Let me not beg for the stilling of my pain
but for the heart to conquer it.
Let me not look for allies in life's battlefield,
but to my own strength.
Let me not crave in anxious fear to be saved,
but hope for the patience to win my freedom.
Grant me that I may not be a coward,
feeling Your mercy in my success alone.
But let me find the grasp of Your hand in my failure.
------------------------
RABRINDRANATH TAGORE (1861 -1941)
Filsuf dan penyair berkebangsaan India. Peraih Nobel Sastra tahun 1913
Teologi perang, justifikasi kekerasan atas nama Tuhan
2003-02-07 · #Indonesia #Kliping #Renungan
Teologi Perang, Justifikasi Kekerasan Atas Nama Tuhan
Oleh Musa Asy'arie
KEKERASAN, peperangan, dan pembunuhan di Ambon, Poso, dan peledakan bom di berbagai kota di Indonesia dilakukan dengan menggunakan justifikasi "agama" atas nama Tuhan. Dalam skala dunia, hal yang sama AS juga merasa berhak bertindak atas nama kebenaran.
Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush yang menuduh Irak, Korea Utara, Iran, dan Lybia, sebagai poros kejahatan, berarti AS merasa menggenggam kebenaran untuk menyerang mereka. Saddam Hussein tidak mau kalah, mengecam arogansi dan nafsu agresi presiden AS sebagai syaitan besar. Irak menyatakan, Tuhan akan membelanya melawan AS.
Teologi perang dibangun untuk mengklaim Tuhan dan kebenaran di pihak mereka, untuk melegitimasi tindakan melakukan kekerasan atas nama Tuhan.
Fakta tak terbantahkan menunjukkan sejak dulu hingga kini, tidak pernah ada seorang pun yang melahirkan dirinya sendiri. Kelahirannya di dunia selalu terjadi melalui proses panjang yang sepenuhnya berada di luar rencana dan kemauan dirinya. Fakta itu mendorong munculnya pertanyaan aktual sepanjang masa, apakah dan siapakah manusia, dari mana asalnya, dan akan ke mana akhirnya?
Puncak pertanyaan itu sebenarnya ingin menyingkap misteri yang ada di balik proses penciptaan manusia, dan umumnya menunjuk adanya Sang Pencipta, yaitu Tuhan, dan penciptaan adalah bentuk dari eksistensi-Nya.
Konsep tentang Tuhan, mungkin?
Pertanyaan-pertanyaan tentang manusia itu, ternyata tidak hanya berhenti pada dimensi lahiriah, seperti dilakukan dunia sains dan teknologi dengan menguraikan proses penciptaan dan kelahiran manusia secara biologis, geneologis, dan medis, yang kemudian berkembang untuk mengkloningnya. Tetapi di balik seberang lainnya, yang berkait dengan dimensi rohaniah, mempertanyakan hakikatnya dan hidup sesudah kematian, maka sains dan teknologi tidak mampu untuk melanjutkannya, karena keterbatasan metodologinya sendiri yang tidak memungkinkannya menjangkau dimensi rohaniah.
Selanjutnya pertanyaan-pertanyaan itu dikembangkan dalam dunia filsafat untuk menjelajah dataran nilai dan pemaknaan. Bermula dari Yunani yang menjelaskan adanya sebab pertama, prima causa, yang tidak bersebab, penggerak pertama yang tidak bergerak, the first mover unmoved, lahir dari sebuah proses penciptaan yang menunjukkan adanya Pencipta yang berbeda dengan ciptaan. Tetapi filsafat tidak pernah memberi kepastian tentang Sang Pencipta, abstrak, tak terjangkau manusia secara empirik.
Tuhan secara kefilsafatan jadi amat jauh dari realitas hidup manusia di dunia, dan hanya dimengerti melalui konsep. Padahal, konsep tentang Tuhan akhirnya mengalami kegagalan, karena tidak pernah ada konsep Tuhan, yang mampu menggambarkan ketidak-terbatasan dan ketak-terhinggaan-Nya. Konsep selalu berangkat dan berakhir pada batasan.
