ivo@setyadi:~$ ivo.blogspot.com

# catatan teknis, sejak 2001

Piik, server screen sharing peer-to-peer mandiri

Piik adalah tool WebRTC open-source dan self-hosted untuk berbagi layar serta audio hingga 20 orang. Tool ini menggabungkan web UI, manajemen room, dan media forwarding server opsional ke dalam satu binary tunggal yang menggunakan SQLite untuk penyimpanan data. Penonton bisa langsung bergabung lewat browser desktop atau mobile tanpa perlu instalasi apa pun. Setup tool ini layak dicoba jika Anda mencari alternatif privat untuk streaming komersial skala kecil. Kekurangannya, koneksi P2P langsung akan gagal di jaringan yang restriktif kecuali Anda mengonfigurasi server STUN atau SFU terpisah. Selain itu, aplikasi desktop untuk Mac dan Linux belum banyak diuji, jadi sebaiknya jalankan di Windows atau Linux x64 untuk saat ini. sumber: github.com/TNTcraftHIM/Piik my other side: setyadi.com

Typedef

2006-03-28 · #Programming

Typedef

Meski sering dianggap sebagai storage class, typedef sebenarnya bukan. Ia memungkinkan kita memperkenalkan sinonim untuk tipe yang sebetulnya bisa dideklarasikan dengan cara lain. Nama baru itu menjadi setara dengan tipe yang kita inginkan, seperti contoh berikut.

typedef int aaa, bbb, ccc;
typedef int ar[15], arr[9][6];
typedef char c, *cp, carr[100];

/* now declare some objects */

/* all ints */
aaa     int1;
bbb     int2;
ccc     int3;

ar      yyy;    /* array of 15 ints */
arr     xxx;    /* 9*6 array of int */

c       ch;     /* a char */
cp      pnt;    /* pointer to char */
carr    chry;   /* array of 100 char */

Aturan umum memakai typedef: tulis dulu deklarasinya seolah-olah Anda sedang mendeklarasikan variabel bertipe yang diinginkan. Di tempat deklarasi itu tadinya memperkenalkan nama variabel, menambahkan typedef di depannya membuat yang lahir bukan variabel melainkan nama tipe baru. Nama tipe baru itu lalu bisa dipakai sebagai awalan deklarasi variabel bertipe tersebut.

Penggunaan typedef tidak terlalu sering terlihat di kebanyakan program; biasanya hanya muncul di header file dan jarang jadi urusan koding sehari-hari.

Ia kadang dipakai pada aplikasi yang menuntut portabilitas sangat tinggi: di sana tipe-tipe baru didefinisikan untuk variabel dasar program, lalu typedef yang sesuai dipakai untuk menyesuaikan program dengan mesin target. Kalau berlebihan, hasilnya adalah kode yang sulit dibaca programmer C dari lingkungan lain. Kira-kira begini rasanya:

/* file 'mytype.h' */
typedef short   SMALLINT        /* range *******30000 */
typedef int     BIGINT          /* range ******* 2E9 */

/* program */
#include "mytype.h"

SMALLINT        i;
BIGINT          loop_count;

Di sebagian mesin, jangkauan int tidak cukup untuk BIGINT, sehingga harus di-typedef ulang menjadi long.

Untuk memakai ulang nama yang sudah dideklarasikan sebagai typedef, deklarasinya harus memuat setidaknya satu type specifier supaya tidak ambigu:

typedef int new_thing;
func(new_thing x){
        float new_thing;
        new_thing = x;
}

Perlu diingat, typedef hanya bisa mendeklarasikan tipe nilai kembalian sebuah fungsi, bukan tipe fungsi secara keseluruhan. Tipe keseluruhan mencakup informasi parameter fungsi, bukan cuma tipe kembaliannya.

