Selembar Charger Untuk Semua Mobile
| Selembar Charger Untuk Semua Mobile |
| 23 Jan 2006 7:06:40 PM |
| Sekarang tidak jarang orang-orang menggenggam lebih dari satu mobile, seperti ponsel dan PDA. Salah satu ciri khas mobile adalah kebutuhannya terhadap baterei charger. Sehingga dalam perjalanan panjang, pemilik harus membawa berbagai jenis charger. Satu charger untuk PDA, satu charger untuk kamera, satu charger untuk laptop, dan mungkin dua charger tambahan lagi untuk handheld game dan MP3 player atau portable multimedia player lainnya. Ini otomatis akan menambah beban Anda dalam perjalanan. Namun, hal ini tak akan karena sebentar lagi charger-charger tersebut tidak perlu lagi Anda bawa semuanya. Cukup dengan membawa satu charger yang berbentuk seperti mouse pad masuk dalam daftar bawaan Anda. Dengan charger yang saat ini sedang dikembangkan oleh Splashpower, sebuah institusi pendidikan dari Cambridge University, Anda dapat melakukan proses charging pada alat berjalan lebih dari satu sekaligus. Caranya pun sangat mudah, cukup letakkan perangkat di atas lembaran charger, maka proses charger akan langsung berjalan. Kini ada satu lagi perusahaan lain dari kalangan komersial yang ikut mengembangkan teknologi ini, yaitu MobileWave. (olv) |
Kalkulator SpeedCrunch
2006-01-20 · #Kliping #Programming
From: Ariya Hidayat <ariya.hidayat@gmail.com>
(Buat yang sudah jadi pengguna SpeedCrunch, abaikan saja e-mail ini)
Baru saja SpeedCrunch versi (terbaru) 0.7 Beta 1 dirilis. SpeedCrunch adalah kalkulator yang dirancang untuk mudah digunakan bagi pengguna keyboard. Sekarang tersedia untuk Linux (belum dites di BSD tapi mestinya bisa) dan Windows. Untuk Mac OS X, masih menunggu buildnya, kalau ada volunteer silakan!
Download untuk source-code:
http://speedcrunch.digitalfanatics.org/speedcrunch-0.7-beta1.tar.gz
Untuk Windows (3.9 MB, besar karena banyak DLLnya):
http://speedcrunch.digitalfanatics.org/speedcrunch-0.7-beta1-setup.exe
Apa saja fiturnya?
(1) Keyboard and programer-friendly. Ketikkan saja ekspresi yang ingin dihitung, misalnya "15%*1500" (berapa diskon 15% dari barang 1500 rupiah?), tekan Enter, hasilnya langsung muncul. Masih ada keypad yang bisa digunakan, tapi bisa dihilangkan juga kalau misalnya menyita tempat. Shortcut selalu ada untuk fungsi-fungsi penting (misalnya Ctrl+I untuk insert variable).
(2) History. Gunakan panah atas dan bawah untuk memanggil ekspresi terakhir. Hasil perhitungan juga ditampilkan dan bisa digulung (scroll) seperti hasil cetakan.
(3) Variabel. "x=2" dan "y = 2*x" akan menghasilkan 4. Nama variable boleh panjang, misalnya "harga_asli = 10000", lalu "harga_diskon = harga_asli * 0.75".
(4) Ketelitian tinggi, internalnya diproses hingga 100 angka desimal. Bisa menampilkan hingga 50 angka desimal. Coba misalnya "pi/4".
(5) Fungsi matematik: abs, acos, asin, atan, cos, cosh, exp, frac, int, ln, log, round, sin, sinh, sqrt, tan, tahn. Sudut bisa dalam radian atau derajat. Fungsi-fungsi ini akan terus ditambah di masa depan.
(6) Syntax highlight (customizable). Antara variabel, fungsi, dan operator akan diwarnai berbeda. Bingung dengan tanda kurung? Pasangannya secara otomatis akan kena sorot. Screenshot ada di
http://ariya.pandu.org/blog/images/syntaxhilite.png
(7) Autocomplete. Tidak ingat nama fungsi atau variabelnya? Ketikkan huruf awal dan muncullah autocomplete, screenshot:
http://ariya.pandu.org/blog/images/fancycompletion.png
(8) Sebelum Anda selesai mengetik, SpeedCrunch sudah menghitung hasilnya. Fiture Calc-As-You-Type in bisa dilihat
http://ariya.pandu.org/blog/images/calcasyoutype.png
(9) Fancy about box. Coba saja lihat :-)
(10) GPL ! Silakan disebarluaskan sebebasnya dan sepuasnya.