Kemudian agama mengambil alih dan mengajarkan kepada umat manusia tentang Tuhan, dengan memberitakan keberadaan-Nya melalui firman yang dipercayai datang dari Tuhan, yang tersurat dalam kitab-kitab suci yang diturunkan-Nya, seperti Taurat, Zabur, Injil, Veda, Al Quran, dan lainnya.
Tuhan yang dijelaskan oleh teks dalam firman-Nya adalah Tuhan, karena Tuhan sendiri yang menjelaskan-Nya. Tetapi ketika firman itu dipahami oleh pikiran dan persepsi manusia, maka muncul pemikiran dan persepsi manusia tentang Tuhan. Sayang, pemikiran dan persepsi tentang Tuhan itu selalu terbatas oleh kemampuan pemikiran dan persepsinya sendiri, sehingga tuhan yang dipikirkan dan dipersepsikan itu bukan Tuhan seperti dalam firman-Nya. Selalu ada jarak antara realitas teks dengan subjek yang memikirkan atau mempersepsikannya.
Pluralitas tuhan menuju Tuhan
Dalam realitas kehidupan manusia di dunia ini, terdapat pluralitas yang tidak mungkin ditolak siapa pun, baik pluralitas agama, budaya, suku, bahasa maupun pemikirannya. Dilihat dari aspek kemampuan berpikir manusia, baik kapasitas maupun pengalaman pendidikan yang berjenjang, maka ada pluralitas kemampuan berpikir manusia dalam memahami Tuhan. Karena itu, pada tiap orang sesuai kemampuan berpikirnya, pemikiran tentang Tuhan yang ada dalam realitas kehidupan manusia, dengan sendirinya akan ada pluralitas juga.
Pluralitas pemikiran tentang Tuhan dengan sendirinya akan melahirkan pluralitas tuhan, yaitu tuhan yang ada dalam pikirannya atau yang dipikirkan, dan tuhan yang ada dalam persepsinya atau yang dipersepsikan. Pada hakikatnya, tuhan yang ada dalam pikiran seseorang dan yang dipersepsikan itu bukan Tuhan itu sendiri. Konsekuensinya, pemikiran dan persepsi manusia tentang tuhan tidak boleh dimutlakkan kebenarannya, karena bukan Tuhan tetapi tuhan.
Dalam realitas kehidupan manusia, seringkali pikiran dan persepsi seseorang tentang tuhan dianggap Tuhan, dan karenanya bersifat mutlak. Pemutlakan itu sebenarnya masih dapat ditolerir, jika diberlakukan untuk diri sendiri. Tetapi, ketika pikiran dan persepsinya tentang tuhan dipakai untuk menilai pikiran dan persepsi orang lain tentang tuhan, kemudian menghakimi sesat kebenaran tuhan yang ada pada pikiran dan persepsi tuhan orang lain, maka akan terjadi konflik paham ketuhanan yang sering berujung konflik kekerasan. Mengapa? Karena masing-masing memutlakkan kebenarannya sendiri dan memaksakannya pada orang lain.
Karena itu, jika Tuhan dipakai untuk menjustifikasi tindakan kekerasan atas nama Tuhan, maka tuhan yang dimaksud pastilah bukan Tuhan, tetapi tuhan yang ada dalam pikiran dan persepsinya sendiri. Akibatnya seseorang hanya menyembah pikiran dan persepsinya sendiri tentang tuhan, dan tidak menyembah Tuhan yang menciptakan semuanya yang ada.
Dalam keadaan seperti itu, manusia sudah menghamba pada berhala ideologi yang diciptakannya dan dipertuhankannya. Sebuah tragedi kemanusiaan!
Realitas pemikiran dan persepsi seseorang tentang tuhan yang plural itu, harus diletakkan pada kenisbian manusia, sehingga pluralitas tuhan akan berkembang menjadi pengayaan spiritualitas, karena pluralitas tuhan itu menjadi bagian proses menuju Tuhan. Dalam tahap pengalaman memasuki dimensi Tuhan Yang Mutlak, manusia merasakan, dirinya berhadapan dengan ketidak-terbatasan dan ketakterhinggaan yang tak mungkin dijangkau, dengan implikasi pada penegasan realitas kekecilan dan kekerdilan diri sendiri di hadapan Tuhan. Pada ujungnya pengalaman itu melahirkan sikap rendah hati, santun dan menghormati sesamanya.