/*
* Using typedef, declare 'func' to have type
* 'function taking two int arguments, returning int'
*/
typedef int func(int, int);

/* ERROR */
func func_name{ /*....*/ }

/* Correct. Returns pointer to a type 'func' */
func *func_name(){ /*....*/ }

/*
* Correct if functions could return functions,
* but C can't.
*/
func func_name(){ /*....*/ }

Kalau sebuah typedef dengan identifier tertentu sedang berada dalam scope, identifier itu tidak boleh dipakai sebagai formal parameter fungsi. Sebabnya, deklarasi seperti berikut menimbulkan masalah:

typedef int i1_t, i2_t, i3_t, i4_t;

int f(i1_t, i2_t, i3_t, i4_t)/*THIS IS POINT 'X'*/

Compiler yang membaca deklarasi fungsi itu sampai di titik ‘X’ dan masih belum tahu apakah yang dilihatnya deklarasi fungsi, yang pada dasarnya mirip

int f(int, int, int, int) /* prototype */

atau

int f(a, b, c, d) /* not a prototype */

— persoalannya (dalam kasus terburuk) baru selesai setelah melihat apa yang ada sesudah titik ‘X’: kalau titik koma berarti tadi deklarasi, kalau { berarti tadi definisi. Aturan yang melarang nama typedef jadi formal parameter membuat compiler selalu bisa memastikan apakah ia sedang memproses deklarasi atau definisi, cukup dengan melihat identifier pertama sesudah nama fungsi.

Typedef juga berharga saat kita hendak mendeklarasikan sesuatu yang sintaksnya menyiksa, semisal ‘array sepuluh pointer ke array lima integer’, yang bikin panik bahkan orang yang sudah terlatih. Menyembunyikannya di balik typedef berarti Anda cukup membacanya sekali, sekaligus bisa memecahnya jadi potongan yang lebih mudah dicerna:

typedef int (*a10ptoa5i[10])[5];
/* or */
typedef int a5i[5];
typedef a5i *atenptoa5i[10];

Coba sendiri!

Sumber: The C Book – Typedef

my other side: setyadi.com/typedef

Indonesia Negeri Kaya

2006-03-27 · #Indonesia #Kliping

Analisis Denny Indrayana
Indonesia Negeri Kaya Nihil Dosa
Denny Indrayana - detikcom
 
Jakarta - Siapa bilang Indonesia miskin-papa. Salah besar, bohong benar. Indonesia negara kaya-raya. Negeri makmur-subur, damai-sentosa. Indonesia hanya pura-pura miskin: pura-pura banyak utang; pura-pura banyak teroris; pura-pura banyak masalah. Sejatinya, Indonesia adalah negara paling bahagia di seluruh dunia, di seantero jagat raya.
 
Dunia yang mengira Indonesia miskin, tertipu. Mereka hanya melihat kulit, tidak melihat isi. Dunia terpana tampilan luar fisik Indonesia yang coreng-moreng-bopeng, padahal itu hanya topeng. Sebenarnya Indonesia bukan negeri gepeng -- gelandangan-pengemis -- tapi bangsa yang keren-mentereng. Tak percaya? Simak saja bagaimana harga minyak dikerek menyamai harga di pasaran dunia, bukankah itu artinya daya beli masyarakat Indonesia pun seharusnya setara dengan negara hebat lainnya?
 
Meski mengirim babu ke manca negara, itu bukan berarti kita berkasta sudra. Justru sebaliknya, Indonesia itu negeri luar biasa kaya-raya. Buktinya, punya utang US$ 134,9 miliar pada akhir 2003, tenang-tenang saja. Malah unjuk gigi berutang lebih banyak lagi. Agar negara kaya senang hati. Indonesia itu pura-pura miskin, untuk berbaik budi, sebagaimana praktik yang diajarkan para sufi.
 
