Mengenang Fanta Mocca yang Pernah Ada
2019-01-30 · #Kliping
Iseng mencari jejak minuman masa lalu, saya menemukan bukti bahwa Fanta Mocca memang pernah eksis di Indonesia. Rasanya cukup unik membayangkan ada varian rasa kopi dalam kemasan soda yang legendaris ini.
Melalui CanMuseum, terlihat jelas spesifikasi kalengnya yang menyatakan produk ini memang diproduksi khusus untuk pasar lokal kita. Nostalgia sederhana yang cukup menarik untuk diingat kembali di tengah ramainya pilihan minuman saat ini.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 30 Januari 2019.
Wacana Motor Masuk Tol: Logika yang Terlalu Dipaksakan
2019-01-30 · #Indonesia

Belakangan ini saya membaca wacana soal motor yang akan diperbolehkan masuk jalan tol. YLKI dengan tegas menyebut ini sebagai 'sesat pikir', dan sejujurnya, saya setuju. Mengingat data 31 ribu orang meninggal di jalan raya tiap tahunnya—di mana 71 persennya adalah pengendara motor—membuka akses tol justru terasa seperti mengundang petaka yang lebih besar.
Dalam artikel di Detik Oto ini, YLKI menyoroti adanya dugaan lobi industri dan aplikator ojek online di balik wacana ini, apalagi ditambah aturan uang muka nol persen untuk kredit motor. Sebagai pengguna kursi roda yang sehari-hari memperhatikan mobilitas di Jakarta, saya merasa keselamatan nyawa warga seharusnya jauh lebih utama daripada sekadar memuluskan kepentingan industri atau memfasilitasi tren mobilitas tertentu tanpa perhitungan risiko yang matang.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 30 Januari 2019.
Ucapan Sederhana di Hari yang Spesial
2019-01-29 · #Catatan Pribadi
Kadang, sebuah ucapan singkat dalam bahasa Prancis, Je vous souhaite plein de bonheur en cette journée spéciale, sudah lebih dari cukup untuk menyampaikan doa baik. Tidak perlu panjang lebar.
Semoga kebahagiaan itu benar-benar menyertai siapa pun yang sedang merayakan momen istimewa hari ini. Tetaplah berbagi energi positif di tengah riuhnya Jakarta.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 29 Januari 2019.
Tentang Keinginan dan Kebebasan untuk Terbang
2019-01-22 · #Puisi & Lirik
Membaca ulang lirik lagu lama ini, saya teringat betapa kuatnya keinginan untuk sekadar merasa bebas. Je voudrais voler, comme un oiseau—saya ingin terbang, layaknya seekor burung.
Ada pengingat sederhana di sana: jika kita benar-benar menginginkannya, kita akan menemukan jalannya. Kadang, keterbatasan fisik yang saya jalani dengan kursi roda ini membuat frasa 'menemukan jalan' terasa lebih literal, tapi esensinya tetap sama. Semuanya kembali pada kemauan untuk menangkap hari dan memberanikan diri untuk terbang jauh, meski hanya di dalam pikiran.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 22 Januari 2019.
Ketika Teknologi Beradu dengan Literasi Kita
2019-01-22 · #Tech News