Mencegah kekerasan-peperangan
Bagi seorang sufi, Tuhan bukanlah konsep, karena itu memperdebatkan konsep tentang Tuhan berdasar logika hanya akan melelahkan; bahkan menyesatkan. Karena itu, Tuhan harus menjadi bagian pengalaman hidup nyata dan dapat dijalankan dalam praktik hidup sehari-hari. Jika tidak ada kehidupan sama sekali di luar Tuhan, maka kehidupan hanya ada dalam Tuhan sendiri. Ini berarti dalam setiap kehidupan selalu ada Tuhan.
Kesadaran demikian, akan membangkitkan semangat untuk memelihara dan tidak merusak kehidupan bersama. Jalan sufi adalah jalan menuju Ilahi, dengan mulai dari dalam diri sendiri, karena keyakinan bahwa Tuhan ada dalam dirinya, sehingga orang yang tahu dirinya, akan tahu tentang Tuhan-nya, "man ’arafa nafsahu faqad ’arafa Rabbahu’.
Dalam praktik sufi, Tuhan adalah pengalaman hidup nyata, karena itu ke mana saja arah mukamu menghadap, di sanalah wajah Tuhanmu menatap, "wa ainama tuwallu wujuhakum fatsamma wajhullah". Seorang sufi sejati bukanlah mereka yang mengelak dan lari dari tanggung jawab di dunia, tetapi seseorang yang dapat menaklukkan dunia dengan menaklukkan egoismenya sendiri.
Dunia ini akan binasa, jika egoisme dibiarkan merajalela menguasainya, baik yang berupa kekuasaan, kekayaan maupun kekuatan. Ancaman kerusakan dunia dengan kekerasan dan peperangan, apalagi dengan persenjataan mutakhir, akan melahirkan penderitaan dan luka kemanusiaan yang panjang.
Dalam praktik hidup sufi, egoisme harus ditaklukkan dan bila mungkin ditekan ke titik nol, karena energi dan Nur Ilahi akan terserap dalam diri manusia yang sudah terbebas dari kekuasaan egoisme dan hawa nafsu destruktif. Mungkin kita perlu belajar dari dunia sufi guna keluar dari krisis multi-dimensi yang mengancam eksistensi manusia dan kehidupan di dunia ini secara keseluruhan, agar Tuhan hadir secara nyata melalui kasih dan rahmat-Nya merengkuh, menyelamatkan, dan memberi rasa damai bagi semua yang hidup.
Pesan perdamaian dan resolusi konflik, baik sosial, politik, ekonomi, budaya, dan agama yang melanda dunia modern, tidak mungkin jika egoisme masih menguasai pribadi pemimpin bangsa, terutama yang terlibat konflik. Egoisme membuat para pemimpin bertindak seperti tuhan-tuhan kecil, seakan dapat menggenggam kebenaran mutlak dan menjadi kemutlakan, dan kehendaknya harus diikuti, dijadikan rujukan dan menjadi ukuran kebenaran.
Pengalaman sufi menjalani hidup dalam Tuhan adalah kedamaian, keselamatan, dan cinta kasih, tidak akan pernah menghalalkan kekerasan; jangankan menumpahkan darah manusia, menebang pohon pun diharamkannya, karena pohon, binatang, lautan, dan hutan adalah Tuhan, sebagai bentuk eksistensi-Nya, sekaligus menyadari bahwa Tuhan bukanlah pohon, binatang, lautan, hutan, apalagi karya cipta manusia.
Oleh Musa Asy'arie, Guru Besar dan Direktur Pasca Sarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
The space shuttle must be stopped
It's costly, outmoded, impractical and, as we've learned again, deadly
By GREGG EASTERBROOK
ALLAN TANNENBAUM/POLARIS; PETER COSAGROVE/AP
Columbia's first lift off on April 12, 1981; and its last, January 16, 2003
Sunday, Feb. 02, 2003
A spacecraft is a metaphor of national inspiration: majestic, technologically advanced, produced at dear cost and entrusted with precious cargo, rising above the constraints of the earth. The spacecraft carries our secret hope that there is something better out there—a world where we may someday go and leave the sorrows of the past behind. The spacecraft rises toward the heavens exactly as, in our finest moments as a nation, our hearts have risen toward justice and principle. And when, for no clear reason, the vessel crumbles, as it did in 1986 with Challenger and last week with Columbia, we falsely think the promise of America goes with it.