Indonesia itu bangsa emas. Hanya emaslah yang terus diuji, diasah. Kalau batu cadas, ketemu langsung dibuang. Indonesia emas, bukan cadas. Indonesia adalah jamrud khatulistiwa. Meski dimana-mana ada bencana. Itu semua bukan laknat. Itu semua nikmat, berkat yang diturunkan dalam bentuk yang tidak memikat.
 
Tsunami di Aceh, itu nikmat. Longsor dimana-mana itu rahmat. Demam berdarah, flu burung di seantero nusantara, itu berkat. Kalau pemerintah negeri lain pasti kalang-kabut menghadapi itu semua, pemerintah Indonesia, santai dan damai-damai saja. Sama tenangnya dengan kebanyakan televisi yang tetap sarat menyajikan hiburan ala goyang pantat dan acara-acara yang mengumbar syahwat.
 
Mau tahu resepnya Indonesia begitu hebat? Hanya satu kata: TAAT. Pemimpin Indonesia semua terhormat-bermartabat. Bayangkan, koruptor di Indonesia itu agamanya luar biasa kuat. Sekelas Kiai yang tak jua mau bertobat meski menilep dana alokasi umat. Itu maknanya, agama difahami amat hakiki, sesuai nilai dasarnya saja. Agama itu ada, dikala orang tidak perlu mengingatnya. Orang yang beragama, tidak perlu selalu pamer keberagamaannya. Jika perlu, pura-pura saja lupa. Sholat-puasa biasa, korupsi juga jalan apa-adanya.
 
Pokoknya Indonesia itu tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Adanya, seperti tiadanya. Yang kelihatan, belum tentu yang kenyataan. Indonesia itu negeri paling sufi. Buktinya Amerika Serikat sang Adi Daya saja di subsidi kehidupannya oleh masyarakat miskin di ujung Papua. Gunung emas di Timika diberikan secara nyaris cuma-cuma di tengah banyak masyarakat puncak Jaya Wijaya yang tak putus dirundung nestapa, apalagi setelah kerusuhan di Abepura.
 
Australia adalah negara super lain yang paling tahu bagaimana bersahajanya politik Indonesia. Demi persahabatan antar dua negara, Indonesia rela dikira tak punya daya upaya. Berbilang kali Australia bermain-main dengan harga diri bangsa, tetapi pemerintah Indonesia tetap saja bermanis muka. Karenanya, kemarahan pemerintah Indonesia akibat pemberian visa kepada pencari suaka dari Papua hanya dibalas Australia dengan pandangan sebelah mata. Seandainya dengan negara lain, Australia pasti sudah disumpahi tak setia, ibarat TTM, teman tapi monyong kelakuannya.
 
Indonesia adalah negeri tanpa dosa. Hanya di negeri ini koruptorpun dihormati dan diberi fasilitas hidup layaknya di surga. Tak mengherankan lebih dari 1200 orang pejabat negara betah saja diperiksa sebagai tersangka maupun terdakwa. Bahkan KPK yang seharusnya menjadi panglima angkatan perang bersenjata, penyidiknya pun terperangkap penyakit korupsi yang memang terlanjur merajalela.
 
Korupsi. Agaknya memang praktik itulah yang di Indonesia tidak pernah dianggap dosa. Terutama bagi para petinggi negara. Tengok saja, ada empat wilayah yang tetap bebas melakukannya, yaitu: Istana, Cendana, Senjata dan Pengusaha Naga. Di ke empat ranah itu, hukum hanya pajangan semata dan tidak berdaya melawan praktik nista para pelaku mafia. Komisi Yudisial yang mencoba-coba berlaga harus berhadapan para hakim agung yang tebal muka, buta mata-buta hatinya. Perorangan yang mencoba-coba mengangkat suara akan dengan mudah dibuat tiada, semudah arsenik menyatu dengan jiwa-raga bersahaja Munir yang kasusnya hingga kini tak tentu ujung rimbanya.
 
