ivo@setyadi:~$ ivo.blogspot.com

# catatan teknis, sejak 2001

OpenIDEA, Aplikasi Pengganti IntelliJ Berbasis Rust

OpenIDEA adalah aplikasi open-source native yang mereplikasi keymap, tool window, dan kebiasaan pencarian IntelliJ menggunakan inti Rust. Saat diuji pada mesin Windows 32-core untuk membuka repo Python dengan 770 file, aplikasi ini melakukan start dalam 1,1 detik dan memakan memori 169 megabyte, jauh lebih cepat dibanding IntelliJ yang membutuhkan 13,2 detik dan 2 gigabyte. Dibangun di atas Tauri dan Rust, aplikasi ini menyertakan editor, debugger, terminal, dan database client untuk lebih dari enam puluh bahasa. Aplikasi ini layak dicoba jika Anda menyukai ergonomi JetBrains namun lelah dengan penggunaan memori JVM dan waktu startup yang lambat. Kekurangannya, engine analisis tidak sedalam IntelliJ sehingga code insight akan tertinggal pada codebase yang besar. Ini adalah alternatif tahap awal, jadi bersiaplah menghadapi plugin yang hilang dan berbagai kendala jika Anda mengandalkan tooling spesifik bahasa yang mendalam. sumber: github.com/l0ng-ai/openidea my other side: setyad...

bisnis.com : BES siapkan 5 produk baru

2006-08-15 · #Bisnis #Indonesia #Kliping

BANDUNG: PT Bursa Efek Surabaya (BES) telah menyiapkan lima produk efek baru yang diperkirakan dapat diperdagangkan secepatnya pada tahun depan.

Direktur BES T Guntur Pasaribu mengatakan lima produk itu merupakan bagian program pengembangan pasar surat utang di Indonesia yakni Interest Rate Futures, Efek Beragunan Aset, Mortgage Backed Securities, Collate-ralized Mortgage Obligation (CMO), dan Collateralized Bond Obligation (CBO).

Semuanya memiliki fungsi efek biasa di pasar modal, kecuali Interst rate Futures. "Interest Rate Futures itu nantinya akan berperan sebagai fungsi hedging [lindung nilai]," jelasnya.

Dari kelima surat utang itu, lanjut dia, produk CBO diramalkan akan paling diminati pasar karena produk ini memungkinkan penerbitan obligasi dengan menggunakan obligasi lainnya sebagai kolateral.

Khusus soal EBA, menurut dia, BES tengah mengintensifkan upaya penghapusan pajak berganda atas produk tersebut guna mengoptimalkan penyerapan pasar atas produk sekuritisasi aset itu pada tahun depan.

Guntur mengatakan persoalan pajak atas produk EBA sebenarnya sudah diatur dalam Bapepam-LK yang keluar baru-baru ini, namun praktik di lapangan sering berbeda.

"Pajak itu bisa dikoordinasikan. Dalam peraturan mengenai EBA [persoalan pajak] itu sudah diatur. Kami hanya meminta di lapangan lebih disederhanakan dan dipermudah," tuturnya kepada pers, akhir pekan lalu.

Samakan persepsi

Saat ini, lanjut dia, BES terus berdiskusi dengan Ditjen Pajak untuk menyamakan persepsi agar originator atau manajer investasi tak dikenakan pajak penambahan nilai (PPN) dua kali.

Menurut dia, pemerintah perlu memberikan insentif perpajakan bagi EBA agar para pelaku pasar berminat memperjualbelikan instrumen yang dikenal sama amannya dengan obligasi itu. Selama ini, faktor perpajakan itu menjadi salah satu pendorong originator domestik menerbitkan EBA di luar negeri (off shore).

"Di samping untuk mencari dolar, saya pikir itu juga karena perpajakan."

Oleh Arif Gunawan S.
Bisnis Indonesia

$ cd ~/

$ cat comments/ (0)