Silakan kirimkan komentar, laporan bug, permintaan fitur, patch, feedback, atau makian kepada saya atau Johan Telin (maintainer yang baru).
SpeedCrunch adalah kalkulator default untuk Kubuntu (5.10) Breezy dan versi 0.7 ini rencananya juga akan masuk Kubuntu 6.04 yang akan datang.
Lain-lain:
Situs web resmi: http://speedcrunch.berlios.de/
Ulasan dari Mas Amal: http://direktif.web.id/arc/2005/02/speedcrunch
--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.375 / Virus Database: 267.14.21/235 - Release Date: 1/19/2006
Harry Tanoe Pengusaha Hitam?
2006-01-13 · #Bisnis & Ekonomi #Indonesia #Kliping
Muhammad Nur Hayid - detikcom
Jakarta - Serangan bertubi-tubi dilancarkan Egi Sudjana terhadap pengusaha Harry Tanoesoedibjo. Setelah melaporkan ke KPK, Egi menyebut Harry sebagai pengusaha hitam. Presiden SBY pun diminta agar jangan sampai Istana Kepresidenan kemasukan pengusaha hitam.
"Dalam konteks ini saya menyebutnya dengan jelas: Harry Tanoesoedibjo!" cetus Egi kepada wartawan di KPK, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (11/1/2006).
"Istana kan lambang negara, tidak boleh dimasuki pengusaha hitam yang menyogok dan menyuap pemimpin kita sehingga kebijakan menjadi lumpuh," lanjut praktisi hukum ini sebelum melaporkan dugaan korupsi yang dilakukan Harry ke KPK.
Egi juga menuding Harry selaku bos Media Nusantara Citra (MNC) dengan media yang dimilikinya telah merusak sistem demokrasi di Indonesia.
"Pers kan pilar demokrasi ketiga, sehingga dia sudah melumpuhkan demokrasi dengan menguasai pers," tuding Egi.
Mendengar ucapan Egi, wartawan RCTI pun bertanya kepada Egi soal dasar dugaan kasus korupsi yang melibatkan Harry. Eh, bukannya menjelaskan, Egi malah memberikan sindiran.
"RCTI banyak-banyak tanya, elu punya Harry Tanoe, entar enggak dimuat lagi," ketus Egi yang diiringi gelak tawa pendukungnya.
Egi kemudian langsung masuk ke gedung KPK untuk melaporkan dugaan kasus korupsi Harry, namun laporan tersebut ditolak KPK. Sebab untuk pembuatan laporan, Egi seharusnya mendatangi kantor KPK di Jl Djuanda, Jakarta Pusat, bukan di Jl Veteran.
(ndr)
detik
Salamullah Adalah Agama Baru
2006-01-09 · #Indonesia #Kliping #Renungan
(Dialog Imajiner Antara Kiai dan Santrinya)
Ulil Abshar-Abdalla
Mantan Koordinator Jaringan Islam LiberalIni adalah dialog imajiner antara seorang santri dan kiainya. Topik yang mereka diskusikan adalah isu yang sekarang sedang marak dan panas dibicarakan di koran-koran Ibu Kota, yaitu penangkapan sejumlah aktivis kelompok Salamullah yang dipimpin oleh Lia Aminuddin.
Santri: Pak Kiai, mohon maaf jika pendapat saya ini kurang berkenan pada panjenengan. Saya agak gerah dengan sikap beberapa tokoh Islam soal kelompok Lia Aminuddin.
Kiai: Lo, kamu simpatisan Lia, toh?
Santri: Bukan, sama sekali bukan, Kiai. Saya hanya merasa janggal, kenapa kelompok itu dianggap sesat dan harus diadili. Menurut hukum dan konstitusi kita, semua orang kan berhak memeluk keyakinan dan beribadah sesuai dengan keyakinannya itu.
Kiai: Begini, Anakku. Abaikan dulu soal konstitusi dan hukum kita. Kita kan punya aturan main sendiri dalam Islam. Mari kita lihat kasus Lia ini dari sudut pandang Islam.
Santri: Baik kalau begitu, Kiai. Menurut panjenengan, bagaimana kasus ini dipandang dari sudut Islam?
Kiai: Lo, kok malah kamu yang nanya. Kamu yang mulai pembicaraan ini, ya kamu dong yang lempar bola duluan. Saya kan tinggal menanggapi saja.