Hukum rimba itulah memang yang nyata hadir di bumi persada. Hukum yang menghamba sahaya kepada para penguasa dan penyandang dana. Hukum yang lupa akan tugas utamanya untuk membawa kabar bahagia kepada siapa saja, tak perduli apa posisinya. Hukum yang berbeda perlakuannya ketika berhadapan dengan para elit atau kawula alit. Hukum yang tebang pilih kasih. Hukum yang menebas para kopral tapi melepas para jenderal. Hukum yang sarat dengan praktik nista mafia peradilan.
 
Karena semua kemunafikan itu, di negeri jamrud khatulistiwa ini sewajibnya hadir kekhawatiran nyata. Karena tanpa tindak segera, negeri ini tak akan bertahan lama. Negeri yang kaya harta tapi miskin harga diri bangsa. Rasa kebangsaan ber-Indonesia berada di persimpangan antara (ti)ada dan tiada. Sejujurnya, Indonesia memang kaya tapi terkena kutukan menjadi sudra dunia karena tak pernah merasa korupsi itu adalah dosa yang teramat nyata.
 
Keterangan Penulis:
Denny Indrayana, Doktor Hukum Tata Negara, Ketua Pusat Kajian Anti Korupsi UGM, Direktur Indonesian Court Monitoring.
 
 

The Chef is Dead!

2006-03-24 · #Hiburan #Kliping

The Great "South Park" Chef Roast

By Steve Taylor

Thursday, March 23, 2006

Matt Stone and Trey Parker have taken another shot in the war with Isaac Hayes and Scientology. In the Season 10 premiere, entitled "The Return of Chef", Stone and Parker try to deal with Isaac Hayes' departure from the show, and the loss of the voice of Chef. The best way the South Park creators found to do this? Kill off Chef.

There was a huge buzz over what Matt Stone and Trey Parker would do with their season premiere (see South Park Keeps Chef). After the announcement that Chef would be in the season premiere of South Park, everyone wanted to know the closely guarded secret of who would play his voice and how long he would be around for. Last night's season premiere on Comedy Central gave us the answer.

It turns out the voice of Chef was…Isaac Hayes. By using lines from old South Park episodes, Matt Stone and Trey Parker were able to piece together enough material to keep Isaac Hayes for one more episode.

The South Park episode has Chef returning after leaving South Park to join the Super Adventure Club. However, Stan Marsh, Eric Cartman, Kenny McCormick and Kyle Broflovski quickly lose their excitement of seeing Chef when they realize he has been brainwashed by the Super Adventure Club and has been turned into a pedophile. As The Washington Post reports, Stan, Eric, Kenny and Kyle become curious when Chef says to them, "'"How about I meet you guys after work and we make love . . . come on children, you're my sexual fantasy, let's all make sweet love.' Those are the printable things, anyway." It's no stretch of the imagination that the Super Adventure club is a thinly-veiled reference to South Park's most recent enemy, Scientology. Matt Stone and Trey Parker never actually mentioned Scientology throughout "The Return of Chef".

The South Park boys then take Chef to a psychiatrist, and the psychiatrist tells Eric, Kenny, Kyle and Stan that Chef is suffering from heavy brainwashing. This was a subtle dig at Scientology, as Scientologists do not look highly upon psychiatrists. The kids then try to de-program Chef by taking him to a strip club. They manage to succeed, but the Super Adventure Club won't give up that easily. The Super Adventure Club hits Chef with darts, and Chef is brought back to their headquarters to re-commence the brainwashing.

Kyle, Kenny, Stan and Eric Cartman aren't discouraged, and follow the Super Adventure Club member make to their hideout. Along the way, the kids find out what the real secrets of the group are. As The Washington Post puts it, "The boys follow and learn the secret of the Super Adventure Club, founded by a guy who was an explorer, only every time he got someplace he discovered someone had beat him there. So he decided to become the first explorer to have sex with the native children in the various remote locations, which he felt would make him immortal."

