ivo@setyadi:~$ ivo.blogspot.com

# catatan teknis, sejak 2001

CWE-bench v2 Evaluasi Perbaikan Kerentanan LLM

Collinear AI merilis 100 tugas deterministik publik untuk menguji kemampuan LLM dalam menambal bug nyata. Setiap tugas mengharuskan model meng-clone repo open-source dan memperbaiki pola CWE spesifik tanpa merusak fitur yang ada. Sistem skor programatik dan lingkungan Docker memungkinkan reproduksi hasil secara lokal tanpa biaya API. Alat ini berguna untuk membandingkan open-weight models dengan API provider saat membangun defensive agents. Datanya bersifat gated di Hugging Face, sehingga pengguna wajib menerima akses sebelum memakai Harbor runner. Benchmark ini tidak bisa menggantikan full penetration testing karena hanya mencakup subset terbatas dari pola kelemahan yang sudah diketahui. sumber: huggingface.co/cwe-bench my other side: setyadi.com

Warteg kena pajak!

2010-12-01 · #Bisnis #Indonesia #Kliping

http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2010/12/01/brk,20101201-295876,id.html

Warteg Akan Kena Pajak Mulai 1 Januari 2011  

Rabu, 01 Desember 2010 | 12:27 WIB

Warteg Warmo di Tebet. Tempo/Reza Maulana

TEMPO Interaktif, Jakarta -DKI akan memberlakukan pajak restoran dan rumah makan kepada jenis usaha warung tegal mulai 1 Januari 2011. DPRD DKI telah setuju dan menunggu penomoran Peraturan Daerah sebagai pijakannya. Dengan pajak, harga setiap makanan dan minuman di warung tegal menjadi lebih mahal dari biasanya.

"Pajak yang kami terapkan 10 persen. Kami memberlakukan terhadap warung tegal karena sudah masuk dalam prasyarat objek pajak menurut Undang-Undang nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah," kata Kepala Bidang Peraturan dan Penyuluhan Dinas Pelayanan Pajak Provinsi DKI Jakarta Arif Susilo, hari ini. Potensi pajak yang akan didapatkan adalah Rp 50 miliar per tahun

UU nomor 28 tahun 2009 tertera klasifikasi sebuah restoran yaitu fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar, dan sejenisnya termasuk jasa boga/katering. "Objek pajak yang masuk dalam wajib pajak adalah usaha penyedia makanan dan minuman yang memiliki penghasilan Rp 60 juta per tahun," kata Arief.

Usaha jenis rumah makan di Jakarta lebih dari 2000 unit usaha. Dinas Pelayanan Pajak akan mengidentifikasi usaha yang sudah berpenghasilan lebih dari Rp 60 juta per tahun dan usaha yang berpenghasilan lebih kecil dari itu. Namun Arief mengakui, sebagian besar pemilik usaha rumah makan di Jakarta banyak yang sudah mapan sehingga kebijakan ini tidak terlalu menuai kontroversi.

"Kami akan mendata, lalu sosialisasi kepada asosiasi pengusahan rumah makan di Jakarta. Kami berharap kebijakan ini bisa dilaksanakan dengan baik karena dananya akan dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk prasarana publik," kata Arief.

Rencana itu dianggap memberatkan pemilik warteg. Pemilik kantin di Kebon Sirih, Muhammad Nur, 50, mengatakan kebijakan itu akan merugikan pengusaha karena harga makanan dan minuman menjadi lebih mahal dan membuat pembeli kabur.

RENNY FITRIA SARI

$ cd ~/

$ cat comments/ (0)