Santri: Maaf, Kiai. Saya emmm... agak grogi.
Kiai: Katanya santri "liberal", kok masih takut-takut sama kiai. Saya ini kan kiai demokrat, didebat sama santri juga ndak apa-apa. Ayo, silakan ngomong. Jangan lupa wedang-nya ini diminum. Ini ada juga jajanan pasar dari Bu Nyai. Kita ngobrol seperti seorang teman saja, ya. Aku ndak enak kalau memerankan diri jadi "kiai" terus. Capek.
Dalam hati, si santri itu agak geli. "Saya juga capek memerankan diri jadi santri terus. Sekali-sekali, pingin juga merasakan bagaimana jadi "kiai"," katanya pada dirinya sendiri.
Santri: Begini, Kiai. Menurut saya, apakah tepat kita menghakimi kelompok Lia ini dari sudut pandang Islam?
Kiai: Lo, apa maksumu? Kan ya sudah semestinya toh kita, sebagai orang Islam, memandang segala sesuatu dari sudut pandang Islam.
Santri: Begini, Kiai. Kita berhak menghakimi kelompok Lia dari sudut pandang Islam, kalau kelompok ini memang masih ada dalam keluarga Islam. Misalnya kemarin itu, kasus Ahmadiyah. Saya setuju jika MUI, misalnya, turut campur menanggapi soal Ahmadiyah karena kelompok ini memang masih dalam batas-batas Islam, meskipun taruhlah, beberapa orang tak setuju. Orang-orang Ahmadiyah juga masih merasa menjadi bagian dari Islam. Jadi, Kiai, kita berhak mengadili Ahmadiyah karena dia masih menjadi anggota keluarga kita. Tapi apakah kasus Lia demikian?
Kiai: Wah, boleh juga pendapat kamu ini. Coba teruskan. Aku ingin mendengarkan argumen kamu lengkap supaya aku bisa menilainya dengan jernih.
Santri: Kiai, ketidaktepatan MUI dan beberapa tokoh Islam lain adalah menganggap kelompok Lia ini adalah sempalan dari Islam, sehingga umat Islam berhak memberikan penilaian atas mereka. Bagaimana kalau faktanya kelompok Lia ini, Kiai, bukan sempalan, tapi adalah agama baru?
Kiai: Baik, baik. Terus....
Santri: Suatu agama tidak bisa dinilai berdasarkan standar agama lain. Maksud saya, Kiai, bukan berarti kita sebagai muslim tidak boleh menilai agama lain berdasarkan akidah kita. Tentu, itu boleh-boleh saja, tapi itu adalah bagian dari keyakinan kita sendiri. Tapi keberadaan agama lain tidak bergantung pada penilaian kita. Jadi kita tidak bisa mengatakan bahwa agama Kristen tidak berhak ada di Indonesia karena dalam standar Islam yang kita peluk agama ini keliru dan sesat. Itu tidak bisa karena hak agama Kristen untuk ada di Indonesia dijamin oleh undang-undang dan konstitusi.
Kiai: Begini, Anakku. Pendapat kamu baik, dan tajam sekali. Aku menghargai itu. Tapi ingat, kita berhak menilai kelompok Lia ini karena dia banyak memakai atribut Islam.
Santri: Seperti apa, Kiai?
Kiai: Lia mengatakan menerima wahyu dari Jibril. Ini masalah. Jibril adalah hak Islam, agama lain tak boleh ikut-ikut memakai tokoh itu. Lia memakai istilah Imam Mahdi. Istilah itu milik Islam, jadi kelompok Lia tak boleh pakai. Kalau Lia mau bikin agama baru, boleh saja. Tapi silakan pakai istilah dan akidah yang baru sama sekali, dan jangan pinjam milik orang lain. Itu etika antarsesama agama lo, ya.
Santri: Mohon maaf, Kiai. Bukankah soal pinjam-meminjam ini sudah pernah dilakukan oleh Islam dulu?
Kiai: Maksud kamu?
Santri: Kita semua tahu, Islam sendiri lahir dengan meminjam banyak kosakata dan akidah dari agama-agama sebelumnya. Hampir sebagian besar nabi yang berjumlah 24 sebelum Nabi Muhammad itu adalah milik agama Yahudi. Hukum potong tangan itu sudah ada sebelum Islam. Hukum qishah itu milik Torah. Tawaf di Ka'bah itu sudah ada berabad-abad di Mekkah. Institusi nikah juga sudah ada sebelum Islam, meskipun harus diakui, Islam membawa pembaruan. Tapi ide nikah sendiri bukan asli dari Islam. Jadi, Kiai, kalau Lia pinjam dari Islam, itu wajar saja. Islam dulu juga melakukannya.