After de-programming Chef and getting him out of the complex, Kenny, Cartman, Stan, Kyle and Chef cross a rope bridge over a ravine. While the kids make it across, Chef stops on the bridge, and is called out to by the Super Adventure Club followers. While trying to make a decision, the rope bridge is struck by lightning and Chef burns and falls to his doom, and is impaled on the way down, not to mention the fact he is attacked by a lion and a grizzly bear.

To quote Stan Marsh, "Oh my God, they killed Chef!"

Apparently, it's not all animosity from Matt Stone and Trey Parker towards Isaac Hayes. At Chef's memorial service, Kyle Broflovski gave a eulogy. The Chicago Tribune quoted the entire eulogy.

"A lot of us don't agree with the choices Chef has made in the past few days. Some of us feel hurt and confused that he seemed to turn his back on us. But we can't let the events of the last week take away the memories of how much Chef made us smile. I'm going to remember Chef as the jolly old guy who always broke into song. I'm going to remember Chef as the guy who gave us advice to live by."

This episode, and even this eulogy, gave closure to Isaac Hayes' resignation from South Park last week (See Isaac Hayes Quits South Park). Isaac Hayes left the show, citing the show's religious intolerances. While the show has mocked various religions over it's nine-year tenure, it is believed Isaac Hayes was balking at the episode "Trapped in the Closet", which poked fun at Scientology and famed Scientologist Tom Cruise (See South Park Battles Scientology, Tom Cruise). Hayes is also a Scientologist.

One of the repercussions to the battle is that fans of South Park have threatened to boycott Tom Cruise's summer blockbuster, Mission: Impossible 3. With South Park's viewers falling into the same target demographic as Mission: Impossible 3, the threat may not be an idle one. All of this only stands to hurt Viacom, which is the parent company to Comedy Central, the network showing South Park, and Paramount, the company releasing Mission: Impossible 3.

thedeadbolt.com/chefroast.php

[Additional Sources: Washington Post, Chicago Tribune]

 

Cepu = Cadangan minyak terbesar di Indonesia

2006-03-09 · #Bisnis #Indonesia #Kliping

Rockefeller, ExxonMobil, dan Blok Cepu

Warsito

Ungkapan Kolonel Potts tahun 1888, bahwa jika salah satu dari tiga sektor utama bisnis minyak, yaitu produksi, distribusi, dan pemasaran, dikuasai, maka dua sektor lain akan dikuasai pula, telah menjadi sumber inspirasi bagi John D Rockefeller dalam mengelola perusahaannya, Standard Oil, yang merajai bisnis perminyakan pada awal abad ke-20.

Nama Standard Oil sekarang sudah tidak ada, tetapi jelmaan perusahaan minyak raksasa Amerika itu masih tetap menguasai bisnis yang menentukan dinamika politik dan perekonomian dunia hingga sekarang.

Rockefeller pantas bersumpah serapah ketika dikenai undang-undang antimonopoli (Antitrust Act) oleh Pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1911 sehingga dia terpaksa memecah perusahaannya menjadi 35 buah, yang kebanyakan dengan nama singkatan SO, seperti SOHIO untuk Ohio, SOCONY untuk New York, Esso yang kemudian berubah menjadi Exxon, dan lain-lain. Perusahaan-perusahaan pecahan itu di kemudian hari mengalami merger lagi, seperti Exxon dan Mobil (gabungan SOCONY dan Vacuum Oil) menjadi ExxonMobil pada tahun 2000.

Rockefeller hingga anak keturunannya sampai sekarang telah menguasai ketiga sektor bisnis minyak secara keseluruhan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, yang 90 persen lebih produksi minyak mentahnya dikuasai asing.

