Belaian nan lembut
2001-05-30 · #Kliping #Renungan
Oleh: Daphna Renan
Michael dan aku tidak tahu kapan pelayan meletakkan piring-piring di meja kami. Waktu itu kami duduk-duduk di sebuah restoran kecil, terlindung dari kesibukan Third Street, New York City. Aroma blintze yang baru saja disajikan tidak mengusik keasyikan kami mengobrol. Malahan, blintze itu lama kami biarkan terendam dalam krim asam. Kami terlalu asyik mengobrol sampai lupa makan.
Obrolan kami seru sekali, meskipun yang diobrolkan tidak penting. Kami tertawa-tawa membicarakan film yang kami tonton malam sebelumnya dan berdebat tentang makna di balik teks yang baru saja kami pelajari untuk seminar sastra. Dia bercerita waktu dia mengambil langkah penting menuju kedewasaan, yaitu hanya mau dipanggil Michael dan pura-pura tidak Mendengar bila dipanggil "Mikey". Waktu umur dua belas atau empat belas? Dia lupa, tetapi dia ingat ibunya menangis dan berkata bahwa dia terlalu cepat menjadi dewasa.
Ketika kami mencicipi blueberry blintzes, aku bercerita dulu aku dan kakakku suka memetik blueberry liar kalau mengunjungi sepupu-sepupu kami yang tinggal di desa. Aku ingat, aku selalu memakan habis bagianku sebelum pulang ke rumah dan bibiku selalu memperingatkan bahwa perutku pasti akan sakit sekali. Tentu saja, itu tak pernah terjadi.
Sementara obrolan kami yang menyenangkan terus berlanjut, pandanganku melayang ke seberang ruangan dan berhenti di sudut. Sepasang orang tua duduk berduaan di pojok itu. Si wanita mengenakan rok bermotif bunga yang sudah pudar, sama pudarnya dengan bantal tempat dia meletakkan tas tangannya yang kusam. Puncak kepala si lelaki mengkilat seperti telur rebus yang sedang dia nikmati pelan-pelan. Wanita itu mengunyah oatmeal-nya pelan-pelan juga, nyaris dengan susah payah.
Tetapi yang membuat pikiranku teralih kepada mereka adalah keheningan yang melingkupi mereka. Aku seakan melihat kekosongan melankolis melingkupi pojok tempat mereka duduk. Ketika obrolanku dengan Michael mereda dari gelak tawa menjadi bisikan, dari pengakuan ke penilaian, keheningan pasangan itu mengusik pikiranku. 'Alangkah menyedihkan,' pikirku, kalau tak ada lagi yang bisa diobrolkan. Tidak adakah halaman yang belum mereka baca dalam kisah hidup masing-masing? Bagaimana kalau itu terjadi pada kami?'
Michael dan aku membayar makanan lalu kami beranjak hendak meninggalkan restoran. Ketika kami melewati pojok tempat pasangan tua itu duduk, dompetku terjatuh. Aku membungkuk untuk mengambilnya, aku melihat, di bawah meja tangan mereka saling berpegangan lembut. Mereka makan dengan hening sambil bergandengan tangan!
Aku menegakkan tubuhku. Aku sangat tersentuh melihat tindak sederhana namun penuh makna yang mencerminkan kedekatan hubungan pasangan itu. Aku merasa istimewa karena boleh menyaksikannya. Belaian lembut tangan lelaki tua itu pada jari-jari istrinya yang letih dan keriput mengisi tidak hanya apa yang sebelumnya kuanggap sudut yang secara emosional kosong, tetapi juga mengisi hatiku. Keheningan mereka bukanlah keheningan yang tidak nyaman, Seperti ketidaknyamanan yang selalu kita rasakan setelah mendengar sebaris lelucon atau canda-tawa waktu kencan pertama.
Bukan itu.
Keheningan mereka adalah keheningan yang nyaman dan rileks, itu adalah ungkapan cinta yang lembut dan tidak selalu membutuhkan kata-kata untuk mengekspresikannya. Mungkin telah bertahun-tahun mereka bersama-sama menghabiskan jam-jam seperti ini di pagi hari. Mungkin hari ini tak ada bedanya dari kemarin, tetapi mereka menikmatinya dengan hati yang damai. Mereka saling menerima pasangannya, apa adanya. Mungkin, pikirku ketika aku dan Michael keluar dari restoran, bukan sesuatu yang buruk bila kelak yang seperti itu kami alami. Mungkin, itu akan menjadi ungkapan cinta yang lembut dan penuh kasih.
