ivo@setyadi:~$ ivo.blogspot.com

# catatan teknis, sejak 2001

CWE-bench v2 Evaluasi Perbaikan Kerentanan LLM

Collinear AI merilis 100 tugas deterministik publik untuk menguji kemampuan LLM dalam menambal bug nyata. Setiap tugas mengharuskan model meng-clone repo open-source dan memperbaiki pola CWE spesifik tanpa merusak fitur yang ada. Sistem skor programatik dan lingkungan Docker memungkinkan reproduksi hasil secara lokal tanpa biaya API. Alat ini berguna untuk membandingkan open-weight models dengan API provider saat membangun defensive agents. Datanya bersifat gated di Hugging Face, sehingga pengguna wajib menerima akses sebelum memakai Harbor runner. Benchmark ini tidak bisa menggantikan full penetration testing karena hanya mencakup subset terbatas dari pola kelemahan yang sudah diketahui. sumber: huggingface.co/cwe-bench my other side: setyadi.com

Functional Design vs Technical Design

2016-10-07 · #Programming

Functional Design vs Technical Design

Functional design adalah rancangan yang disepakati antara arsitek perangkat lunak dan pelanggan bisnis. Ia menjelaskan apa yang harus dilakukan sistem, dengan cara yang bisa dipahami dan disetujui kedua pihak. Isinya bisa berupa kebutuhan antarmuka pengguna, pembahasan akses database, web service atau bentuk komunikasi lain, service level agreement, clustering, dan redundansi. Intinya, ia harus cukup rinci untuk menjadi definisi yang disepakati tentang apa yang akan dikerjakan sistem.

Technical design, sebaliknya, adalah rancangan yang disepakati antara arsitek perangkat lunak dan developer. Ia menjelaskan bagaimana sistem akan dibangun agar memenuhi functional design. Isinya memuat detail dan istilah yang tidak cocok untuk pelanggan bisnis tapi dibutuhkan developer: tata letak layar, nama tabel dan kolom database, WSDL atau protokol komunikasi dan format berkas, versi server dan sistem operasi beserta dependensinya. Intinya, ia harus cukup rinci agar pekerjaan unit test, kode, konfigurasi, dan dokumentasi teknis bisa dimulai.

Frank Carver

Sumber: coderanch.com

my other side: setyadi.com

Kita Berhasil, Obat Sofosbuvir telah Tersedia Bagi Pasien Hepatitis C di Indonesia!

2016-01-07 · #Indonesia #Kesehatan #Kliping

https://www.change.org/p/ibu-menkes-nilamoeloek-rakyat-butuh-obat-hepatitis-c-sofosbuvir-yang-murah

Update petisi

Kita Berhasil, Obat Sofosbuvir telah Tersedia Bagi Pasien Hepatitis C di Indonesia!

Ayu Oktariani
Tangerang Selatan, Indonesia
20 Des 2015 — Saya Ayu Oktariani, seorang ibu yang mengidap ko-infeksi HIV dan Hepatitis C, selama 6 tahun saya berjuang menjalani hidup saya dengan HIV. karena saya sadar, HIV belum dapat disembuhkan, maka saya berharap saya bisa menyembuhkan penyakit yang lainnya dan ingin dapat mengakses obat Hepatitis C. 

6 Bulan yang lalu, saya membuat petisi yang menuntut Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini Ibu Menteri Kesehatan untuk menyediakan obat Hepatitis C jenis Sofosbuvir. Kenapa, karena saya adalah salah satu orang dari 2 juta Rakyat Indonesia yang mengidap Hepatitis C, dan tidak dapat mengakses obat yang tersedia karena efek sampingnya yang begitu berat. Dan Sofosbuvir, adalah solusi bagi para pengidap Hepatitis C, untuk sembuh. Namun, karena belum tersedia di Indonesia, saya harus membeli-nya ke India.

Hari ini, saya sangat bersyukur. Ada hal yang tidak pernah terbayangkan oleh kita sebagai pasien yang mengidap suatu penyakit, dapat mengakses suatu obat sampai sembuh. Saya selalu percaya bahwa hak untuk sehat dapat diperjuangkan, bahkan oleh pasien itu sendiri. Dan hari ini, keyakinan itu terwujud, bahkan lebih dari apa yang saya harapkan sebelumnya. Keyakinan ini dapat terwujud, berkat upaya dan perjuangan seluruh rakyat Indonesia. 

Berkat perjuangan yang tidak ada putusnya, dukungan dari banyak pihak khususnya kelompok pasien dan masyarakat Indonesia. Suara rakyat didengar, adanya kebutuhan yang tinggi akan pengobatan Hepatitis C, mengetuk pintu batin begitu banyak pihak. Sehingga, obat Sofosbuvir kini sudah tersedia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dengan menggunakan skema khusus bekerja sama dengan kementrian kesehatan. 

Kini, para pengidap Hepatitis C bisa berlega hati. Karena selama kurun waktu yang lama hanya tersedia kombinasi obat Interferon dan Ribavirin, yang pengobatannya memiliki efek samping yang berat. Kini, tersedia Obat Kombinasi obat Sofosbuvir dan Ribavirin. Meski masih di bandrol dengan harga,Rp 3.675.000 untuk pengobatan selama 28 hari, paling tidak ini merupakan langkah yang baik, karena lebih banyak pasien yang dapat terbantu. 

Untuk itu, masih ada beberapa langkah advokasi yang harus kita lakukan bersama, agar obat Sofosbuvir, dapat segera masuk ke dalam daftar Formularium nasional, agar dapat diakses gratis menggunakan BPJS. Karena masih ada begitu banyak pasien yang tidak mampu, sehingga jangkauan pengobatannya bisa lebih luas ke seluruh Indonesia.

Pembelajaran terbaik, yang bisa kita petik bersama adalah, adanya transformasi perjuangan dari gerakan pasien menjadi gerakan masyarakat. Dari persoalan yang terbatas hanya fokus pada pengobatan pasien ko-infeksi HIV dan hepatitis C, kini menjangkau lebih banyak pasien dengan Hepatitis C. Saya sangat bahagia, bangga dan terharu atas perjuangan ini. Ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh rakyat Indonesia dan para aktifis yang berjuang bersama kami dan mewujudkan mimpi ini menjadi nyata.