Total Koin Prita Rp 810 Juta
2009-12-30 · #Indonesia #Kliping
Total Koin Prita Rp 810 Juta, Disalurkan untuk Dana Kemanusiaan
Hery Winarno - detikNews
Jakarta - Koin Keadilan untuk Prita Mulyasari selesai dihitung Bank Indonesia (BI). Total uang yang terkumpul mencapai Rp 810.940.402. Uang itu akan disalurkan untuk dana kemanusiaan.
Uang sebanyak itu terdiri dari koin logam Rp 589.073.143 dan uang kertas Rp 26.488.900. Sedangkan uang Prita di Bank Mandiri yang disetor pada 23 Desember 2009 sebesar Rp 92.353.475. Totalnya ada Rp 707.915.518. Sedangkan jika ditambah dari cek-cek bantuan dermawan, total Rp 810.940.402.
Ratusan juta koin itu dihitung petugas Bank Indonesia selama 5 hari. Bagian kasir BI mengerahkan 7 orang dan dibantu 16 orang dari Bank Mandiri.
"Nantinya, uang ini akan kita gunakan untuk tujuan atau dana kemanusiaan," kata Prita usai acara penghitungan koin di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Selatan, Rabu (30/12/2009).
Namun, Prita mengaku belum tahu seperti apa bentuk penyaluran dana kemanusiaan itu.
"Bentuknya nanti seperti apa, saya belum tahu. Yang jelas, saya akan duduk bareng dulu dengan koordinator pengumpulan koin keadilan untuk membicarakannya," ujar ibu 2 anak ini.
Prita yang mengenakan baju dan celana jins warna biru dan kerudung warna abu-abu ini tampak sumringah. Dia didampingi koordinator Koin Peduli Keadilan Yusro Santoso dan Deputi Gubernur BI Budi Rochadi.
Prita mengaku mendapat tambahan dana dan cek dari beberapa rekan dan donatur. "Ada beberapa cek seperti dari Fahmi Idris dan Wahid Institute. Dari Fahmi, kalau tidak salah Rp 100 juta," kata Prita.
"Sehingga kalau ditambahkan semuanya, jumlah rekening saya yang tercatat di Bank Mandiri ada Rp 810.940.402," lanjut dia.
Selain itu, Prita menerima koin dan uang kertas berbentuk dollar, euro, bath, ringgit dan koin Timezone. Uang kertasnya ada 5 lembar dan uang logamnya 1.599 keping.
"Kalau seumpama nanti Mbak Prita mau dirupiahkan, BI akan membantu. Nanti, kita akan tukar di valas. Karena BI tidak mengurusi itu," kata Budi Rochadi.
(aan/nrl)
Prita Mulyasari Divonis Bebas
2009-12-29 · #Indonesia #Kliping
Prita Mulyasari Divonis Bebas
Reza Yunanto - detikNews
Jakarta - Prita Mulyasari akhirnya divonis bebas. Prita tidak terbukti melakukan pencemaran nama baik RS Omni International. Prita pun langsung sujud syukur.
"Menyatakan terdakwa Prita Mulyasari bebas dan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pencemaran nama baik," kata Ketua Majelis Hakim, Arthur Hangewa, di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Jalan TMP Taruna, Tangerang, Selasa (29/12/2009).
Kedua, kata Arthur, membebaskan Prita dari dakwaan dan tuntutan jaksa penuntut umum.
Ketiga, memulihkan nama baik dan martabat terdakwa. Selanjutnya, keempat menyita barang bukti dan membebankan biaya perkara kepada negara.
Prita tampak memanjatkan syukur dengan mengusap wajahnya. Puluhan pendukung Prita pun bersorak gembira. "Hidup Prita...Allahu Akbar.
Prita langsung maju ke depan meja hakim dan melakukan sujud syukur.
(aan/gah)
UUITE bisa diubah!
2009-12-22 · #Indonesia #Kliping #Tech News
Menkum Akan Revisi UU ITE
Hery Winarno - detikNews
Jakarta - Korban UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) berjatuhan. Setelah Prita Mulyasari, kini menjerat Luna Maya. Menteri Hukum (Menkum) dan HAM Patrialis Akbar berniat merevisi UU itu.
"Saya kira itu mesti diubah karena itu sangat sensitif," ujar Patrialis sebelum seminar bertajuk Anti Pemalsuan, di Hotel Le Meridien, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (22/12/2009).