Saya memperhatikan sebuah pola yang makin mengkhawatirkan: teknologi yang canggih sering kali tidak dibarengi dengan kemampuan masyarakat kita untuk mencerna berita dengan jernih. Dampaknya, penyebaran hoaks dan informasi menyesatkan di aplikasi pesan instan menjadi sulit dibendung.
Baru-baru ini, WhatsApp mengambil langkah tegas dengan membatasi fitur forward pesan maksimal ke lima kontak saja secara global. Kebijakan yang dulunya diuji di India ini adalah respons atas peristiwa kelam akibat misinformasi. Bagi saya, ini pengingat bahwa fitur teknologi bukan sekadar soal kemudahan, tapi juga soal tanggung jawab kita sebagai pengguna dalam menyaring apa yang kita bagikan.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 22 Januari 2019.
Pesona Ira Koesno di Layar Kaca
2019-01-17 · #Hiburan
Melihat nama Ira Koesno kembali ramai di linimasa, ingatan saya langsung melayang ke masa-masa di mana ia menjadi ikon pembawa berita yang sangat berkarakter. Ada semacam nostalgia melihat bagaimana sosoknya tetap konsisten dengan gaya bicaranya yang tegas dan berwibawa.
Kadang hal-hal sederhana seperti melihat tokoh favorit muncul kembali di layar bisa memicu percakapan panjang, meski bagi saya, ia tetaplah standar jurnalisme televisi yang sulit tergantikan.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 17 Januari 2019.
Realita Ekonomi Pakistan di Bawah Imran Khan
2019-01-15 · #Dunia
Tahun 2019 lalu, saya sempat mencatat langkah Imran Khan yang baru menjabat sebagai PM Pakistan. Saat itu, langkah yang diambil terasa sangat pragmatis: langsung mencari pinjaman ke Arab Saudi dan China demi menjaga napas ekonomi negara.
Sayangnya, tautan berita yang sempat saya simpan sudah tidak bisa diakses lagi. Namun, pola 'gali lubang tutup lubang' demi kelangsungan hidup negara memang selalu jadi topik yang menarik untuk diamati dari kursi roda saya di Jakarta. Ekonomi negara memang seringkali lebih rumit daripada sekadar angka-angka di atas kertas.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 15 Januari 2019.
Saling Meludahi di Ruang Publik Kita
2019-01-14 · #Indonesia
Melihat interaksi di media sosial belakangan ini, rasanya kata "saling meludahi" jadi deskripsi yang sangat tepat. Rasanya lelah melihat bagaimana orang dengan mudahnya merendahkan pihak lain hanya karena perbedaan pandangan, seolah-olah kehormatan lawan bicara tidak ada harganya sama sekali.
Kadang saya berpikir, apakah kita memang sudah kehilangan kemampuan untuk sekadar duduk diam dan tidak saling menyerang? Dari atas kursi roda ini, saya lebih memilih mengamati daripada ikut masuk ke dalam pusaran kebencian yang tidak ada habisnya itu. Semoga kita bisa lebih tenang.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 14 Januari 2019.
Ironi Tiket Pesawat dan Paspor di Negeri Sendiri
2019-01-12 · #Indonesia

Ada yang janggal ketika membaca berita bahwa warga Aceh kini ramai-ramai membuat paspor hanya untuk pergi ke Jakarta. Alasannya klise tapi nyata: tiket penerbangan domestik jauh lebih mahal dibandingkan harus transit lewat Kuala Lumpur. Fenomena ini membuat saya mengelus dada.
Seperti kata sosiolog Ahmad Humam Hamid, jangan sampai kebijakan harga ini membuat orang berpikir dua kali untuk tetap 'menjadi' orang Indonesia. Bagi saya yang mobilitasnya terbatas dengan kursi roda, urusan logistik penerbangan domestik saja sudah cukup menantang, apalagi kalau harus dipaksa memutar lewat luar negeri hanya demi harga yang masuk akal. Sebuah ironi yang cukup pahit untuk disimak.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 12 Januari 2019.
Repo privat GitHub tanpa batas
2019-01-10 · #Tech News
Jadi, yang mana pilihan Anda: GitHub, Bitbucket, GitLab, atau yang lain?
Pengguna GitHub Free kini mendapat repositori privat tanpa batas
Selengkapnya: GitHub Free users now get unlimited private repositories
my other side: setyadi.com/unlimited-github-repo
Alienware Area-51m: Laptop yang Terasa Seperti Desktop
2019-01-09 · #Gadget

Melihat pengumuman Alienware Area-51m di CES 2019 ini cukup menarik perhatian saya. Laptop ini seolah mendobrak pakem bahwa laptop gaming harus sulit dibongkar pasang. Alienware benar-benar serius memberikan akses bagi pengguna untuk melakukan upgrade atau perbaikan layaknya sebuah PC desktop.
Yang saya suka adalah perhatian mereka pada detail teknis: ada panduan yang tercetak langsung di rangka, sekrup yang mudah dilepas, hingga pull tabs untuk kabel-kabel halus agar tidak rusak saat dibongkar. Bagi seseorang dengan keterbatasan mobilitas seperti saya, kemudahan akses perangkat keras seperti ini adalah impian. Ini bukan sekadar laptop kencang, tapi sebuah mesin yang memang dirancang untuk bisa dirawat sendiri oleh pemiliknya.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 9 Januari 2019.
Ikan di Dalam USB Drive, Ide Gila atau Seni?
2019-01-09 · #Gadget
Teringat sebuah catatan lama tentang USB drive unik yang menggunakan ikan sungguhan di dalamnya. Sempat ada keraguan dari pihak PETA, namun pembuatnya mengklarifikasi bahwa ikan yang digunakan adalah jenis silver-striped round herring yang memang sudah dibeli dari pasar lokal untuk konsumsi manusia.
Jujur saja, melihat gadget yang menggabungkan elemen organik seperti ini selalu menarik perhatian saya. Meski terdengar sedikit nyeleneh dan mungkin kurang praktis, kreativitas di balik desainnya tetap patut diapresiasi sebagai eksperimen estetika teknologi yang tidak biasa.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 9 Januari 2019.
Ancaman Kuantum dan Kesiapan Digital Kita
2019-01-06 · #Security

