Roger James Hamilton tentang Tom Preston-Werner
2018-06-05 · #Tech News
Pada 2008, Tom Preston-Werner menolak pekerjaan bernilai $300 ribu dari Microsoft demi menggarap startup-nya, GitHub, yang saat itu membayarnya $0. Hari ini Microsoft membeli GitHub seharga $7,5 miliar — lebih dari 20.000 kali gaji yang ia tolak.
Tom memulai GitHub sebagai situs untuk menampung dan berbagi kode open source. Menghadapi keraguan dan kritik saat ia berhenti kerja demi mengejar mimpinya, apa yang Tom lakukan?
Ia menulis blog berjudul “How I Turned Down $300,000 from Microsoft to go Full-Time on GitHub”.
Dalam tulisan 2008 itu Tom bercerita bahwa sambil bekerja penuh waktu di perusahaan mesin pencari Powerset, ia meluncurkan GitHub bersama Chris Wanstrath dan PJ Hyett:
“Kami meluncurkan situsnya ke publik pada 10 April. TechCrunch tidak diundang. Saat itu kami masih sekadar tiga orang berusia dua puluhan tanpa sepeser pun investasi luar.”
“Saya masih bekerja penuh waktu di Powerset pada 1 Juli 2008 ketika kami tahu Powerset baru saja diakuisisi Microsoft dengan nilai sekitar $100 juta. Waktunya menarik. Dengan akuisisi itu, saya harus mengambil pilihan lebih cepat dari perkiraan: menandatangani kontrak sebagai karyawan Microsoft, atau berhenti dan mengurus GitHub penuh waktu.”
“Di usia 29, saya yang tertua di antara tiga orang GitHub, dan punya utang serta pengeluaran bulanan yang sebanding besarnya. Saya sudah terbiasa dengan gaya hidup berpenghasilan enam digit.”
“Yang makin memusingkan, istri saya Theresa sebentar lagi pulang dari kerja lapangan disertasinya di Kosta Rika. Saya akan segera berpindah dari bujangan pura-pura kembali menjadi suami.”
“Yang makin mengeruhkan keputusan, tawaran kerja Microsoft itu menggiurkan. Gaji plus $300 ribu selama tiga tahun. Uang sebanyak itu cukup membuat siapa pun berpikir dua kali soal apa pun.”
“Jadi saya berhadapan dengan ini: pekerjaan aman dengan uang terjamin sebagai orang Microsoft, atau pekerjaan berisiko dengan penghasilan tak tentu sebagai wirausahawan. Saat itu hidup atau mati. Pilih GitHub dan habis-habisan, atau ambil pilihan aman dan tinggalkan GitHub demi gerobak-gerobak uang di Microsoft.”
“Kalau Anda mau resep tidur gelisah, saya punya. Campurkan satu bagian ‘apa kata istri saya’ dengan 3.000 bagian Benjamin Franklin; aduk dengan ‘bir kapan pun kamu mau’, lalu taburi peluang kebebasan finansial.”
“Saya menyampaikan kabar itu ke atasan saya di Powerset pada hari terakhir tenggat tawaran kerja. Saya bilang saya berhenti untuk menggarap GitHub penuh waktu. Seperti atasan hebat pada umumnya, ia kecewa tapi mengerti. Ia tidak mencoba merayu saya dengan bonus lebih besar atau apa pun. Saya rasa jauh di dalam hati ia tahu saya akan pergi. Mungkin saya bahkan sempat ditawari insentif lebih besar ketimbang yang lain, karena dianggap berisiko kabur.”
“Manajer-manajer Microsoft itu licin, sungguh. Bonus retensi sudah mereka jadikan ilmu pasti. Ya, kecuali kalau yang dihadapi wirausahawan — singularitas dunia bisnis. Segalanya jadi kacau kalau ada satu orang seperti itu di sekitar.”
Tom menulis blog itu saat penghasilannya dari GitHub masih $0. Sepuluh tahun kemudian, GitHub tumbuh menjadi 28 juta developer dengan 85 juta repositori kode, menjadikannya penampung kode sumber terbesar di dunia.
Hari ini Microsoft mengumumkan pembelian GitHub seharga $7,5 miliar.
Di akhir tulisannya ia menulis:
“Pada akhirnya, sebagaimana Indiana Jones tak pernah bisa menolak kesempatan mencari Cawan Suci, saya pun tak bisa menolak kesempatan bekerja untuk diri sendiri pada sesuatu yang benar-benar saya cintai, sekalipun pilihan lainnya jauh lebih aman.”
“Kelak saat tua dan sekarat, saya ingin menengok hidup saya dan berkata ‘wah, itu sebuah petualangan’, bukan ‘wah, saya benar-benar merasa aman’.”
Tulisan Tom bisa dibaca di tom.preston-werner.com/how-i-turned-down-300k.html
Kalau Anda sedang berada di tahap perjalanan yang sama dengan Tom saat itu, lakukan hal yang sama. Tulis blog tentang kenapa Anda memilih jalan itu. Bacaannya akan berharga sekali sepuluh tahun dari sekarang.
“Bersedialah menunda kepuasan jangka pendek demi kebesaran jangka panjang.” ~ Mandy Hale
Sumber:
my other side: setyadi.com