Unfortunately, the core problem that lay at the heart of the Challenger tragedy applies to the Columbia tragedy as well. That core problem is the space shuttle itself. For 20 years, the American space program has been wedded to a space-shuttle system that is too expensive, too risky, too big for most of the ways it is used, with budgets that suck up funds that could be invested in a modern system that would make space flight cheaper and safer. The space shuttle is impressive in technical terms, but in financial terms and safety terms no project has done more harm to space exploration. With hundreds of launches to date, the American and Russian manned space programs have suffered just three fatal losses in flight—and two were space-shuttle calamities. This simply must be the end of the program.
Will the much more expensive effort to build a manned International Space Station end too? In cost and justification, it's as dubious as the shuttle. The two programs are each other's mirror images. The space station was conceived mainly to give the shuttle a destination, and the shuttle has been kept flying mainly to keep the space station serviced. Three crew members—Expedition Six, in NASA argot—remain aloft on the space station. Probably a Russian rocket will need to go up to bring them home. The wisdom of replacing them seems dubious at best. This second shuttle loss means NASA must be completely restructured—if not abolished and replaced with a new agency with a new mission.
Why did NASA stick with the space shuttle so long? Though the space shuttle is viewed as futuristic, its design is three decades old. The shuttle's main engines, first tested in the late 1970s, use hundreds more moving parts than do new rocket-motor designs. The fragile heat-dissipating tiles were designed before breakthroughs in materials science. Until recently, the flight-deck computers on the space shuttle used old 8086 chips from the early 1980s, the sort of pre-Pentium electronics no self-respecting teenager would dream of using for a video game.
Most important, the space shuttle was designed under the highly unrealistic assumption that the fleet would fly to space once a week and that each shuttle would need to be big enough to carry 50,000 lbs. of payload. In actual use, the shuttle fleet has averaged five flights a year; this year flights were to be cut back to four. The maximum payload is almost never carried. Yet to accommodate the highly unrealistic initial goals, engineers made the shuttle huge and expensive. The Soviet space program also built a shuttle, called Buran, with almost exactly the same dimensions and capacities as its American counterpart. Buran flew to orbit once and was canceled, as it was ridiculously expensive and impractical.
Capitalism, of course, is supposed to weed out such inefficiencies. But in the American system, the shuttle's expense made the program politically attractive. Originally projected to cost $5 million per flight in today's dollars, each shuttle launch instead runs to around $500 million. Aerospace contractors love the fact that the shuttle launches cost so much.
In two decades of use, shuttles have experienced an array of problems—engine malfunctions, damage to the heat-shielding tiles—that have nearly produced other disasters. Seeing this, some analysts proposed that the shuttle be phased out, that cargo launches be carried aboard by far cheaper, unmanned, throwaway rockets and that NASA build a small "space plane" solely for people, to be used on those occasions when men and women are truly needed in space.
Throwaway rockets can fail too. Last month a French-built Ariane exploded on lift-off. No one cared, except the insurance companies that covered the payload, because there was no crew aboard. NASA's insistence on sending a crew on every shuttle flight means risking precious human life for mindless tasks that automated devices can easily carry out. Did Israeli astronaut Ilan Ramon really have to be there to push a couple of buttons on the Mediterranean Israeli Dust Experiment, the payload package he died to accompany to space?
Switching to unmanned rockets for payload launching and a small space plane for those rare times humans are really needed would cut costs, which is why aerospace contractors have lobbied against such reform. Boeing and Lockheed Martin split roughly half the shuttle business through an Orwellian-named consortium called the United Space Alliance. It's a source of significant profit for both companies; United Space Alliance employs 6,400 contractor personnel for shuttle launches alone. Many other aerospace contractors also benefit from the space-shuttle program.
