Skip to main content

Plastik Dapat Gantikan BBM di AS

http://www.voaindonesia.com/content/plastik-dapat-gantikan-bbm-di-as/1536410.html

Plastik Dapat Gantikan BBM di AS

Sebuah perusahaan di AS mengubah plastik menjadi bahan bakar, berpotensi mengurangi limbah plastik dan ketergantungan terhadap minyak impor.

CEO perusahaan JBI, Inc., John Bordynuik, memegang setoples bahan bakar yang diproduksi dari limbah plastik. (VOA/D. Robison)
Daniel Robinson
Plastik bisa menjadi bahan bakar di masa depan. Namun sayangnya, hanya 7 persen dari limbah plastik di Amerika Serikat didaur ulang setiap tahun, menurut Lembaga Perlindungan Lingkungan.

Sebuah perusahaan di Niagara Falls, New York, saat ini sedang berupaya meningkatkan persentase itu supaya dapat mengurangi ketergantungan Amerika terhadap minyak impor.

Mesin pembuat bahan bakar dari plastik itu disebut "monster pemakan plastik."

Setiap jam, ribuan kilogram potongan botol susu, botol air dan kantung belanja masuk ke dalam ruangan pembakaran besar. Limbah plastik tersebut berasal dari tempat pembuangan sampah di seluruh negeri.

John Bordyniuk, pemilik perusahaan JBI, Inc., menanamkan modalnya untuk proses baru pengubah plastik menjadi aneka bahan bakar tersebut.

Pertama-tama, sejumlah plastik yang berbeda-beda dan belum dicuci dilelehkan bersama.

"Kekentalannya seperti susu," ujar Bordyniuk. "Hampir seperti ketika susu yang dipanaskan di kompor. Kelihatan persis seperti itu, tapi warnanya hitam."

Bordyniuk menggunakan katalis yang dipatenkan untuk menguapkan cairan kental tersebut dan mengurai plastik menjadi unsur-unsur paling dasarnya.


"Plastik pada dasarnya adalah rantai-rantai hidrokarbon yang panjang," ujarnya.

"Apa yang kita lakukan di sini adalah dengan mengubah bentuknya menjadi kaitan dan rantai yang kita inginkan sehingga menghasilkan nilai bahan bakar yang tinggi."

Sistem tersebut menghasilkan daya sendiri, dengan 8 persen dari limbah plastik menggerakkan prosesnya.

Bordyniuk mempekerjakan orang luar untuk uji coba, dan mereka menyimpulkan bahwa hampir 86 persen dari apa yang masuk ke dalam mesin keluar sebagai bahan bakar.

Di ujung lain mesin pemakan plastik tersebut, cairan berwarna coklat muda keluar dan dialirkan ke dalam tong minyak.

"Anda bisa menggunakannya sekarang juga," ujar salah satu eksekutif JBI, Bob Molodynia.
"Itu adalah bahan bakar nomor enam, sama jenisnya dengan yang dipakai oleh banyak perusahaan besar di AS yang membayar mahal untuk bahan bakar tersebut."

JBI menciptakan beberapa tingkat bahan bakar untuk beragam industri dan menjualnya sampai dengan harga US$100 per barel melalui pengedar-pengedar nasional. Setiap barel membutuhkan biaya produksi $10 dan JBI memproduksi beberapa ribu liter minyak setiap hari.

Sekumpulan potongan plastik dari tempat pembuangan mobil rongsokan, menunggu giliran masuk ke dalam monster pemakan plastik. (VOA/D. Robison)
Perusahaan tersebut telah menandatangani kerja sama untuk membuat tempat operasi tepat di sebelah tempat pembuangan sampah plastik besar.

Bordyniuk percaya plastik akan menjadi sumber signifikan untuk bahan bakar domestik yang akan mengurangi ketergantungan AS terhadap minyak impor, dan pada saat yang sama mengurangi jumlah limbah plastik di tempat-tempat pembuangan sampah.

Tapi seberapa "hijau" proses ini saat memproduksi bahan bakar yang juga menimbulkan polisi seperti yang lain?