Menguasai transportasi

Rockefeller memulai bisnisnya di Cleveland, Ohio, pada akhir 1800-an dengan menyewakan ratusan truk tangki pengangkut minyak mentah kepada perusahaan pengeboran minyak dari sumur minyak yang baru ditemukan saat itu. Perusahaan Rockefeller, Union Tanker Car, yang memiliki paten desain truk tangki (seperti yang sekarang digunakan Pertamina untuk mengangkut BBM), menguasai transportasi minyak mentah dari lokasi pengeboran di daerah Ohio ke tempat pengilangan minyak di New York.

Rockefeller sebenarnya bukanlah seorang ahli perminyakan. Dia hanyalah menyewakan truk tangki dan memperoleh keuntungan dari membeli ladang minyak dan kilang minyak dengan harga yang dipaksakan. Hal itu baru ketahuan setelah beberapa dekade kemudian.

Truk tangki buatan Union Tanker Car menjadi mesin uang saat itu menggantikan truk bak terbuka dari kayu, yang banyak dipakai sebelum tangki minyak ditemukan. Beberapa bulan setelah produksi dan pengangkutan mulai berjalan, dan setelah perusahaan-perusahaan pengilangan minyak baru selesai membangun kilang baru untuk menampung aliran minyak yang melimpah, Union Tanker membatalkan kontrak penyewaan angkutan tangkinya. Karena tidak ada perusahaan penyewaan lain, dalam beberapa bulan setelah melakukan investasi besar-besaran banyak perusahaan pengeboran dan pengilangan minyak yang terancam mengalami kebangkrutan. Kemudian Rockefeller mendatangi perusahaan-perusahaan yang dalam kondisi sekarat itu dan membelinya dengan harga yang sangat murah melalui lembaga keuangan Standard Oil.

Antara tahun 1900-1910 Standard Oil menguasai hampir seluruh ladang minyak di California, Texas, Arkansas, New Jersey, Ohio, dan beberapa negara bagian lain. 90 persen bisnis minyak Amerika saat itu berhasil dimiliki atau dikuasainya.

Untuk menghadapi undang-undang antimonopoli Pemerintah Amerika, Rockefeller kemudian mengambil sebagian besar asetnya untuk membentuk 12 bank, yang kemudian disebut Federal Reserve (The Feds), pada tahun 1911. Dua tahun kemudian dia berhasil menjual ke-12 bank itu kepada Kongres Amerika. Sejak tahun 1913 seluruh pajak negara dibayar melalui bank swasta dalam sistem Federal Reserve.

Dengan demikian, meskipun Standard Oil telah dipecah-pecah, Rockefeller masih tetap menguasai aset yang cukup untuk mendikte permainan politik Amerika dan dunia selama abad ke-20. Menurut Marshall Douglas Smith dalam tulisannya yang berjudul Black Gold Hot Gold (2001), perpolitikan dunia selama abad ke-20 sarat dengan skandal minyak. Dikatakan, Perang Dunia I dan II tidak lain juga hasil konspirasi Standard Oil bersama Shell dan British Petroleum (BP) untuk membagi-bagi peta ladang minyak dunia. Shell dan BP Oil sendiri juga merupakan perusahaan hasil merger atau telah diambil alih asetnya oleh pecahan perusahaan Standard Oil.

Perang Irak tidak lain juga merupakan sandiwara para pengusaha minyak raksasa multinasional. Majalah The Observer, yang terbit di London, menulis pada tanggal 26/1/2003, ChevronTexaco kemungkinan akan melaporkan kenaikan sebesar 300 persen. Chevron pernah merekrut hawkish Condoleezza Rice, Penasihat Keamanan Nasional Bush (sekarang Menlu AS), sebagai salah seorang anggota komisaris. Chevron sendiri awalnya juga merupakan gabungan dari dua pecahan perusahaan Standard Oil, yaitu Standard Oil California dan Standard Oil Kentucky.