Mantan anggota DPR ini mengakui, dengan adanya UU itu ekspresi orang untuk menyampaikan pendapatnya terkebiri. UU ITE disalahgunakan dipakai dalam kasus pencemaran nama baik.
"Pasal sensitif ini dikit-dikit dipakai untuk mencemarkan nama baik sehingga timbul pemikiran untuk diubah. Karena UU itu jadi kejam dan banyak korban yang sudah berjatuhan," jelasnya.
Saat ditanya lagi apakah UU ITE diubah atau dilakukan judicial review, Patrialis memilih UU itu diubah. "Nanti diubah dari awal," ujar politisi PAN ini.
(nik/nrl)
RPP Penyadapan itu apa sih?
2009-12-22 · #Indonesia #Kliping #Security
RPP Penyadapan
Bila Disahkan, Presiden & Menteri Sulit Disadap
Indra Subagja - detikNews
Jakarta - Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Penyadapan benar-benar menjadi buah simalakama bagi pemberantasan korupsi. Bila RPP Penyadapan ini disahkan, sejumlah pejabat akan sulit untuk disadap.
" Presiden dan jajaran menteri kabinet utamanya Menkominfo, Jaksa Agung, dan Kapolri, mustahil disadap," kata wakil Koordinator ICW, Emerson Yuntho dalam siaran pers, Selasa (22/12/2009).
Bukan hanya itu, para penyelenggara negara di lingkungan peradilan pun akan aman. Mengingat untuk menyadap memerlukan izin dari Ketua Pengadilan Jakarta Pusat.
"Juga seluruh jajaran pengadilan hingga Mahkamah Agung. Mereka akan sulit disadap," imbuhnya.
Belum lagi mereka yang tergabung dalam anggota pusat intersepsi nasional dan Dewan Pengawas Intersepsi Nasional. "Termasuk juga di dalamnya adalah kerabat, kawan, kroni, rekan satu partai atau profesi pejabat," terangnya.
Bila ingin melakukan penyadapan, atas pihak-pihak tersebut maka kemungkinan proses penyadapan ditolak. "Atau berlarut-larut prosesnya dan juga menjadi bocor," tutupnya.
(ndr/iy)
CGK : on-time airport number 2! :)
2009-12-17 · #Indonesia #Kliping
Soekarno-Hatta world's second most on-time airport
The Jakarta Post , Jakarta | Wed, 12/16/2009 8:16 AM | Headlines
Despite numerous complaints about its meager services, the Soekarno-Hatta International Airport is good at one thing: punctuality.
Luxury travel news portal forbestraveler.com has announced that the airport is the second most on-time international airport worldwide according to data from FlightStats, an Oregon-based company that tracks flight information for airports and airlines around the world.
The portal ranked Soekarno-Hatta below reigning champion, Tokyo's Haneda Airport, and above Narita, which came in third.
The data defined an on-time airport as one having the most flights less than 15 minutes late.
The same yardstick is used by the Geneva-based Airports Council International.
The study, which included 50 of the busiest airports in the world, took data from Aug. 1, 2008, to July 31, 2009.
The portal's report called Soekarno-Hatta this year's most improved airport on its top ten as it "jumped from last year's sixth slot thanks to impressive 84.2 percent on-time arrivals and 89.2 percent on-time departures."
Arrival and departure flights were 79.3 percent and 86.3 percent on-time, respectively, last year.
The head of Soekarno-Hatta airport, Hariyanto, attributed the achievement to the joint efforts by the airline companies, the airport management, the custom and excise agency, and other stakeholders to increase the overall quality of service.
"We check the passengers' belongings in a timely manner and coordinate with the airline companies to prevent flight delays. We also urge passengers to come two hours before flight time," he said.
Hariyanto said to improve service, the airport management team planned to add visa and travel
counters for arriving international passengers.
Tulus Abadi from the Indonesian Consumer Protection Foundation (YLKI) said he disagreed with the ForbesTraveler rank.
"I do not think 'second most on-time airport' rightly describes the flights to and from Soekarno Hatta.
Also, the punctuality of flights are indicative of improved airline services, not so much airport management," Tulus added.
Tulus said a YLKI survey among passengers using Soekarno-Hatta last year found that the general perception was that airlines there often delayed their flights and that the airport did not properly manage its facilities, especially the toilets.
Out of eight airport facilities listed in the survey, toilets accounted for 46 percent of the 955 complaints about the airport's facilities.