"Barangkali pemisahan karbon menjadi botol plastik yang dibuang di tempat sampah lebih baik daripada mengubahnya menjadi bahan bakar cair dan melepaskan serta menggerakkan banyak senyawa karbon," ujar Allen Hershkowitz, ilmusan senior dari Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam.

Ia mengatakan teknologi yang mengubah plastik menjadi minyak masih baru dan berevolusi, dan belum ada cukup data untuk menentukan apakah proses itu aman untuk lingkungan atau tidak.

Dan masih harus ditentukan apakah perubahan dari plastik menjadi minyak dapat dianggap sebagai "daur ulang," ujar Carson Maxted dari Resource Recycling, jurnal perdagangan industri daur ulang plastik.

Sejumlah perusahaan yang mengubah plastik menjadi minyak telah muncul dalam dekade terakhir, masing-masing dengan metodenya sendiri. Maxted mengatakan JBI merupakan salah satu perusahaan papan atas industri baru tersebut, sebagian karena menggunakan semua jenis plastik – sesuatu yang hanya dilakukan sedikit perusahaan lain.

"Mereka mendapat nilai dari sesuatu yang biasanya akan dibuang, yaitu plastik-plastik yang tidak mudah didaur ulang, berkualitas rendah dan jenis plastik campuran, atau plastik yang kotor," ujar Maxted. "Plastik-plastik yang tidak diterima oleh pendaur ulang."

Dan karena jumlah limbah plastik dan permintaan akan minyak begitu tinggi, Maxted mengatakan teknologi daur ulang milik JBI memiliki potensi untuk mengubah kedua industri tersebut.



Popular posts from this blog

Daftar Alamat Bank Jabar Banten (BJB) Jakarta

Alamat dan telpon Kantor Cabang , Kantor Cabang Pembantu, dan Kantor Kas Bank Jabar dan Banten yang berlokasi di Jakarta meliputi wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Timur , Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan Kantor Cabang - Bank Jabar Banten - Jakarta Nama KC Alamat Telpon Fax JAKARTA Bank DEVISA Jl.Jend.Sudirman Kav.2 Gedung Arthaloka Lt.Dasar & Lt.4 Jakarta Pusat 021-2511448, 2511449 021-2511450, 2514415 HASYIM ASHARI Jl. KH. Hasyim Ashari No. 32-34, Jakarta Pusat 021-6330676 021-6324430 MANGGA DUA Gedung Masterina Jl. Mangga Dua Raya Blok F1 No. 1-3 Jakarta Pusat 021-62204094, 62204095, 62204096 021-62204093 KEBAYORAN BARU Graha Iskandarsyah Lt. 2 JL. Iskandarsyah Raya no. 66 C Kebayoran Baru 12160 - Jakarta Selatan 021-7229777, 7207334 021-7206990, 7209941 RAWAMANGUN Jl. Pemuda No. 97 Kec. Pulogadung - Jakarta Timur 021-47861771, 47868072, 47868073 021-47863209 Kantor Cabang Pembantu - Bank Jabar Banten - Jakarta NAMA KCP ALAMAT TELPON ...

#instagram

via Instagram http://ift.tt/2c9SbXo

Bitcoin Membantu Hidup Gelandangan

http://www.wired.com/wiredenterprise/2013/09/bitcoin-homeless/ Homeless, Unemployed, and Surviving on Bitcoins BY  DANIELA HERNANDEZ 09.20.13 6:30 AM Paul Harrison, Chris Kantola, and Jesse Angle, scrounging for bitcoins outside a public library in Pensacola, Florida. Photo: Michael Spooneybarger/WIRED Jesse Angle is homeless, living on the streets of Pensacola, Florida. Sometimes he spends the night at a local church. Other nights, he sleeps behind a building in the heart of the city, underneath a carport that protects him from the rain. Each morning, he wakes up, grabs some food, and makes his way to Martin Luther King Plaza, a downtown park built where the trolley tracks used to run. He likes this park because his friends hang out there too, and it's a good place to pick up some spending money. But he doesn't panhandle. He uses the internet. The park offers free wireless access, and with his laptop, Angle watches YouTube videos in exchange for bitcoin...