Blok Cepu

Ceritanya beralih pada kasus Blok Cepu yang melibatkan ExxonMobil, yang merupakan penjelmaan Standard Oil 100 tahun yang lalu. Blok Cepu awalnya diusahakan oleh PT Humpuss Patra Gas (HPG) melalui technical assistance contract (TAC) dengan Pertamina. Dengan alasan tidak memiliki pendanaan yang cukup untuk mengeksploitasi cadangan minyak di blok itu, HPG kemudian melepas 49 persen sahamnya kepada Ampolex pada tahun 1997. Ampolex adalah perusahaan minyak yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh ExxonMobil.

Kontrak TAC HPG kemudian berubah menjadi TAC plus karena melibatkan investor asing. Menurut Kepala Badan Pengelolaan dan Pengawasan Kontraktor Asing (BPPKA) PT Pertamina Zuhdi Pane (Kompas, 28/2/ 2006), pelibatan investor asing dalam TAC sebenarnya tidak diperbolehkan secara peraturan perundang-undangan. Akan tetapi, pihak Ampolex melakukan pendekatan terhadap pemerintah Soeharto untuk diloloskan.

Dalam perkembangannya kemudian, Mobil Oil mengambil alih 100 persen saham Humpuss di Cepu melalui Ampolex dan kemudian merger dengan Exxon menjadi ExxonMobil. Setelah selesai kontrak tahun 2010, semestinya Blok Cepu 100 persen menjadi milik Pertamina. Padahal, dengan berlakunya UU Migas 22/2001, TAC yang ada tidak boleh diperpanjang lagi (Petroleum Report 2003, US Embassy).

Kenapa pihak ExxonMobil 'ngotot' untuk mengambil alih Blok Cepu dari PT HPG dan ingin memperpanjangnya hingga 30 tahun?

Cadangan prospektif Blok Cepu di kedalaman kurang dari 1.700 meter mencapai 1,1 miliar barrel, sedangkan cadangan potensial di kedalaman di atas 2.000 meter diperkirakan 11 miliar barrel. Dengan demikian, Blok Cepu mengandung cadangan minyak terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia melampaui cadangan minyak di Indonesia secara keseluruhan, yang diperkirakan selama ini hanya sekitar 9,7 miliar barrel. Pihak ExxonMobil sudah barang tentu mengetahui hal ini. Adakah ExxonMobil lewat lobinya ke Pemerintah AS ikut menekan Indonesia hingga terjadi amandemen UUD 1945?

Tanggal 19 Mei 2003 majalah Time menulis, Selama lebih dari setengah abad, politik luar negeri AS yang berkaitan dengan minyak secara tipikal selalu manipulatif atau menyeleweng. Pola intrik yang dilancarkan AS mulai dari penulisan undang-undang secara rahasia hingga bentuk pelengseran sebuah pemerintahan yang mempunyai tingkat kebebasan terlalu tinggi dalam menangani penjualan minyaknya.

Menurut Marshall Douglas Smith juga, sebanyak 38 presiden Amerika terakhir seluruhnya adalah orang Standard Oil kecuali satu, Jimmy Carter.

Kontroversi Blok Cepu bukanlah pengecualian dari bentuk pola bisnis yang dikembangkan oleh ExxonMobil. Sungguh ironis, para pemimpin nasional kita menolak penguasaan Blok Cepu oleh bangsanya sendiri.

Warsito Research Scientist, The Ohio State University, USA, Ketua MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia)

kompas.com/2494271.htm

Email berubah jadi plain text? (Outlook)

2006-03-01 · #Tips & Tricks

Kalau Anda memakai Outlook dan semua email masuk berubah jadi plain text, coba periksa registry:

Microsoft Office Outlook 2003
HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Office\11.0\Outlook\Options\Mail

Microsoft Outlook 2002
HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Office\10.0\Outlook\Options\Mail

Outlook bekerja berdasarkan key registry ReadAsPlain dengan nilai:

• Nilai 0, Outlook membaca email dalam format aslinya.
• Nilai 1, Outlook membaca email sebagai plain text.

my other side: setyadi.com