Kiai: Memang Islam banyak meminjam dari agama sebelumnya karena Islam hanya meneruskan wahyu-wahyu yang datang sebelumnya. Tapi Islam juga mengoreksi penyelewengan-penyelewengan yang dibuat oleh pemeluk agama terdahulu. Jadi Islam itu ibarat "semir" yang membuat sepatu yang sudah tua dan sudah ada sejak lama menjadi mengkilat kembali.
Santri: Istilah yang Kiai pakai bagus sekali, "semir".
Kiai: Jangan dipahami harfiah. Itu metafor, kalau menurut anak sekolahan. Kalau bahasa pensantrennya, majaz. Kamu sudah pernah belajar kitab 'Uqud al-Juman, toh?
(Catatan: 'Uqud al-Juman adalah kitab klasik tentang teori sastra Arab yang dikarang oleh Imam Jalaluddin al-Suyuti. Kitab ini banyak diajarkan di pesantren.)
Si santri hanya mengangguk saja, seraya berkata kepada dirinya sendiri, saya tak paham sepenuhnya semua keterangan dalam kitab itu. Rumit.
Santri: Maaf, Kiai. Bagaimana kalau Lia juga berpendapat serupa? Dia melihat dalam Islam banyak distorsi. Bukankah distorsi tak hanya milik agama di luar Islam, tapi Islam sendiri juga bisa mengalami distrosi?
Kiai: Oh, tidak. Di Islam sudah ada mekanisme internal untuk mengoreksi distorsi itu, yaitu siklus pembaruan setiap 100 tahun. Kita punya sistem pengawasan melekat. Jadi, menurut Nabi, setiap 100 tahun, Allah akan membangkitkan seseorang yang memperbarui agama Islam. Jadi Islam tak butuh agama lain sekadar untuk mengoreksi distorsi yang ada di dalam dirinya.
Betul juga, kata santri kepada dirinya sendiri. Tapi dia masih belum sreg dengan jawaban si kiai.
Santri: Baik, Kiai. Kalau Islam tujuannya mengoreksi agama sebelumnya, kan lebih baik bermain di dalam, bukan dari luar. Maksud saya, Kiai, akan lebih efektif Islam menjadi korektor agama Kristen dan Yahudi dengan tetap berada dalam lingkungan kedua agama itu, bukan menjadi agama terpisah. Masak Kiai lupa, argumen sebagian para aktivis zaman Orba dulu.
Kiai: Maaf, saya potong, ya. Saya ndak kenal mereka. Jadi jangan salahkan saya kalau saya ndak tahu. Coba teruskan, apa kata mereka?
Santri: Maaf, Kiai. Dulu, pada zaman Pak Harto, sebagian aktivis politik bilang, kalau kita mau melakukan perubahan dalam pemerintahan Orba, lebih baik bekerja dari dalam, bukan mengkritik dan koar-koar dari kejauhan seperti LSM yang didanai asing itu. Nah, dengan memakai argumen ini, Kiai, saya akan mengatakan, kenapa Islam mendirikan agama baru kalau tujuannya untuk mengkritik Kristen dan Yahudi. Bukankah lebih baik bekerja dari dalam saja? Kan kritik dari dalam lebih didengar ketimbang dari luar.
Kiai: Kritik dari dalam sudah tidak bisa lagi karena kerusakan di dua agama itu sudah begitu parahnya. Jadi butuh agama baru untuk mengoreksi.
Si santri tak sabar untuk langsung menjawab.
Santri: Nah, Lia, atau tepatnya Jibril, mungkin juga berpikir begitu, Kiai. Kerusakan dalam Islam sudah begitu parah sehingga kritik dari dalam Islam sudah tak mempan lagi. Jadi dibutuhkanlah agama baru.
Percakapan mulai memanas. Kiai mulai memperbaiki posisi duduknya sambil menjentikkan rokok di asbak. Si santri tentu tak berani merokok di hadapan Kiai.
Kiai: Sebentar, sebentar, kehadiran Islam mengakhiri seluruh rangkaian agama di dunia ini. Jadi setelah Islam datang, berakhirlah seluruh mata rantai kritik-koreksi itu. Karena itu, jika betul Lia mengaku mendirikan agama baru, jelas hal itu batal karena tak ada agama baru setelah Islam datang.