The other eight were prayer rooms, sign boards, X-ray machines, trolleys, waiting rooms, parking lots, airport information and eating places.
"Maybe the myriad complaints regarding the toilets has forced the airport management to take steps to flush out the problem," Tulus said.
Soekarno-Hatta was declared as the international airport with second cleanest toilets in Indonesia by the Tourism Ministry in September 2009, lagging behind Surabaya's Juanda International Airport.
It was an marked improvement from 2007, when Soekarno-Hatta ranked fourth. (mrs)
13 Jurus Melumpuhkan KPK
2009-12-09 · #Indonesia #Kliping
13 Jurus Melumpuhkan KPK
Mega Putra Ratya - detikNews
"Terdapat 13 jurus untuk melumpuhkan KPK," kata Koordinator Badan Pekerja Indonesia Corruption Watch (ICW) Danang Widoyoko saat acara refleksi hari antikorupsi sedunia, di kantor Tranparency International Indonesia (TII) Jl Senayan Bawah, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (9/12/2009).
Danang merinci ketigabelas jurus melumpuhkan KPK yang pernah terjadi dan terus terjadi hingga kini. Jurus-jurus itu adalah pertama, Judicial Review UU KPK ke Mahkamah Konstitusi (MK).
"Setidaknya MK telah menerima delapan kali UU KPK untuk diuji, salah satu
putusannya terkait dengan pengadilan tindak pidana korupsi," kata dia.
Kedua, pengkerdilan kewenangan penyadapan. Percobaan pelemahan KPK melalui jurus ini dilakukan berulang kali. "Kasus terakhir adalah Rancangan PP Penyadapan yang diinisiasi Depkominfo," imbuhnya.
Ketiga, menghilangkan atau mengaburkan kewenangan penuntutan KPK. Jurus ini sempat disusupkan dalam RUU Pengadilan Tipikor yang menyatakan penuntutan akan dikembalikan pada koordinasi Jaksa Agung. Keempat, serangan legislasi.
"Jurus ini dilakukan pada kasus RUU KPK (revisi UU No. 30 tahun 2002 tentang
KPK, RUU Tindak Pidana Korupsi (revisi UU No. 31 tahun 1999 Jo UU No. 20 tahun 2001) serta Perppu No. 4 tahun 2009 yang menjadi dasar hukum kewenangan Presiden menunjuk langsung pimpinan KPK sementara," paparnya.
Kelima, ide pembubaran KPK. Ancaman ini pernah dilakukan kalangan DPR periode 2004-2009 dari Partai Demokrat pasca KPK melakukan penggeledahan Gedung DPR. Keenam, penarikan personal penyidik dan auditor.
"Pada November 2008, Mabes Polri menarik tiga perwira polisi yang diperbantukan di KPK. Pada Mei 2009, BPKP berupaya menarik 25 auditor yang sangat membantu pembongkaran korupsi di KPK. Atas tekanan publik, rencana itu urung dilakukan," jelasnya.
Ketujuh, membekukan fungsi penyidikan dan penuntutan KPK. Sebagian besar anggota Komisi III DPR periode 2004-2009 sempat meminta KPK cuti, karena jumlah pimpinan tidak cukup lima orang, sehingga mereka mengatakan penyidikan dan penuntutan tidak sah atau ilegal.
Kedelapan, rencana audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terhadap KPK. BPKP mengatasnamakan perintah SBY untuk mengaudit KPK.
"Presiden lalu membantah, namun publik tidak pernah tahu tentang ketegasan
sanksi terhadap Kepala BPKP," ungkapnya.
Kesembilan, kriminalisasi dan rekayasa hukum terhadap dua pimpinan KPK. Dari
pemeriksaan Tim 8 jelas terlihat tidak cukup bukti, bahkan proses hukum terkesan dipaksakan untuk menjerat Bibit-Chandra.
"Anggodo sebagai aktor utama dalam dugaan rekayasan yang bahkan mencatut nama Presiden SBY tidak disentuh," ujar Danang.
Kesepuluh, ancaman terhadap investigasi kasus Century. Sempat beredar pesan pendek (sms) tentang ancaman yang diduga berasal dari salah satu petinggi kepolisian terhadap dua penyidik KPK yang berada di Surabaya.
Kesebelas, penolakan pengajuan anggaran KPK.