Membaca laporan dari MIT Technology Review ini membuat saya berpikir ulang soal keamanan data kita. Intinya, komputer kuantum di masa depan punya potensi untuk membongkar enkripsi yang saat ini kita pakai untuk melindungi segalanya, mulai dari transaksi kartu kredit sampai rekam medis sensitif.
Laporan dari National Academies of Sciences ini menyoroti bahwa kita masih sangat belum siap. Para ahli memprediksi butuh waktu setidaknya 20 tahun untuk menerapkan enkripsi yang tahan terhadap serangan kuantum. Sebagai seseorang yang hidup di dunia digital, ini pengingat kalau keamanan siber bukan hal statis; kita harus terus mengejar ketertinggalan teknologi sebelum ancaman itu benar-benar menjadi nyata.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 6 Januari 2019.
Tentang Arti Sebuah Ikhtiar
2019-01-04 · #Renungan
Terkadang, hidup hanya perlu diingatkan pada hal-hal yang paling mendasar. Sederhana saja: jangan pernah berhenti berusaha.
Di atas kursi roda ini, saya belajar bahwa ikhtiar bukan soal seberapa cepat kita sampai, tapi soal kemauan untuk terus bergerak maju meski langkah terasa berat. Tetap berjuang, apa pun kondisinya.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 4 Januari 2019.
Data Marriott Bocor, Privasi Kita Makin Rentan
2019-01-03 · #Security

Awal tahun 2019 ini dibuka dengan berita kurang sedap. Database reservasi Marriott diretas, dan dampaknya masif: sekitar 500 juta informasi pribadi tamu dikompromikan. Data yang bocor bukan main-main, mulai dari nama, alamat, nomor paspor, hingga detail kartu kredit.
Sebagai seseorang yang sering mengandalkan teknologi untuk mobilitas, berita seperti ini selalu bikin was-was. Seaman apa pun kita menjaga perangkat, kalau sisi server perusahaan besar saja bisa jebol, privasi kita benar-benar jadi taruhan. Pelajaran untuk lebih hati-hati lagi ke depannya, meski kadang terasa sia-sia kalau kebocoran datang dari pihak penyedia layanan.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 3 Januari 2019.
Menakar Utang Luar Negeri Kita
2019-01-03 · #Bisnis

Awal tahun ini, saya kembali bertanya-tanya soal isu klasik yang sering jadi perdebatan: sebenarnya untuk apa saja utang luar negeri kita? Sebagai orang yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar memantau perkembangan ekonomi dan teknologi dari kursi roda, saya sering merasa angka-angka makro yang beredar di media terasa sangat jauh dari realita sehari-hari.
Mungkin memang sudah saatnya kita lebih kritis melihat alokasi utang tersebut. Apakah benar-benar terserap untuk pembangunan infrastruktur yang produktif, atau justru sekadar menambal defisit? Bagi saya, transparansi adalah kunci agar kita yang di Jakarta dan daerah lainnya bisa ikut mengawal ke mana arah tujuan ekonomi bangsa ini.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 3 Januari 2019.
Mitos Infrastruktur Tanpa Utang
2019-01-02 · #Bisnis

Awal tahun ini saya sempat membaca narasi soal klaim pembangunan infrastruktur yang bisa dilakukan sepenuhnya tanpa utang. Topik ini menarik perhatian saya karena sering kali klaim semacam itu terdengar terlalu sederhana untuk sebuah proyek raksasa.
Sebagai contoh, ada pembahasan mengenai Tol Cipali yang sempat disebut-sebut dibangun tanpa utang. Faktanya, tol tersebut justru dijual tak lama setelah diresmikan pada 2015. Bagi saya, ini pengingat bahwa di balik megahnya infrastruktur, selalu ada mekanisme pendanaan yang kompleks—dan menjual aset setelah jadi adalah bagian dari strategi bisnis yang lumrah, bukan sekadar cerita "tanpa utang" yang sering didengungkan di permukaan.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 2 Januari 2019.
Apresiasi untuk Kebijakan Aksesibilitas di Jakarta
2019-01-02 · #Indonesia

Awal tahun ini membawa kabar baik bagi saya dan teman-teman disabilitas di Jakarta. Kebijakan yang mengecualikan kendaraan pembawa disabilitas dari aturan ganjil-genap akhirnya ditegaskan kembali.
Terima kasih untuk Bapak Gubernur DKI Jakarta. Langkah sederhana ini sangat membantu mobilitas kami yang bergantung pada kendaraan pribadi untuk beraktivitas di tengah kota yang belum sepenuhnya ramah kursi roda. Semoga ke depannya aksesibilitas publik terus membaik.
Catatan ini semula saya tulis di Facebook, 2 Januari 2019.