Santri: Ya, Islam boleh menyatakan begitu, Kiai. Setiap agama berhak mengaku, dirinya adalah agama terakhir. Kita tak bisa menyanggah itu jika itu merupakan keyakinan. Saya sendiri tak yakin, Kiai, ada ajaran tentang Islam sebagai agama terakhir. Setahu saya, yang ada adalah pernyataan bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir. Tapi Islam adalah agama terakhir, sepertinya tak ada, baik di Quran maupun di hadis.
Kiai: Betul, kamu betul. Tapi bukankah agama baru mensyaratkan nabi baru? Jika Quran mengatakan tak ada nabi setelah Nabi Muhammad, itu artinya, tak ada agama baru.
Santri: Baik, Kiai. Kita abaikan dulu soal apakah pernyataan tak ada nabi baru berarti otomatis tak ada agama baru. Tapi secara faktual, klaim bahwa Islam adalah agama terakhir itu tak terbukti. Buktinya, 500 tahun lalu, lahir agama baru, yaitu agama Sikh yang sekarang mempunyai pengikut sekitar 20 juta di seluruh dunia. Setelah itu, Mirza Husein Ali Nuri mendirikan agama baru pada abad ke-19, yaitu agama Bahai. Jadi belum terlalu lama. Kesimpulannya, secara faktual, agama baru muncul terus setelah Islam, walaupun Islam menolak.
Kiai: Fakta itu tetap tak bisa membatalkan akidah kita bahwa setelah Nabi Muhammad tak ada nabi baru, dus dengan demikian agama baru juga tak ada.
Santri: Akidah kita itu milik kita sendiri, Kiai. Tapi akidah itu tak bisa dipakai untuk menilai sah-tidaknya keberadaan kelompok lain. Kita punya akidah bahwa agama Kristen itu salah, tapi kita toh tak bisa mengatakan, Kristen harus hengkang dari Indonesia. Semua agama, salah atau benar, berhak ada di bumi Indonesia. Itu dijamin oleh konstitusi negara kita.
Kiai: Sebentar, kamu dari tadi mengatakan bahwa Lia ini membawa agama baru. Apa buktinya?
Santri: Syarat-syarat kelompok Lia Aminuddin untuk menjadi agama baru itu sudah ada semua, Kiai.
Kiai: Apa itu?
Santri: Di sana ada wahyu, ada kitab suci, ada nabi, ada umat, ada ritual, dan ada tata cara ibadah tertentu. Bahkan mereka juga mempunyai lagu-lagu tertentu yang mereka nyanyikan seperti pujian yang kita lantunkan di langgar menjelang salat jemaah itu, Kiai.
Kiai: Lo, kamu dapat info lengkap itu dari mana?
Santri: Maaf, Kiai, sejak di pesantren kita dibuka warnet, saya sering online, Kiai. Saya baca banyak koran, majalah, dan situs-situs lain melalui Internet. Semua ada di sana, Kiai. Lengkap... kap.
Boleh juga santriku ini, kata Kiai kepada dirinya sendiri. Kalau begini, aku harus pasang Internet juga, biar ndak kalah informasi dengan santri-santri.
Kiai: Jadi, menurut kamu, Lia ini mendirikan agama baru, ya?
Santri: Betul, Kiai. Karena kelompok Lia ini adalah agama baru, kita tak berhak menghakimi mereka. Kita boleh mempunyai keyakinan bahwa mereka memeluk agama yang sesat, tapi mereka tak boleh dihukum atau dilarang. Mereka harus diperlakukan seperti pemeluk agama lain. Saya kira, penilaian MUI dan umumnya tokoh Islam di Jakarta itu kurang tepat karena mereka menggadaikan Lia masih dalam keluarga Islam, padahal sama sekali tidak. Mereka sudah berdiri sebagai agama terpisah.
Saat si kiai hendak menanggapi si santri, tiba-tiba terdengar suara salam. Ada seorang tamu datang. Pembicaraan terputus. Si santri buru-buru berlalu ke belakang, membantu menyiapkan minuman dan kue sekadarnya untuk tamu itu. Namun, dia puas sekali karena hari itu bisa berdiskusi secara leluasa dengan Kiai.
Koran Tempo
Hati vs Logika
2006-01-03 · #Catatan Pribadi