"Pada November 2008, permohonan dana untuk pemberantasan korupsi dan
pembangunan gedung KPK di rekening 069 RAPBN 2009 ditolak DPR. Saat itu, KPK sedang gencar membongkar praktek suap anggota DPR," jelasnya.
Keduabelas, ancaman bom. Gedung KPK beberapa kali diancam bom, yakni pada Februari 2008 dan Juli 2009.
Ketigabelas, proses seleksi pimpinan KPK. Track record tidak menjadi pertimbangan serius bagi panitia seleksi yang dibentuk Presiden SBY untuk memilih calon pimpinan KPK.
"Komisi III DPR pun tetap memilih Antasari Azhar yang ditolak masyarakat luas karena rekam jejaknya sebagai jaksa bermasalah di beberapa daerah," ujar Danang.
Upaya-upaya pelemahan itu membuat pemberantasan korupsi di Indonesia menjadi suram. "Presiden SBY belum berhasil memimpin pemberantasan korupsi," lanjut Danang.
(mpr/nwk)
Biodegradable Algae Batteries
Algae is often touted as the next big thing in biofuels, but the slimy stuff could also be the key to paper-thin biodegradable batteries according to researchers at Uppsala University in Sweden. Eventually, the bio batteries could compete with commercial lithium-ion batteries.
Conducting polymers have long been thought to be a solution in developing lightweight, flexible, nonmetal batteries. But up until now, these polymers have had been impractical because regular paper can't hold enough of them work effectively. Now Uppsala researcher Maria Stromme and her team has found that the smelly algae species that clumps on beaches, known as Cladophora, can also be used to make a type of cellulose that has 100 times the surface area of cellulose found in paper. That means it can hold enough conducting polymers to effectively recharge and hold electricity for long amounts of time.
The algae-based paper sheet batteries hold up to 200% more charge than regular paper-based cellulose batteries, and they can recharge in as little as 11 seconds. Eventually, they could be used in any application that requires flexible electronics — for example, clothing or packaging that lights up. Perhaps most importantly, the algae batteries could one day cut down on e-waste from conventional metal batteries.
Via Live Science
Paper-thin Algae Batteries
Technology
Paper-thin Batteries Made from Algae
By Charles Q. Choi, Special to LiveScience
posted: 25 November 2009 09:44 am ET
Imagine wrapping paper that could be a gift in and of itself because it lights up with words like "Happy Birthday." That is one potential application of a new biodegradable battery made of cellulose, the stuff of paper.
Scientists worldwide are striving to develop thin, flexible, lightweight, inexpensive, environmentally friendly batteries made entirely from nonmetal parts. Among the most promising materials for these batteries are conducting polymers.
However, until now these have impractical for use in batteries — for instance, their ability to hold a charge often degrades over use.
Easy to make
The key to this new battery turned out to be an often bothersome green algae known as Cladophora. Rotting heaps of this hairlike freshwater plant throughout the world can lead to unsightly, foul-smelling beaches.
This algae makes an unusual kind of cellulose typified by a very large surface area, 100 times that of the cellulose found in paper. This allowed researchers to dramatically increase the amount of conducting polymer available for use in the new device, enabling it to better recharge, hold and discharge electricity.
"We have long hoped to find some sort of constructive use for the material from algae blooms and have now been shown this to be possible," said researcher Maria Strømme, a nanotechnologist at Uppsala University in Sweden. "This creates new possibilities for large-scale production of environmentally friendly, cost-effective, lightweight energy storage systems."
The new batteries consisted of extremely thin layers of conducting polymer just 40 to 50 nanometers or billionths of a meter wide coating algae cellulose fibers only 20 to 30 nanometers wide that were collected into paper sheets.
"They're very easy to make," Strømme said.
Quick to charge
They could hold 50 to 200 percent more charge than similar conducting polymer batteries, and once better optimized, they might even be competitive with commercial lithium batteries, the researchers noted. They also recharged much faster than conventional rechargeable batteries — while a regular battery takes at least an hour to recharge, the new batteries could recharge in anywhere from eight minutes to just 11 seconds.
The new battery also showed a dramatic boost in the ability to hold a charge over use. While a comparable polymer battery showed a 50 percent drop in the amount of charge it could hold after 60 cycles of discharging and recharging, the new battery showed just a 6 percent loss through 100 charging cycles.