Any new space system that reduced costs would be, to the contractors, killing the goose that lays the golden egg. Just a few weeks ago, NASA canceled a program called the Space Launch Initiative, whose goal was to design a much cheaper and more reliable replacement for the shuttle. Along with the cancellation, NASA announced that the shuttle fleet would remain in operation until 2020, meaning that Columbia was supposed to continue flying into outer space even when its airframe was more than 40 years old! True, B-52s have flown as long. But they don't endure three times the force of gravity on takeoff and 2000*none on re-entry.
A rational person might have laughed out loud at the thought that although school buses are replaced every decade, a spaceship was expected to remain in service for 40 years. Yet the "primes," as NASA's big contractors are known, were overjoyed when the Space Launch Initiative was canceled because it promised them lavish shuttle payments indefinitely. Of course, the contractors also worked hard to make the shuttle safe. But keeping prices up was a higher priority than having a sensible launch system.
Will NASA whitewash problems as it did after Challenger? The haunting fact of Challenger was that engineers who knew about the booster-joint problem begged NASA not to launch that day and were ignored. Later the Rogers Commission, ordered to get to the bottom of things, essentially recommended that nothing change. No NASA manager was fired; no safety systems were added to the solid rocket boosters whose explosion destroyed Challenger; no escape-capsule system was added to get astronauts out in a calamity, which might have helped Columbia. In return for failure, the shuttle program got a big budget increase. Post-Challenger "reforms" were left up to the very old-boy network that had created the problem in the first place and that benefited from continuing high costs.
Concerned foremost with budget politics, Congress too did its best to whitewash. Large manned-space-flight centers that depend on the shuttle are in Texas, Ohio, Florida and Alabama. Congressional delegations from these states fought frantically against a shuttle replacement. The result was years of generous funding for constituents—and now another tragedy.
The tough questions that have gone unasked about the space shuttle have also gone unasked about the space station, which generates billions in budget allocations for California, Texas, Ohio, Florida and other states. Started in 1984 and originally slated to cost $14 billion in today's dollars, the space station has already cost at least $35 billion—not counting billions more for launch costs—and won't be finished until 2008. The bottled water alone that crews use aboard the space station costs taxpayers almost half a million dollars a day. (No, that is not a misprint.) There are no scientific experiments aboard the space station that could not be done far more cheaply on unmanned probes. The only space-station research that does require crew is "life science," or studying the human body's response to space. Space life science is useful but means astronauts are on the station mainly to take one another's pulse, a pretty marginal goal for such an astronomical price.
What is next for America in space? An outsider commission is needed to investigate the Columbia accident—and must report to the President, not Congress, since Congress has shown itself unable to think about anything but pork barrel when it comes to space programs.
For 20 years, the cart has been before the horse in U.S. space policy. NASA has been attempting complex missions involving many astronauts without first developing an affordable and dependable means to orbit. The emphasis now must be on designing an all-new system that is lower priced and reliable. And if human space flight stops for a decade while that happens, so be it. Once there is a cheaper and safer way to get people and cargo into orbit, talk of grand goals might become reality. New, less-expensive throwaway rockets would allow NASA to launch more space probes—the one part of the program that is constantly cost-effective. An affordable means to orbit might make possible a return to the moon for establishment of a research base and make possible the long-dreamed-of day when men and women set foot on Mars. But no grand goal is possible while NASA relies on the super-costly, dangerous shuttle.
In 1986 the last words transmitted from Challenger were in the valiant vow: "We are go at throttle up!" This meant the crew was about to apply maximum thrust, which turned out to be a fatal act. In the coming days, we will learn what the last words from Columbia were. Perhaps they too will reflect the valor and optimism shown by astronauts of all nations. It is time NASA and the congressional committees that supervise the agency demonstrated a tiny percentage of the bravery shown by the men and women who fly to space—by canceling the money-driven shuttle program and replacing it with something that makes sense.
Gregg Easterbrook is a senior editor of the New Republic and a visiting fellow of the Brookings Institution. Five years before Challenger, he wrote in the Washington Monthly that the shuttles' solid rocket boosters were not safe.
From the Feb. 10, 2003 issue of TIME magazine