"Apa yang berasal dari hati, selalu menyentuh hati."
Don Sibert
Makasih ya, Hun
2001-05-28 · #Catatan Pribadi
As the deer panteth for the water
2001-05-25 · #Puisi & Lirik #Renungan
so my soul longeth after Thee.
You alone are my heart's desire,
and I long to worship Thee.
You alone are my strength my shield,
to You alone may my spirit yield.
You alone are my heart's desire,
and I long to worship Thee.
Garam dan telaga
2001-05-25 · #Kliping #Renungan
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak.
Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet.
Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya.
Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama.
Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air.
Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu.
"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.
Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya.
Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu.
Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.
"Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah.
Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?".
"Segar.", sahut tamunya.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi.
"Tidak", jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda.
Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
"Anak muda, dengarlah.
Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang.
Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.
"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.
Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya.
Itu semua akan tergantung pada hati kita.
Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.
Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat.
"Hatimu, adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu.
Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya.
Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu.
Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.
Thank you dear
2001-05-18 · #Catatan Pribadi
Walau hati resah
2001-05-18 · #Puisi & Lirik
mesti aku
paksakan jua
ingin sibakkan makna
antara
dua jiwa berbeda
No car, no english course
2001-05-18 · #Catatan Pribadi
no english course.
a 'perfect' day it is!
I'm tired with all this
2001-05-17 · #Catatan Pribadi
No sign of her
2001-05-17 · #Catatan Pribadi
get online.
no sign of her...
*sigh*
Sakit perut, mual
2001-05-17 · #Catatan Pribadi
Sakit perut.
Mual.
Doa Sang Katak
2001-05-16 · #Catatan Pribadi #Renungan
I felt left alone.
Then suddenly my fingers typed "Doa Sang Katak" at yahoo search engine.
And there it was. The top found item.
"Doa Sang Katak" by Father Anthony de Mello SJ.
It's the Indonesian version of "The Prayer of the Frog"
If you looked at the link above,
then you'll learn where is it placed.
In isnet. The Islamic Network Organization.
Besides "Doa Sang Katak", there are also "Burung Berkicau" and "Basa-basi".
So here I am...
Reading it there...
Wahai putri dalam cerminku
2001-05-16 · #Puisi & Lirik
dalam cerminku.
temani diriku terluka.
Pilek
2001-05-16 · #Catatan Pribadi
Angin kencang di sebelah jendela
2001-05-16 · #Catatan Pribadi
merontokkan kelopak-kelopak bunga yang beberapa hari yang lalu mekar indah.
tepat di sebelah jendela.
tempat komputerku berada.
tempat aku menggoreskan luka.
ke atas kertas di alam maya.
Seakan alam menangis
2001-05-16 · #Catatan Pribadi
menemaniku.
Mendung di tengah musim semi
2001-05-16 · #Catatan Pribadi
di tengah-tengah musim semi yang seharusnya indah.
Hari ini muram
2001-05-16 · #Catatan Pribadi
Semuram hatiku.
Roses by the church
2001-05-14 · #Catatan Pribadi
She was holding a bucket of roses.
She gave me three.
"I just want to give them to you" she said.
My heart sunk.
I can only smile...
... and whisper to myself:
"Happy mother's day, maam."
(St. Bernard, Keene, NH, May 13, 2001)
Happy monthliversary
2001-05-05 · #Catatan Pribadi
Imhotep, the first architect
2001-05-03 · #Sains
the Genius.
the Doctor.
the High Priest of Heliopolis.
the first known architect in the history.
the builder of the first pyramid, the Step pyramid.
(the Step piramid was the first built of more than a hundred pyramids in Egypt)
the Discovery Channel.
"The Lost Mummy of Imhotep".
the man was really exist after all.
not as a horryfying creature.
but as a scholar.
a genius of that time....
Kala kubuka sapa
2001-05-02 · #Puisi & Lirik
senyumanmu jawabannya
mempesona..