"When you have thick polymer layers, it's hard to get all the material to recharge properly, and it turns into an insulator, so you lose capacity," said researcher Gustav Nyström, an electrochemist at Uppsala University. "When you have thin layers, you can get it fully discharged and recharged."
Flexible electronics
The researchers suggest their batteries appear well-suited for applications involving flexible electronics, such as clothing and packaging.
"We're not focused on replacing lithium ion batteries — we want to find new applications where batteries are not used today," Strømme told LiveScience. "What if you could put batteries inside wallpaper to charge sensors in your home? If you could put this into clothes, can you couple that with detectors to analyze sweat from your body to tell if there's anything wrong?"
Future directions of research include seeing how much charge these batteries lose over time, a problem with polymer batteries and all batteries in general. They also want to see how much they can scale up these batteries, "see if we can make them much, much larger," Strømme said.
The scientists detailed their last month in the journal Nano Letters.
New energy from slow moving water
Technology to generate power from slow moving river and ocean currents
Chris Connors of MAKE has a post about "a new way of generating electricity with the slow moving currents found in most of the rivers and oceans of the world." (Video here.)
VIVACE is the first known device that could harness energy from most of the water currents around the globe because it works in flows moving slower than 2 knots (about 2 miles per hour.) Most of the Earth's currents are slower than 3 knots. Turbines and water mills need an average of 5 or 6 knots to operate efficiently.Ocean currents can power the world, say scientistsVIVACE stands for Vortex Induced Vibrations for Aquatic Clean Energy. It doesn't depend on waves, tides, turbines or dams. It's a unique hydrokinetic energy system that relies on "vortex induced vibrations."
Funny snapshots in Indonesia :)
2009-11-24 · #Humor
Hanya di Indonesia si Mak Erot
Hanya di Indonesia ada yg jual ES PANAS
Hanya di Indonesia ada peringatan kyk gini (sbnrnya "Gunakkan Listrik seperlunya" tapi ada yg jail hapus hurufnya
Hanya di Indonesia kotak suratnya segede gini
Hanya di Indonesia anak majikan dianggap sebagai herder
Hanya di Indonesia ada Pecel Lele pake listrik
Hanya di Indonesia bisa parkir seenaknya
Hanya di Indonesia ada larangan merokok seperti ini
Hanya di Indonesia yg memadukan IT dengan cara Tradisional
Hanya di Indonesia supirnya ada yg bekas penulis puisi
Hanya di Indonesia binatang malu difoto ama manusia
Hanya di Indonesia ada ancaman kyk gini
Hanya di Indonesia ada Bis Kota yg bisa dimakan
Hanya di Indonesia orang bisa jadi Polisi n jadi Tukang Becak dalam waktu yg bersamaan
Hanya di Indonesia ada anjing yang berani gigit ketua RT
Hanya di Indonesia ada yg jual Lemon Tea bentuknya kyk gitu
Hanya di Indonesia ada Asbak terbesar sejagat raya
Hanya di Indonesia terjadi Pedamaman
Hanya di Indonesia kita bisa nabung sembari makan bakso
Hanya di Indonesia yang punya merek mobil seperti ini
Hanya di Indonesia yang punya nama tempat seperti ini
Hanya di Indonesia ada yang bisa menyaingi KFC (Kentucky Fried Chicken)
Hanya di Indonesia ada minuman berdosa
Hanya di Indonesia ada yg jual menu minuman kyk gini
Hanya di Indonesia ad kasus konyol seperti ini
Hanya di Indonesia ada cabang Starbucks Coffee buat kalangan bawah
Hanya di Indonesia ada yg jual Switter
Hanya di Indonesia yang pake peringatan meyakinkan pembelinya kyk gini
Hanya di Indonesia Nokia mendistribusikan produk sendalnya
Hanya di Indonesia motornya bisa dinaekin lebih dari 5 orang
Hanya di Indonesia yang mempuyai kembaran Presiden US
Hanya di Indonesia dimana Kasih sayang seorang Ibu bisa kalah dengan kasih sayang seorang Pembantu
Hanya di Indonesia ada orang yg curhat saat banjir
Hanya di Indonesia ada marka jalan sesat kyk gn
Hanya di Indonesia mahasiswa bisa ngambil jurusan Tambel Ban
Hanya di Indonesia ada peringatan untuk mengedarkan Narkoba (melarang untuk tidak mengedarkan = harus mengedarkan? ? )
Hanya di Indonesia orang dilarang untuk tidur di bawah mobil