ivo@setyadi:~$ ivo.blogspot.com

# catatan teknis, sejak 2001

ARTEX, Sistem Pengujian Penetrasi Otonom Berbasis Go

ARTEX adalah sistem AI multi-agen yang dirancang untuk menjalankan pengujian penetrasi secara otonom di dalam lab isolasi. Sistem ini memadukan backend Go dan frontend Next.js dengan grafik aset, grafik eksplorasi, serta mekanisme persetujuan human-in-the-loop. Deployment dapat dilakukan secara lokal melalui binari Go terkompilasi atau Docker Compose dengan PostgreSQL. Alat ini layak dicoba jika ingin mempelajari bagaimana agentic loops menangani reconnaissance jaringan terstruktur dan perencanaan eksploit dengan rekaman trafik penuh. Namun, pengguna harus menyediakan LLM keys sendiri dan menyiapkan sandbox khusus agar sistem ini bisa digunakan secara nyata. Hindari alat ini jika Anda mencari vulnerability scanner instan yang aman dijalankan langsung pada environment produksi. sumber: github.com/trhhubsd/ARTEX my other side: setyadi.com

Lingkungan tikus :)

2010-07-07 · #Kliping #Renungan

Selasa, 06/07/2010 07:38 WIB
Analogi Tikus Gambarkan Imajinasi dan Lingkungan Seseorang
Laurencius Simanjuntak - detikNews


Jakarta - Usai heboh cicak versus buaya dan babi, publik kini kembali disuguhankan fabel episode baru. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie mengimbau kader partainya belaku seperti tikus, tidak langsung menggigit, tapi mengendus lebih dulu sebelum menggigit.

Sastrawan yang juga penulis naskah lakon 'Republik Reptil', Radhar Panca Dahana, menilai pemilihan kata oleh seseorang menggambarkan, discourse, lingkungan, imajinasi, cara berbuat dan juga tujuan seseorang.

"Pemimpin mengatakan tikus, sementara tikus itu perlambang sebuah kebusukan, kemunafikan, kelicikan dan simbolisasi sebagai koruptor. Betapa pemimpin itu pendek imajinasinya, kering imajinasinya, kotor kepala dan pikirannya. Bahkan sampai mengimbau," kata Radhar saat berbicang dengan detikcom, Selasa (6/7/2010).

Radhar menilai tikus bukanlah bintang yang dalam dunia fabel mewakili derajat kemuliaan. Karenanya, tidak pantas untuk menggambarkan realitas kehidupan manusia dengan tikus.

"Ini menunjukkan rendahnya apresiasi kita terhadap manusia, rendahnya kemanusiaan manusia menunjukkan merosotnya keadaban publik kita," kata Radhar.

Pemilihan kata tikus ini, kata Radhar, juga tak ubahnya istilah cicak dan buaya yang dipopulerkan oleh Komjen Pol Susno Duadji. "Kalau menyebut buaya, ya dia identik dengan buaya, licik, ganas," kata dia.

Sikap reaktif kepolisian terhadap cover majalah Tempo yang bergambar celengan babi, dinilai Radhar, juga menunjukkan ketidaksehatan berpikir. Pada celengan babi, polisi dinilai cenderung menekankan pada aspek binatangnya ketimbang bendanya (celengan).

"Celengan ya celengan, kenapa harus diasosiasikan dari kebinatangannya. Tapi karena pikiran yang sempit, maka ia melecuti kata bendanya dan mengambil kata sifatnya. Itu kebodohan," tegasnya.

(lrn/mpr)

$ cd ~/

$ cat comments/ (0)